Saya keluar ruangan. Menuju selasar. Murid-murid tampak berlalu-lalang. Mereka mengisi waktu sebelum bel dengan bermain. Sebagian murid kelas 3 dan 4 sudah banyak yang turun menuju lobi dan teras Sekolah. Setiap Senin pagi, terjadwal upacara bendera. Sejak beberapa pekan ini, upacara dilaksanakan di lapangan futsal. Sebelumnya, dilaksanakan di lobi. Terselip rasa syukur, anak-anak berupaya mempersiapkan diri meski belum bel.

Seorang anak laki-laki menghampiri saya. Tinggi badannnya hampir menyamai tinggi saya. Ia pun mengajak saya salim. Saya terima uluran tangannya.

“Assalamu’alaikum, Mas Mika,” sapa saya.

“Wa’alaikum salam, Bu,” jawab Mika.

Saya bermaksud beralih ke murid lain. Mereka tampak mendatangi saya.

“Bu Wiwik,” panggil Mika agak ragu.

“Iya, Mas Mika?”

Mika menunjuk dada kanannya. Saya menyalami anak-anak yang menghampiri saya. Sambil memperhatikan Mika.

“Alhamdulillah. (Badge) namanya sudah dijahit.”

Mika membalas ucapan saya dengan senyum. Saya mendekatkan pandangan ke arah badge itu. Jahitannya tampak begitu rapi.

“Ini yang menjahit mama?”

Mika mengangguk. Saya memastikan lagi. Mika kembali menjawab hal yang sama.

“Masyaallah, jahitan mama rapi sekali. Mas Mika juga hebat. Mas Mika memperhatikan dan melaksanakan apa yang Bu Wiwik pesankan pekan lalu.”

“Iya, saya mau jadi (anak yang) disiplin,” jawab Mika.

Saya merespons dengan acungan jempol. Kami pun menuju lapangan futsal bersama.

Sepekan sebelumnya, di waktu yang hampir sama, Mika menghampiri saya.

“Bu Wiwik, saya sudah membawa ini!” ucap Mika sembari menunjukkan badge namanya yang belum terjahit.

“Oh, belum dijahit, ya? Ayo, Bu Wiwik bantu.”

Saya mengajak Mika ke kelas 1. Meminta izin kepada Bu Yeni untuk mengambil double tape di lemari. Saya lantas menempelkan badge nama Mika di dada kanannya.

“Mas Mika tekan-tekan sendiri, ya. Supaya rekatnya lebih kuat.”

Mika mengikuti arahan saya.

“Alhamdulillah. Terima kasih, ya Mas Mika. Jika Mas Mika terbiasa disiplin sejak kecil, insyaallah, nanti akan terbawa hingga dewasa. Besok minta tolong mama untuk menjahitkan, ya.”

“Iya, Bu,” jawab Mika.

Pengalaman bersama Mika pagi itu patut saya syukuri. Kesungguhan dan kepatuhan Mika telah teruji. Meski terjeda tujuh hari, komitmen Mika tak diragukan lagi. Dan di balik cerita indah ini, orang tua Mika juga layak mendapatkan apresiasi. Perhatian yang diberikan menjadi bukti nyata adanya dukungan terhadap program kedisiplinan Sekolah.

Baca juga: Dukungan Orang Tua

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code