Pagi itu, Rabu Wage, 18 Maret 2025. langit cukup redup. Saya berada di kelas untuk membimbing tahfiz kelas 1. Bu Eva di lapangan futsal untuk taking video ucapan Hari Raya Idulfitri. Alhamdulillah, tidak hujan. Kalau hujan, pasti taking video terhambat. Astagfirullah, kalaupun hujan pasti hujan yang bermanfaat.

Usai tahfiz, saya bergegas mengambil berkas jurnal BAQ dan naik ke lantai 2. Sampai di lantai 2, saya dicegat oleh beberapa anak. Mereka bersahut-sahutan. Ada satu suara yang dominan dan terdengar oleh saya. Sehingga saya fokus ke anak itu.

“Ustaz, ngajinya gimana?” tanya anak itu.

“Lha, … gimana emangnya?” respons saya.

“Bu Eva nggak ada,” sahutnya.

“Oh, iya, … Bu Eva masih di lapangan, ngajinya sama Ustaz dulu, ya,” bujuk saya memberi solusi.

Begitu saya jawab demikian, ternyata, anak-anak dengan semangatnya, bergegas masuk ke musala dan menyiapkan dampar. Menatanya dan duduk dengan rapi. Menunggu BAQ saya buka. Anak yang bertanya tadi memosisikan duduknya di dekat saya. Tangannya dilipat dan pandangannya lurus ke depan. Menandakan kalau ia sangat siap untuk mengaji.

“As-salāmu’alaikum wa rahmatullāhi wa barakātuh,” ucap saya membuka BAQ.

“Wa ‘alaikumus-salām wa rahmatullāhi wa barakātuh,” jawab anak-anak serempak.

“Kaifa ḥālukum?” tanya saya.

“Alḥamdulillāh ana bikhairin,” jawab mereka.

“Mana kaptennya?” tanya saya dengan nada khas.

Tak ada yang menjawab. Mungkin mereka tidak fokus, atau bahkan tidak tahu siapa yang jadi kapten hari itu. Sehingga kapten saya tentukan langsung. Hari itu kaptennya adalah Gabi.

Sikap berdoa!” instruksi kapten.

“Sikap berdoa,” tiru anak-anak dengan bersedekap di atas dampar.

“Tangan diangkat!” instruksi kapten lagi.

“Tangan diangkat,” tiru anak-anak lagi sambil mengangkat kedua tangan untuk berdoa.

“Kepala menunduk!” instruksi kapten lagi.

“Kepala menunduk,” tiru anak-anak lagi sambil menundukkan kepala.

“Berdoa … mulai!” instruksi kapten untuk yang terakhir.

“Berdoa mulai,” jawab mereka serentak dan berdoa pun dimulai.

Berdoa belum usai, Bu Eva datang di ambang pintu musala untuk menjemput kelompoknya. Mengisyaratkan kalau beliau sudah siap. Saya jawab dengan gestur mengiyakan. Seraya menyelesaikan doa bersama anak-anak. Usai berdoa, anak-anak kelompok Bu Eva saya persilakan untuk beranjak ke tempat mengajinya. Dan mereka pun bergegas.

Anak yang bertanya itu adalah Alzam. Ia sangat antusias untuk mengaji. Meski gurunya belum hadir, ia dan teman-temannya berinisiatif untuk bertanya ke saya. Seakan ingin mengonfirmasi nasib mengajinya.

Memang itulah tujuan Sekolah. Yang termasuk dalam standar mutu lulusan Sekolah. Yaitu senang mengaji. Alhamdulillah, sudah mulai timbul benih-benih senang mengaji pada diri Alzam dan teman-temannya. Tugas saya sebagai guru adalah memupuk, menyiram, serta merawatnya. Sehingga benih tersebut menjadi subur dan dapat dipanen di kemudian hari.

Semoga semangat mengaji terus tumbuh dan bertahan pada diri Alzam dan teman-teman. Dan semoga prestasi Alzam dalam mengaji turut meningkat selaras dengan semangatnya. Amin.

Baca juga: Kepedulian

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code