“Bismillah, selamat siang, Ustaz Adhit. Perkenalkan, saya Uni, orang tua dari Devandra Arkaan, murid baru, pindahan dari Makassar. Izin bertanya. Pak Ustaz Adhit, untuk seragam a.n. Devandra apakah bisa saya ambil sore ini?” tanya seorang wali murid SD Islam Hidayatullah 02.

“Baik, Bunda, izin menjawab, njih, untuk pengambilan seragam insyaallah kami rencanakan sekalian dengan acara PGOTW besok pagi. Supaya Ayah Bunda tidak bolak-balik ke sekolah. Namun jika besok pagi bunda berhalangan hadir, bisa diambil hari ini, Bunda,” jawab saya.

“Iya, Pak Guru. Saya berhalangan hadir besok. Kalau begitu, saya ambil sekarang, njih.”

“Baik, Bunda, insyaallah kami tunggu,” tutup saya pada percakapan WhatsApp.

Waktu itu, Jumat, 19 Juli 2024, pukul 13.59. Jam kepulangan guru dan karyawan adalah pukul 14.00. Namun, jika masih ada tugas yang harus diselesaikan, waktu kepulangan menyesuaikan. Maka saya hari itu tidak pulang tepat waktu. Untuk menyelesaikan salah satu tugas Sekolah. Yaitu pembagian seragam siswa baru. Bu Uni, yang mengirim pesan ke saya perihal pengambilan seragam, adalah salah satu wali murid kelas 3 dan kelas 1.

Senin, 22 Juli 2024. Hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang. Pagi itu suasana sekolah diramaikan dengan kedatangan siswa baru maupun lama.

Lagu “Mars Hidayatullah” berkumandang. Apel pagi dilaksanakan. Walaupun setelah libur panjang, jiwa kompetisi kelas 2 dan 3, untuk berdiri pada barisan pertama saat apel pagi, masih melekat pada beberapa anak. Semoga sikap tersebut segera menjadi virus menular kepada adik kelas mereka.

Sedangkan kelas 1 masih harus mendapatkan bimbingan dan arahan secara intensif untuk melaksanakan apel pagi dengan baik. Mereka diajari baris-berbaris. Dengan sikap lugu mereka, ada yang masih belum paham instruksi “siap gerak!”, “lencang depan gerak!” dan sebagainya. Maka guru harus secara intens mengajari mereka.

Apel pagi selesai, anak-anak masuk kelas. Tahun ajaran 2024/2025 ini saya, yang mendapatkan amanah untuk ikut mendampingi guru kelas, berjalan pada barisan paling belakang setelah anak-anak. Dilanjutkan duduk menghadap ke papan tulis.

Terdengar suara lirih salam dari ambang pintu kelas 1.

“Assalāmu’alaikum,” sapa anak itu.

“Wa’alaikumussalām,” jawab saya.

“Rafka,” ucap anak laki-laki dengan tas di punggungnya.

“Oh, Rafka, ya, silakan ini papan namanya, lalu meletakkan tas dan ikut duduk bersama teman-teman, ya!” perintah saya.

Tepat di belakangnya, anak laki-laki lebih tinggi dari yang pertama.

“Deva,” ucapnya.

“Oh, Deva,” jawab saya, sudah paham maksudnya.

Ya, Deva belum tahu ruang kelasnya. Deva adalah kakak Rafka. Saya pun mengantarkan Deva ke kelas 3. Dengan mengetuk pintu dan salam. Dan disambut oleh Bu Shoffa.

Hari ke-2, Sekolah mengadakan kegiatan bersama antara kelas 1, 2, dan 3. Anak laki-laki mendapatkan kesempatan untuk bermain futsal persahabatan. Saya bagi menjadi enam tim. Dengan masing-masing tim terdiri dari kelas 1, 2, dan 3.

Pertandingan pertama telah usai, dilanjutkan pertandingan kedua. Rafka bermain di pertandingan kedua. Sebelum peluit ditiup, Rafka menghampiri saya.

“Ustaz, saya tim sini, kan? Berarti nyerangnya ke sana, ya? Nendangnya ke sana, ya?” tanya Rafka memastikan, dengan menunjuk ke arah gawang lawan. Rafka kemudian menempatkan diri di posisi terdepan timnya.

Pertandingan usai, dan tim Rafka memenangkan pertandingan. Saya berpikir sekejap. Masyaallah,  betapa pentingnya bertanya. Sehingga dalam melakukan sesuatu harus selalu ada dasarnya. Seumur Rafka yang baru masuk jenjang SD dan baru 2 hari masuk sekolah, sudah mempraktikkan sifat seorang murid. Yaitu haus akan informasi, ilmu, dan pengetahuan.

Saya yakin, anak yang senang bertanya bukan berarti bodoh. Justru anak itu pandai mengondisikan dirinya sendiri. Saat dirinya merasa tidak tahu akan suatu hal, maka yang harus dilakukan adalah bertanya. Bukan malah melakukannya tanpa didasari ilmu. Wallāhu a’lam.

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code