Pukul 14.00. Bel berbunyi. Penanda selesainya jam sekolah. Anak-anak berhamburan ke luar kelas. Tas digendong di punggung. Sepatu ditenteng di tangan. Mereka menuruni anak tangga. Ada yang langsung menuju pintu lobi. Ada pula yang meletakkan tas di selasar depan ruang kreatif. Tak lupa, mereka menyimpan sepatu masing-masing di rak yang tersedia.

Pak Har dan Bu Dian menempatkan diri di lobi. Setiap hari, Pak Har bertugas memandu penjemputan. Hari itu, Rabu (26/08/2026), Bu Dian juga bertugas piket penjemputan. Pak Har dan Bu Dian memanggil anak-anak yang sudah dijemput. Melalui pelantang. Suara keduanya terdengar hampir ke setiap ruangan. Dari lantai 1 hingga 3. Khusus lantai 4, speaker sengaja dimatikan. Oleh sebab masih digunakan untuk mengaji kelas tahfiz.

“To Haqqi, please come to the school lobby!” panggil Pak Har.

***

Pekan sebelumnya, Pak Har sempat menyampaikan keluhan. Beliau mesti bolak-balik ke atas untuk menghampiri anak-anak yang sudah dipanggil tetapi tidak kunjung turun.

“Anak-anak asyik bermain bola di lantai 3, Bu. Hingga tidak memperhatikan panggilan,” jelas Pak Har.

Pak Har memerinci apa yang beliau alami saat itu. Saya sangat bersyukur. Pak Har menyampaikan permasalahan yang beliau alami. Dengan demikian, dapat diupayakan untuk segera ditindaklanjuti.

Keesokan harinya, saya sempatkan diri menemui anak-anak kelas 5. Di kelas mereka.

“Anak-Anak, beberapa pekan lalu, Pak Har mengalami kecelakaan. Kaki beliau bengkak dan kesulitan berjalan. Alhamdulillah, sekarang sudah sembuh. Meski masih pemulihan,” terang saya mengawali diskusi.

Anak-anak kaget. Raut wajah mereka menunjukkan ekspresi iba.

“Bu Wiwik bermaksud menyampaikan satu hal saja. Kemarin, Pak Har mengeluh. Kata beliau anak-anak kelas 5 kalau dipanggil lewat speaker tidak bersegera turun. Sehingga Pak Har harus naik dan menjemput.”

Anak-anak terlihat serius mendengarkan.

“Saat Pak Har sampai di lantai 3, ternyata Anak-Anak sedang asyik sekali main bolanya. Dan maaf, bermainnya sambil teriak-teriak. Apakah benar seperti itu?”

Beberapa anak mengangguk. Saya anggap itu mewakili semua anak—khususnya anak putra.

“Jadi, Bapak/Ibu Guru minta tolong, mulai hari ini, kalau sudah dipanggil, kalian segera turun, ya. Kejadian kemarin, Bapak/Ibu Guru maafkan. Tapi, lain kali kalau terjadi lagi, mohon maaf, kita harus menentukan kesepakatan. Menurut Anak-Anak, sebaiknya bagaimana?”

“Tidak boleh main bola, Bu!” usul salah seorang anak.

“Ada lagi?”

Hening.

“Oke. Tidak boleh main bolanya berapa lama?”

“Lima hari, Bu.”

“Ini berlaku tidak hanya bagi yang tidak segera merespons panggilan penjemputan, ya. Tapi juga kepada anak yang bermainnya sambil teriak-teriak berlebihan. Bagaimana, anak putra sepakat?”

Baca juga: Gayeng

Aklamasi. Semua anak putra menyepakati.

“Selain meringankan Pak Har, apa yang kita diskusikan hari ini juga untuk melatih kita untuk saling menghargai. Jika Anak-Anak masih ingin bermain tidak mengapa. Tetapi turun dulu. Sampaikan kepada yang menjemput. Buat kesepakatan berapa lama bermainnya.”

***

Sekitar lima menit berselang, Sultan turun dan merespons panggilan Pak Har. Saya mendengar dengan jelas kalimat yang diucapkan oleh Sultan. Saat itu saya sedang berada di dalam ruangan saya. Ruangan tersebut terletak di depan lobi.

“Pak Har, Haqqi masih tambahan ngaji.”

Saya penasaran dengan apa yang dilakukan Sultan. Saya pun mencari tahu ke lobi. Saya cari Sultan sudah tidak ada di sana. Akhirnya, saya menemui Bu Dian.

“Bu, tadi Sultan memberi tahu Pak Har kalau Haqqi sedang tambahan ngaji?” selidik saya.

Nggih, Bu Wiwik,” jawab Bu Dian.

“Sekarang Sultan di mana, Bu?” tanya saya.

“Sultan naik lagi, Bu.”

Rasa penasaran saya terjawab sudah. Tak hanya itu, kebahagiaan terselip berkat aksi Sultan. Ia rela menyempatkan diri turun dari lantai 3 demi menyampaikan satu kalimat pendek nan penuh arti kepada Pak Har.

Dan yang paling menyentuh hati saya adalah bagaimana Sultan mampu mengelaborasi makna dari diskusi kami di kelas. Kesepakatan awal yang kami buat hari itu secara spesifik hanyalah tentang bermain bola di lantai 3 dan keharusan untuk segera turun jika dipanggil. Secara harfiah, Haqqi saat itu sama sekali tidak sedang melanggar aturan; ia tidak sedang asyik bermain bola, melainkan sedang mengikuti kelas tambahan mengaji. Namun, Sultan tidak terjebak pada teks tertulis dari kesepakatan kami. Ia menangkap esensi terdalam dari diskusi kami kala itu, yaitu menghargai panggilan Pak Har. Terima kasih, Sultan!

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code