“Bu Shoffa, ngaji-nya di mana?” tanya dua anak saat berpapasan dengan saya di anak tangga. Mereka berniat menjemput saya, yang tak kunjung tiba di lantai dua.
“Kayak biasanya saja gak pa-pa. Di kantin,” jawab saya.
Hari itu, kali pertama saya membersamai anak-anak tahfiz di kelompok tersebut. Baca juga: Terkesima.
Hari pertama terlampaui. Tiba hari kedua, murajaah surah selanjutnya: Al-Fajr. Sebelum setoran hafalan per individu, saya ajak mereka untuk sambung ayat terlebih dahulu. Tujuannya, agar saya bisa melihat sejauh mana daya ingat mereka terhadap hafalan yang sudah dihafal. Karena, pada dasarnya sambung ayat dan murajaah bersama sangatlah berbeda. Dalam sambung ayat, anak ditantang untuk mengingat dan melanjutkan bacaan secara mandiri. Sedangkan dalam murajaah bersama, anak cenderung bisa mengikuti suara teman atau hanya sekadar mengekor.
Dan, benar saja. Saat sambung ayat dimulai, mayoritas anak masih terbata-bata melafalkan. Huruf terbalik-balik, ayat lompat-lompat, bahkan ada yang tanpa sadar nyambung ke surah lain.
Saya sempat bingung. Tepatnya, kemrungsung.
“Bagaimana ini?” batin saya.
Saya tidak tahu langkah apa yang harus saya ambil. Pasalnya, saya diberi amanah untuk membersamai tahfiz delapan anak. Mereka sudah hafal dari surah An-Nās hingga surah At-Takwīr. Dan ternyata, banyak hafalan yang mulai terlupa. Tentu, hal ini bukanlah salah anak sepenuhnya. Kami-lah yang lalai dalam membersamai.
Tak berhenti di situ. Saya putuskan untuk mengajak anak-anak murajaah kembali. Tentu, kali ini bukan sambung ayat. Melainkan murajaah bersama.
“Teman-Teman, besok saat tahfiz membawa Al-Qur’an atau juz amma, ya,” pesan saya. Baru langkah itu yang terpikirkan. Jujur, saya belum tahu pasti eksekusinya mau bagaimana.
Keesokan harinya, anak-anak sudah siap dengan Al-Qur’an masing-masing. Pertama, saya mengajak mereka untuk melafalkan surah Al-Fajr bersama dengan melihat mushaf sepenuhnya. Setelah itu, melafalkan surah Al-Fajr tanpa melihat mushaf. Lalu, saya ajak sambung ayat.
“Ada yang mau setoran?” tawar saya.
“Mmm. Saya, Bu. Tapi coba dulu, ya. Takut salah,” aku Daffa dengan ragu.
“Gak pa-pa. Yang penting Daffa yakin. Bismillah. Nanti Bu Guru bantu,” ucap saya memberi suntikan semangat. “Teman-Teman, silakan menyimak, ya. Kalian boleh ikut membaca tapi tanpa suara. Hanya gerakan bibir saja. Biar Daffa bisa fokus,” lanjut saya.
Daffa mulai melafalkan hafalan surah Al-Fajr. Anak-anak menyimak dengan antusias.
“Alhamdulillah. Daffa keren, lo! Hafalannya lancar, ya, Teman-Teman,” puji saya. “Padahal tadi takut salah. Eh, ternyata hanya diingatkan Bu Guru dua kali saja. Itu pun Daffa bisa membenarkan sendiri, ya? Nah, Bu Guru yakin Anak-Anak, tuh, bisa. Asalkan mau berusaha dan berdoa. Terima kasih, Daffa!” sambung saya.
“Nah, besok siapa yang mau setoran?” tanya saya.
Adit mengangkat tangannya, “Saya coba dulu, ya, Bu.”
Qaleed dan Fillio pun mengikuti jejak Adit.
Keesokannya, saya melihat kesungguhan anak-anak. Alhamdulillah. Hasilnya patut disyukuri. Begitu pun hari selanjutnya. Baca juga: Cara Baru.
Sejatinya, dalam proses menghafal yang paling penting bukanlah seberapa banyak hafalan baru yang ditambahkan. Melainkan bagaimana menjaga dan merawat hafalan yang sudah dihafal.
Lagi dan lagi. Tak hanya mereka yang sedang berproses. Saya pun sedang menjalani proses: belajar mengatur strategi, belajar mencari ritme, dan belajar menjadi guru yang tak sekadar mengajar materi, tapi juga memahami setiap anak yang sedang tumbuh dengan caranya masing-masing.
