Kamis pagi (13/03/2025), jam pertama setelah tahfiz terjadwal Matematika. Bu Puput yang mengajar. Beliau menjelaskan ciri-ciri bangun datar. Lima hingga sepuluh menit awal pelajaran, Sultan masih mengikuti pelajaran. Setelahnya, ia mulai bosan.
“Sultan, perhatikan Bu Puput,” perintah saya.
Sultan, yang duduk di samping kanan Bu Puput, mendekati saya.
“Sultan bosen, Bu,” rengeknya.
Tiba-tiba tebersit ide. Meski sempat ragu, tetap saya lontarkan.
“Sultan nulis tegak bersambung, ya. Bu Wiwik ajari,” usul saya.
Sultan setuju.
“Sultan ambil buku garis tiganya dulu,” pinta saya.
“Buku Sultan enggak ada, Bu.”
“Astagfirullah. Buku Sultan sudah hilang dua kali, lo. Bu Wiwik kasih lagi, tapi harus dijaga, ya.”
“Oke, Bu!”
Itulah uniknya Sultan. Dia akan mencari aktivitas lain untuk membunuh kebosanan. Biasanya, ia mengisi waktu rawan itu dengan membaca buku dari sudut baca kelas. Ketika Sultan menerima usul saya, saya cukup takjub. Biasanya, Sultan kurang suka menulis.
Beberapa hari sebelumnya, teman-teman Sultan juga berlatih menulis tegak bersambung. Hari itu Sultan tidak masuk sekolah karena sakit.
Sultan mengambil kursi kecil berwarna hijau. Ia meletakkan kursi itu di samping meja saya. Meski terlalu rendah dan tidak nyaman, Sultan bersikukuh tetap menggunakan kursi itu.
Saya masih belum punya gambaran tentang kemampuan Sultan dalam menulis tegak bersambung. Oleh karenanya, saya awali dengan mencontohkannya. Frasa pertama saya tulis di buku Sultan. Sultan menyalin di bawahnya.
Tulisannya belum sempurna. Letak beberapa huruf yang digoreskan Sultan belum tepat di bilah baris yang seharusnya. Namun demikian, kesungguhan Sultan nyata terlihat. Wajahnya menyiratkan semangat dan kebahagiaan. Melihat kesungguhan Sultan, saya pun kian mantap dengan ide kegiatan yang sempat saya ragukan.
“Lagi, Bu,” rengek Sultan.
Rupanya Sultan mulai ketagihan. Saya iakan. Sebelumnya, saya memberikan feedback atas pekerjaan terdahulunya.
Pada percobaan kedua dan ketiga, Sultan masih mengulang kesalahan yang sama. Namun, ia tak menyerah. Sultan makin bombong tatkala teman-temannya mendekat.
“Sultan, tulisanmu bagus banget!” puji Qaleed.
Sultan menyeringai.
“Ini yang nulis Sultan, Bu?” selidik Itaf.
Saya mengangguk.
“Wah, Sultan tulisannya bagus,” komentar Itaf.
“Mau lagi, Bu,” pinta Sultan.
“Iya, tapi Sultan kerjakan tugas dari Bu Puput dulu, ya?”
“Oke, Bu!” jawab Sultan mantap.
Saya makin takjub dengan yang saya alami. Tanpa banyak ba-bi-bu, Sultan mengikuti arahan saya. Biasanya saya harus mengeluarkan jurus-jurus khusus untuk merayu Sultan.
Dalam waktu singkat, Sultan menyelesaikan tugas dari Bu Puput dengan baik dan penuh semangat. Setelah mengantre untuk dinilai, Sultan kembali ke meja saya. Ia menagih janji saya.
Saya menuliskan frasa keempat. Masih tegak bersambung. Kali ini saya tulis huruf “a” di bilah pertama, “b” di bilah kedua, dan “c” di bilah ketiga. Begitu pula di bilah tempat Sultan menulis. Saya tulis “a-b-c” dan saya jelaskan kepada Sultan cara menempatkan huruf yang hendak ia salin. Sultan langsung paham dan menerapkannya.
“Nah, itu baru betul, Sul!” puji saya.
“Sultan bisa kalau ada ‘a-b-c’-nya, Bu,” respons Sultan.
Kegiatan menyalin tulisan tegak bersambung ini berakhir begitu terdengar bel istirahat.
“Sultan mau lagi, Bu.”
“Sultan istirahat dulu. Nanti, kalau ada waktu kita lanjutkan lagi, ya.”
“Iya, deh,” jawab Sultan.
Belum sempat saya menutup buku Sultan, Kalynn mendekat. Ia pun memberi pujian atas tulisan Sultan. Sayang, Sultan tak mendengar pujian temannya itu.
Beberapa kali Sultan mengajak menulis tegak bersambung lagi. Saya belum bisa memenuhinya karena belum memungkinkan. Bersyukur, Sultan berbesar hati mau menerima. Aha! Saya bisa memanfaatkan ketagihan Sultan—menulis tegak bersambung—ini menjadi jurus tambahan untuk membunuh kebosanan yang (nanti akan) dialami Sultan.
