Arka adalah murid baru kelas 2. Ia baru dua minggu bergabung di kelas ini setelah pindah dari Jepang. Saya dan Bu Indah sempat waswas tentang bagaimana ia akan menyesuaikan diri dengan murid-murid lain? Apakah mudah? Tentu tidak. Culture shock tampaknya tak terhindarkan. Namun, bismillah, saya bertekad untuk membimbingnya sedikit demi sedikit.

Hari pertama Arka masuk kelas, ia mampu mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan cukup baik. Namun, saat waktu makan siang tiba, muncul tantangan. Menu makan siang hari itu adalah nasi goreng. Arka tampak tidak familier dengan makanan tersebut. Kami mencoba membujuk Arka untuk mencoba, tapi Arka menolak.

“Mengapa saya harus makan ini?” tanya Arka.

“Agar energi Arka terisi kembali.”

“Tapi Arka masih kenyang,” terang Arka.

Saya mencoba mencari berbagai alasan agar Arka mau mencoba. Tapi, tetap gagal. Hari-hari berikutnya pun, kami belum berhasil. Bahkan, ketika berbagai menu berganti kami belum menemukan cara untuk membujuk Arka.

Sabtu, 31 Mei 2025 kami janjian untuk home visit ke rumah Arka. Ingin rasanya mengenal Arka lebih dekat. Agar kami pun bisa mencari celah bagaimana cara untuk menyikapi Arka. Ustazah Layla membuka pembicaraan, saya dan Bu Indah menyimak. Sesekali kami melanjutkan pembicaraan. Banyak yang diceritakan oleh orang tua Arka. Dan kami menemukan permasalahan yang sama.

“Arka memang dari dulu sangat pemilih soal makanan, Bu. Saya juga bingung, terutama nasi.  Terdapat satu biji nasi pun, akan ia sisihkan,” keluh Mama Arka.

Dari keluhan Mama Arka, kami mendapat temuan bahwa Arka memang tidak suka makan nasi. Tetapi Mama Arka sangat berharap Arka bisa menyesuaikan diri dengan teman-temannya. Mungkin dengan melihat teman-temannya makan, akan tumbuh rasa ingin mencoba.

Kami didukung orang tua Arka untuk membujuk Arka untuk makan siang di sekolah.

“Arka, besok makan siang di sekolah, ya,” bujuk Mama Arka.

“Arka tidak mau,” jawabnya.

“Nanti kalau tidak mau, jurnalnya akan disilang,” ucap Mama Arka menakut-nakuti.

“Arka itu anaknya sangat disipilin. Jadi ia tidak mau kalau jurnalnya tidak tuntas,” ungkap Mama Arka.

“Wah, bisa jadi senjata itu, Bun,” seloroh saya.

Kami tertawa kecil.

***

Hari Senin tiba. Menu makan siang hari ini adalah tahu bacem, sup, dan buah jeruk.

Anak-anak bersiap-siap untuk berdoa. Saya berdiri di samping meja Arka. Usai doa, Arka memandangi meja biru—yang di atasnya terdapat nasi, sup, dan tahu bacem.

“Saya mau coba itu, Bu,” celetuk Arka sambil menunjuk meja biru.

“Wah, boleh. Itu enak, lo, Arka.”

Arka hanya mengambil tahu bacem. Saya tawari untuk mengambil sayur, ia enggan. Tapi saya tetap memberikan empat potong wortel di piringnya.

“Wortelnya juga harus dimakan, ya.”

“Kenapa harus makan dengan wortel?” tanya Arka.

“Iya, agar mata Arka sehat. Yuk, segera dimakan.”

Arka mulai melahap tahu bacemnya sedikit demi sedikit. Saya melihat raut wajahnya. Seperti sedang meraba-raba rasanya.

“Bu, ini enak. Rasanya kaya ayam,” ungkap Arka.

Saya tersenyum geli. Mendengar ungkapan polosnya.

“Iya. Maka dari itu harus dihabiskan, ya.”

Arka mengangguk.

Hari berikutnya, tak kalah seru. Menu makan siang hari itu sayur bayam, ayam katsu, dan buah naga. Arka mau mencoba ayam katsu dan buah naga. Ia memakannya hingga habis tak tersisa.

Akhirnya, senang sekali melihat Arka mulai berani untuk mencoba berbagai jenis makanan, meski perlahan. Orang tua Arka pun sangat berharap Arka bisa terus berkembang dan terbuka untuk mencicipi lebih banyak makanan. Semoga seiring berjalannya waktu, harapan orang tua Arka akan terwujudkan.

Semangat terus, Arka. Selamat berproses!

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code