Sabtu, 19 April 2025
Hari ini saya berangkat dari kos menuju Sekolah sedikit mepet waktu masuk kerja. Untungnya, jalanan tidak terlalu ramai. Jadi, saya bisa mengendarai motor sedikit lebih cepat. Akhirnya, pukul 06.55 saya sampai di Sekolah.
Pada hari Sabtu, biasanya seluruh pengabdi Yayasan Abul Yatama menghadiri kegiatan kajian rutin. Kajian ini membahas berbagai topik, seperti fikih, hadis, dan akidah. Biasanya menghadirkan ustaz yang sudah berpengalaman dalam mempelajari kitab-kitab tersebut. Namun, hari ini sedikit ada perubahan.
Saya baru menyadari bahwa pada pukul 06.45 saya menerima pesan dari Pak Kambali yang memberitahukan bahwa kajian rutin diliburkan dan diganti tadarus di ruang Waka.
Tadarus dibuka oleh Pak Kambali dengan doa dan bacaan surah Al-Fatihah. Setelah itu, tadarus dilanjutkan sesuai pembagian yang sudah disampaikan oleh Ustaz Aruf di grup WhatsApp. Saya mendapatkan jatah membaca lima halaman, yang mencangkup surah Al-Ma’ārij, Nūh, dan Al-Jinn. Setelah selesai tadarus, acara dilanjutkan dengan refleksi pengabdi yang dipimpin oleh Pak Adhit. Kami juga membahas tentang acara Sekolah yang akan datang serta soal olimpiade IKMC yang dibagikan kepada anak-anak Kamis kemarin.
Pukul 09.00, saya bersama Bu Indah berangkat untuk home visit ke rumah Azza. Kami mengikuti petunjuk dari Google Maps yang sudah dibagikan oleh Ibu Ida, ibunda Azza. Sesampainya di sana, kami disambut oleh Bu Ida, suaminya, Azza, dan adiknya yang bernama Aca.
Kami pun mulai berbincang seputar keseharian Azza di sekolah dan di rumah.
“Mbak Azza kalau di rumah salat lima waktu, tidak, Bu?” tanya saya.
“Salat lima waktu, Bu. Tapi yang masih PR itu salat Subuhnya,” jawab Bu Ida.
“Kenapa, Bu?”
“Sulit dibangunkan, Bu.”
“Tapi tetap salat, Bu?”
“Njih, Bu.”
“Alhamdulillah. Yang penting sudah ada tanggung jawab, njih, Bu, untuk melaksanakannya.”
“Ustazah Layla pernah bilang, Bu, kepada anak-anak. Kalau kelas 2, masih pada tahap belajar untuk melaksanakan salat lima waktu. Walaupun Subuh bangunnya kesiangan, tetap harus dilaksanakan. Setelah tanggung jawabnya sudah ada, kemudian akan dibiasakan untuk tepat waktu,” lanjut saya.
“Kalau salat Isya, justru Azza yang sering mengingatkan saya, Bu. Terkadang saya masih sibuk dengan kerjaan, jadi salat Isyanya sekalian sebelum tidur. Pasti Azza bilang ‘Umi, salat dulu, nanti keburu ngantuk,’ katanya.”
“Azza bisa jadi alarm, ya, Bu,” celetuk saya sambil tertawa kecil.
“Njih, Bu.”
Dari perbincangan singkat pagi itu, saya belajar. Setiap anak mempunyai proses masing-masing, tak terkecuali Azza. Azza mungkin belum sempurna dalam melaksanakan salat tepat waktu, namun kesadaran dan rasa tanggung jawabnya sudah mulai tumbuh. Itu merupakan sesuatu yang berharga. Selanjutnya, semoga Azza bisa melanjutkan prosesnya untuk melaksanakan salat lima waktu tepat waktu. Semangat, Azza!
Baca juga: Kebaikan
