Siang itu kelas tampak ramai. Peralihan dari makan siang ke pelajaran berikutnya. Anak-anak masih dengan aktivitasnya masing-masing. Ada yang masih menikmati makan siang, mencuci piring, pakai kaus kaki, makan buah, dan membereskan isi tas. Tapi di sudut hati saya ada sedikit perasaan mengganjal. Di karpet dan lantai ada kertas-kertas kecil berserakan, sisa-sisa bahan prakarya anak-anak.
Saya membatin dan berpikir, “Dengan cara apa lagi, ya, supaya anak-anak lebih peka? Supaya mereka paham kalau kelas ini adalah rumah kedua mereka yang harus dijaga bersama?”
Tiba-tiba sebuah suara anak gadis kecil memecah lamunan saya.
“Bu Eva, bolehkah saya membersihkan karpet?” bisik Zahra lalu ia tersenyum.
“Boleh, dong,” jawab saya mantap dan membalas senyumnya lebih mengembang.
Tak butuh waktu lama, Arka, Kayhsa, dan Malik ikut bergerak membantu. Zahra sangat mbombong saya, seolah ingin lebih meyakinkan gurunya kalau Allah itu Maha Mendengar meski hanya dibatin. Hati saya juga lega, anak-anak ini ternyata mulai memahami arti tanggung jawab.
Di kesempatan lain, sebuah kepekaan yang lebih dalam datang dari Fahmi. Ia menatap ke sekeliling kelas dengan wajah sedikit murung lalu berkata, “Bu Eva, kayaknya ini nggak jadi surga, deh.”
“Kenapa, Nak?” saya balik bertanya.
“Kelasnya kotor. Surga, kan, bersih?” katanya.
Masyaallah, saya terharu mendengarnya. Rupanya, diskusi lama kami tentang “Kelasku Surgaku” masih membekas dalam hatinya. Kami pernah sepakat, bahwa surga itu bersih, indah, dan damai. Karena itu, menjaga kebersihan kelas adalah bagian dari menjaga surga kami bersama.
Tanpa banyak kata, sebagian anak langsung bergerak. Ada yang berjongkok memunguti sampah kecil di lantai dan karpet, ada yang memegang sapu, ada pula yang dengan semangat mengangkat engkrak.
Tak lama, kelas pun menjadi lebih bersih. Duduk di karpet menjadi lebih nyaman. Tidak layakkah kerja keras anak-anak diapresiasi?
