Hujan mengguyur sangat deras Jumat siang itu. Saat khatib sedang menyampaikan khotbahnya. Sehingga suasana hening khotbah bercampur dengan gemuruh hujan.
Salat Jumat pun usai. Hujan tak kunjung reda. Untung saja di bawah jok motor tersedia jas hujan. Saya pakailah jas hujan tersebut dan menembus guyuran hujan. Saya mengendarai sepeda motor cukup kencang. Walaupun hujan, saya tetap menarik gas motor dengan standar. Harusnya sih, pelan-pelan. Tapi untuk efektivitas saja. Supaya segera sampai di tujuan.
Ya, hari itu waktu masuk sekolah tak seperti biasanya. Masuk pukul 14.00 untuk Guru dan Karyawan. Sedangkan anak-anak masuk pukul 14.45. Sekolah mengadakan acara Ramadan Istimewa. Untuk memeriahkan rangkaian kegiatan sekolah pada bulan Ramadan.
Sesampainya di sekolah, saya disambut oleh beberapa anak yang sudah sampai lebih dulu. Salim dan tanya-tanya beberapa hal. Suasana masih sepi. Ditambah langit yang masih mendung.
Alhamdulillah, kegiatan sore itu berjalan dengan lancar. Kakak-kakak SMAHA membuat suasana sore itu menjadi meriah. Ya, kegiatan sore itu turut dimeriahkan oleh siswa-siswi SMA Islam Hidayatullah. Mengisi kegiatan Ramadan Istimewa dengan berbagai permainan yang meriah. Tiap sudut sekolah diwarnai dengan gemuruh tawa canda mereka. Anak-anak pun antusias mengikutinya. Mereka mengikuti dengan penuh tawa bahagia.
Waktu buka puasa pun tiba. Azan berkumandang di setiap sudut wilayah Banyumanik. Kegiatan dengan kakak-kakak belum usai. Akhirnya buka puasa terlambat hingga beberapa menit. Meski begitu anak-anak tak kecewa. Mereka tetap berbuka dengan gembira.
Buka puasa diawali dengan takjil. Anak-anak makan kurma dan minum es buah. Dilanjut dengan salat Magrib berjemaah di musala dan makan bersama di kantin. Antrean untuk makan cukup panjang. Meski begitu ketertiban tetap terjaga. Mereka antre dengan tertib. Tidak saling mendahului juga tidak saling teriak-teriak.
Antrean pun habis. Saatnya Bapak Ibu Guru ikut makan. Setelah mengambil sepiring makanan, saya mencari tempat duduk yang nyaman. Saya menemukan meja yang cukup lega. Hanya Haqqi, Rayya, dan beberapa anak lagi. Saya tidak hafal semua. Ustaz Aruf ikut duduk dengan saya.
Anak-anak pun menyelesaikan makannya. Hingga datang Khalifa mendekat ke saya. Menunjukkan piringnya yang masih ada cukup banyak nasi dan lauk yang tinggal secuil. Seakan minta izin untuk tidak menghabiskannya.
“Ustaz …,” ucap anak itu.
“Ya? Hmm …, hayo dihabiskan!” pinta saya.
Dengan ekspresi merasa bersalah, ia pun pelan-pelan memakannya. Seakan merespons pinta saya. Setelah itu perhatian saya tak terlalu fokus kepadanya. Saya fokus dengan makanan di piring saya, dan memperhatikan suasana makan di tempat itu. Hingga beberapa saat saya lihat lagi piring anak itu.
“Loh …, kok, belum habis?” heran saya.
“He-he,” senyum tipis anak itu.
“Oh, sudah kenyang?” tanya saya.
“He-he, iya,” jawabnya.
“Ya, sudah …, boleh dibereskan!” respons saya.
Saya dan Ustaz Aruf cukup kaget dengan sikap anak itu. Setelah minta izin tadi dan saya sarankan untuk menghabiskan, anak itu tak kunjung menghabiskan makanannya. Tetapi ia juga tidak beranjak dari tempat duduknya. Ia menunggu izin dari saya untuk membereskannya.
Saat dia minta izin, saya berasumsi kenapa ia tak menghabiskan makanannya. Antara sudah kenyang, atau tidak terlalu suka dengan lauknya. Maka dari itu tetap saya minta untuk menghabiskannya. Siapa tahu, setelah saya minta untuk menghabiskan ia benar-benar menghabiskan. Biasanya, sih, dia termasuk anak yang makannya cukup banyak. Saat makan siang, dia selalu mengambil dengan porsi yang cukup banyak untuk standar anak-anak.
Saya pun tidak terlalu kepo dengan alasannya tidak menghabiskan. Walaupun tak ingin menghabiskan. Tetapi ia tetap menunggu izin dari saya untuk membereskan makanannya. Itu yang menjadi perhatian saya. Masyaallah.
Saya sangat terkesan dengan komitmen Khalifa menunggu izin dari saya. Komitmen sangat dibutuhkan di segala lini kehidupan. Terutama dalam dunia pendidikan. Titik tertingginya adalah komitmen seorang hamba kepada Penciptanya. Bukankah kita harus berkomitmen untuk menjaga ketaatan kepada Allah Swt.? Wallāhu a’lam.
