Perasaan déjà vu yang saya alami di tulisan “Gayeng” masih terasa. Setiap sebelum memulai pelajaran, ada saja bahan diskusi yang dilontarkan anak-anak. Meski hanya anak putra saja yang aktif berpendapat, suasana gayeng tetap kentara.

Namun sayangnya, “kegayengan” itu tak terjadi saat anak-anak berdoa. Sebagian besar anak berdoa dengan tidak bersemangat. Suaranya lirih, sikapnya juga belum khusyuk. Saat kapten memberi aba-aba pun, lisan anak-anak enggan mengikuti.

Saya merasakan fenomena itu sejak hari pertama di kelas 3. Sengaja, saya tidak serta merta mengulasnya. Awalnya saya menduga, mungkin anak-anak memang sedang tidak bersemangat. Namun, dugaan saya ternyata salah. Hari-hari berikutnya, lantunan doa anak-anak masih sama. Terasa hambar, kurang gereget.

“Anak-Anak, beberapa hari ini Bu Wiwik mengamati doanya kelas 3,” tutur saya, mengawali refleksi.

“Tapi, setiap kali berdoa, kok, tidak kompak. Suaranya juga pelan,” lanjut saya.

Meski diam, anak-anak tampak mengaminkan pernyataan saya.

“Ada yang ingin disampaikan?” pancing saya.

“Anak-Anak merasa demikian juga atau tidak?”

“Iya, sih,” tutur Qaleed.

“Baik. Terima kasih, Mas Qaleed, sudah mengakui. Selama beberapa hari ini, Bapak/Ibu guru berdoa dengan suara keras, tetapi Anak-Anak suaranya pelan. Mulai nanti siang, saat doa pulang, Bu Puput dan Bu Wiwik tidak ikut bersuara. Bu Guru pengin mendengar semangat dan kekompakan kelas 3,” tutup saya.

Setelah refleksi singkat tersebut, saya mempersilakan anak-anak menuju tempat tahfiz masing-masing.

Hari berikutnya, saya mengingatkan anak-anak sebelum berdoa. Bersyukur, doa pagi itu terasa lebih kompak dan semangat. Anak-anak putra bersuara lantang namun tetap wajar.

“Terima kasih, Anak-Anak. Hari ini doanya lebih semangat daripada kemarin. Anak putra sudah bersuara semua. Terima kasih juga untuk Mbak Nadia dan Mbak Cemara yang sudah bersuara lantang. Semoga, semua anak putri bisa mencontoh Mbak Nadia dan Mbak Cemara. Anak putri sikap berdoanya sudah bagus. Sudah khusyuk. Tinggal dilantangkan lagi suaranya, ya. Kalau anak putra, kebalikannya, nih. Suaranya lantang, tapi, sikapnya kurang khusyuk. Ada yang hendak menyampaikan pendapatnya?”

“Tadi saya berdoa sambil mainan kuku, Bu,” aku Daffa.

Saya lirik Ridho. Ridho pun tersenyum. Senyum tanda pengakuan.

“Alhamdulillah. Terima kasih, Mas Daffa sudah mau jujur. Ada lagi yang tadi berdoa sambil mainan kuku?”

Beberapa anak putra mengangkat tangan. Jempol kanan saya acungkan ke arah mereka.

“Teman-Teman, kan, sudah tahu bagaimana adab yang baik saat berdoa. Jadi, kita kuatkan lagi, ya. Mari kita memohon kepada Allah dengan cara dan sikap yang terbaik. Insyaallah, Anak-Anak bisa,” tutup saya.

Hari ketiga sejak saya melakukan refleksi, lantunan doa anak-anak sudah kembali lantang dan cukup khusyuk. Tak perlu lagi saya mengingatkan sebelum berdoa. Namun, belum tentu ini telah tuntas. Pengawalan, evaluasi, dan penguatan tidak boleh berhenti. Begitu melihat ada gejala, guru mesti segera mendiagnosis dan mencari obatnya.

Satu “penyakit” terdiagnosis dan terobati dalam waktu 3 hari. Faktanya, dengan dua puluhan murid di kelas, penyakit-penyakit lain juga butuh segera diresepkan obatnya. Semoga para guru cum “dokter” ini piawai mendiagnosis dan meramu obat yang pas dan mujarab. (A2)

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code