Terima kasih,” sahut mesin pencatat presensi.

Diva—murid kelas 2—sudah menyambut saya di ambang pintu lobi. Senyum manis tersungging di kedua sudut bibirnya.

“Assalamu’alaikum, Mbak Diva,” sapa saya sembari mengulurkan tangan.

“Wa’alaikum salam,” jawab Diva sembari salim.

Tak hanya Diva, seorang gadis yang belum saya kenal juga sudah duduk di kursi tunggu teras. Ya, saya belum hafal hampir semua nama murid-murid kelas 1 A—C. Saya hampiri gadis kecil itu.

“Assalamu’alaikum, Mbak …, siapa namanya?” sapa saya sambil memperhatikan badge nama di kerudung hijaunya.

“Lea,” jawabnya sambil meraih tangan saya untuk salim.

Ups, (cium tangannya) pakai hidung, ya,” pandu saya.

Lea mengikuti arahan saya. Ia pun mengulang salim dengan benar.

“Pagi sekali sudah sampai sekolah. Diantar siapa tadi?”

“Diantar mama,” jawab Lea ramah.

Saya ajak Lea masuk ke lobi.

Lea beranjak dari tempat duduknya. Ia lantas melepas sepatu dan menentengnya menuju lobi. Di dalam lobi, tampak Pak Endro sedang menyapu menggunakan wiper lantai. Saya memasukkan sepatu saya di rak tertutup yang atapnya difungsikan sebagai tempat duduk. Posisi rak tersebut berada di sebelah kanan pintu lobi. Saya mesti membungkuk dan membelakangi pintu untuk menaruh sepatu saya.

Baca juga: Terima Kasih, Pak Slamet

Kegiatan menaruh sepatu itu membuat saya tertinggal dari Lea. Lea sudah berjalan mendahului saya. Saya berbalik menyusulnya. Belum sempat saya melangkah, sebuah pemandangan indah terhampar di hadapan saya. Desir sejuk menderu kalbu.

Sepanjang langkahnya melewati Pak Endro, Lea istikamah membungkuk!

Tangkapan layar hasil rekaman CCTV. Leya: ketiga dari kanan.

Langkah kecil Lea mematri pandangan saya. Saya melangkah maju menyusul Lea dengan rasa syukur yang membuncah. Pagi ini, saya belajar keteladanan dari seorang anak yang belum genap sebulan menjadi murid SD. Terima kasih, Lea. Semoga tak hanya saya yang beruntung menyaksikan dan meneladan kebaikanmu.

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code