“Taf, Langit dan Fillio puasa, lo,” pamer saya.
“Iya, (saya) tau, Bu,” jawab Itaf.
Itaf segera tahu maksud perkataan saya.
“Saya juga pengin puasa, Bu,” respons Itaf.
“Alhamdulillah. Semoga Allah mudahkan.”
“Amin,” jawab Itaf sambil berlalu.
Percakapan itu terjadi pada Kamis (17/04/2025) siang. Selepas makan siang. Saya sengaja memamerkan kebaikan teman-teman Itaf. Memang tebersit harapan: Itaf termotivasi turut berpuasa. Namun, belajar dari pengalaman sebelumnya, saya tak menaruh harapan tinggi. Meski demikian, saya tetap penasaran.
Senin (21/04/2025) pagi, anak-anak menyimak kisah Ibu Kartini.
“Anak-Anak, Ibu Kartini itu seorang yang cerdas. Pada masa itu, Ibu Kartini sedang belajar Al-Qur’an. Beliau penasaran dengan makna dari ayat yang dibaca. Ibu Kartini menanyakan arti sebuah ayat kepada gurunya. Bukannya dijelaskan, Ibu Kartini malah dimarahi oleh gurunya,” terang saya.
“Kenapa, Bu?” tanya salah seorang anak.
“Pada masa itu, Indonesia masih dijajah. Oleh penjajah, para ulama dilarang mengajarkan makna ayat-ayat Al-Qur’an kepada rakyat Indonesia, termasuk Kartini. Ada yang tahu kenapa?”
“Biar rakyat Indonesia enggak pinter,” sahut Sultan.
“Iya, Mas Sultan betul. Nah, untuk menyembunyikan alasan yang sebenarnya, para ulama beralasan: Al-Qur’an itu terlalu suci. Tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apapun. Ibu Kartini yang kritis dan cerdas itu belum bisa menerima alasan gurunya. Hingga suatu ketika ….” jeda saya.
Anak-anak makin penasaran. Tampak dari sorot mata mereka.
“Lanjutkan, Bu, ceritanya,” rajuk Sultan.
“Ibu Kartini mengikuti pengajian di rumah pamannya. Seorang kiai dari Semarang yang menjadi penceramahnya. Namanya Kiai Sholeh Darat. Dalam ceramahnya, beliau menjelaskan tentang isi surah Al-Fātiḥah. Ibu Kartini sangat tertarik. Mungkin ekspresi beliau sama seperti kalian saat ini,” seloroh saya.
“Singkat cerita, Ibu Kartini berguru pada Kiai Sholeh Darat. Selain Bu Kartini, Kiai Sholeh juga punya dua murid lain yang nantinya menjadi tokoh besar. Kedua tokoh itu adalah pendiri NU dan Muhammadiyah. Melihat kesungguhan Ibu Kartini, Kiai Sholeh Darat memberi hadiah pernikahan kepada Ibu Kartini. Hadiah itu sangat berharga bagi Kartini.”
Beberapa anak menyampaikan tebakan mereka. Meleset semua.
“Hadiahnya berupa terjemahan Al-Qur’an. Terjemahan itu ditulis menggunakan huruf Arab, tapi berbahasa Jawa. Namanya pegon. Ada yang tahu alasannya?”
“Biar enggak ketahuan penjajah!” seru Qaleed.
“Yup, betul!
Seperti biasa, anak-anak selalu antusias ketika diajak berdiskusi. Diskusi berlangsung seru hingga tak terasa hampir dua jam pelajaran. Saat itu terjadwal Matematika. Bel berbunyi. Anak-anak dipersilakan menuju tempat mengaji masing-masing.
Saat jam makan siang, saya melihat Itaf mengambil lepak makannya. Selepas makan, Itaf mendekat.
“Bu Wiwik puasa?” tanya Itaf.
Saya tidak menjawab. Hanya tersenyum.
“Itaf belum jadi puasa?”
“Belum, Bu,” jawab Itaf dengan ekspresi manja.
Mengetahui ini, saya kian menurunkan harapan. Pun Kamis siang berikutnya. Itaf terlihat menyantap menu makan siangnya. Bahkan, ia nembung minta buah dari katering Sekolah.
Saya memang menurunkan harapan. Namun, bukan berarti tidak berharap. Dalam hati, masih saya selipkan setitik harapan. Apalagi, beberapa waktu sebelumnya, Itaf mengaku puasa Ramadannya bolong sehari. Gap antara harapan dan kenyataan itu berkecamuk dalam benak saya. Namun, seiring berjalannya waktu, setitik harapan itu terlupakan.
Hingga Senin pagi ….
“Assalamu’alaikum, Mas Itaf Tajusa, anaknya Bu Asih,” sapa saya. “Pagi-pagi, kok, enggak semangat,”
“Enggak, Bu, saya biasa aja, kok!” balas Itaf.
“Emang tadi belum sarapan?” selidik saya.
“Hari ini, kan, saya puasa, Bu.”
Seketika, hati saya berdesir. Sejuk. Sejenak tergeming. Saya tersadar saat Itaf melepas uluran tangannya setelah salim. Pandangan saya terus mengekor punggung anak itu hingga tak terjangkau lagi. Itaf menaiki tangga. Menuju kelasnya. (A2)
