22/03/2025
Libur panjang Idulfitri telah tiba, saatnya untuk meninggalkan rutinitas sehari-hari dan menikmati waktu bersama keluarga dan saudara. Hari libur pertama, saya memilih untuk tetap di rumah dan menikmati waktu luang dengan merebahkan diri di kasur yang akhir-akhir ini jarang sekali tersentuh.
Siangnya saya menyelesaikan berbagai macam pekerjaan rumah. Malamnya, setelah Isya saya memutuskan untuk bersantai dengan menggulir-gulir ponsel. Saya cari konten menarik yang bisa menghilangkan rasa bosan.
Tak terasa, saya bermain ponsel hingga tertidur. Terbangun kembali pada pukul 00.05. Saya kembali membuka ponsel. Ada pesan masuk via WhatsApp. Saya buka. “Assalamualaikum, Bu Puput. Bu, alhamdulillah ini Daffa ikut iktikaf. Saya kira dia bakal ngambek, ternyata sangat excited sekali ikut iktikaf sama eyangnya,” tulis mama Daffa, yang terkirim pukul 23.09.
Biasanya, kalau terbangun, saya kembali tidur. Kini, dengan mata berbinar saya segera membalas pesan tersebut, “Masyaallah, keren sekali, Mas Daffa. Itu kemauan Mas Daffa sendiri Bunda?”
“Iya, Bu. Karena saya cerita tentang malam Lailatulqadar, terus dia pengin. Tadi habis Tarawih sempat tidur sebentar, jam 10.30 berangkat ke tempat iktikaf,” balas mamanya.
“Masyaallah, sudah malam tapi tetap bangun untuk iktikaf itu keren sekali, Bunda. Cerita Bunda tentang malam Lailatulqadar juga pasti keren sekali. Hingga membuat Mas Daffa penasaran dan excited ikut iktikaf di masjid,” balas saya.
“Ini saya lihat, anaknya disuruh merem sama Eyangnya, biar bisa ikut salat qiamulail, Bu. Mohon doanya, ya, Bu Puput, semoga bisa istikamah mendampingi Daffa, karena saya masih banyak kurangnya, apalagi Daffa sekarang sering ditinggal dinas juga.”
“Begitu juga kami, Bunda. Bapak/Ibu guru juga mohon doanya agar dimudahkan dalam membersamai anak-anak. Semoga semangat Mas Daffa dalam mengikuti iktikaf di masjid bisa menjadi inspirasi bagi teman-teman lainnya.”
Begitulah saya dan mama Daffa berbalas pesan. Saya cukup terkejut dengan cerita mama Daffa. Bagaimana anak seusia Daffa mau melaksanakan iktikaf di masjid. Sebelumnya, ia sempat tertidur dan bangun di tengah malam untuk berangkat iktikaf. Jika berkaca pada diri sendiri, mungkin akan sulit bagi saya terbangun dan berangkat ke masjid. Namun, Daffa bisa. Ini menunjukkan bahwa ia mau mencoba. Saya pun tak sabar ingin segera mendengar cerita dari Daffa mengenai pengalaman pertamanya melaksanakan iktikaf.
Baca juga: Berproses
11/04/2025
Anak-anak mulai masuk sekolah. Awal pertemuan, sekolah mengadakan halalbihalal untuk seluruh warga SD Islam Hidayatullah 02. Sebelum halalbihalal dimulai, saya teringat Daffa dan ceritanya saat melaksanakan iktikaf. Saya pun mendekati Daffa.
“Daffa, kemarin ikut Eyang iktikaf, ya?” pancing saya.
“Iya, Bu. Saya waktu di masjid mengaji sampai 2 halaman.”
“Membaca Al-Qur’an?” tanya saya memastikan.
“Iya, saya juga ikut salat qiamulail, tapi cuma 2 rakaat, karena saya enggak kuat, Bu. Rasanya ngantuk banget.”
“Enggak masalah, Daf. Itu sudah keren, lo. Daffa mau bangun malam-malam untuk berangkat ke masjid. Waktu sudah sampai masjid, Daffa membaca Al-Qur’an dan salat malam. Wah, itu keren sekali,” puji saya.
“Terima kasih, Bu,” ucapnya dengan tersenyum bangga.
Dari pengalaman Daffa ini, saya belajar bahwa perbuatan baik, sekecil apa pun, memiliki nilai yang besar. Meskipun awalnya berat, tapi dengan ketekunan, insyaallah akan menjadi kebiasan yang baik.
Baca juga: Maaf
