“Terima kasih,” sahut mesin pencatat presensi. Ternyata waktu yang tercatat tidak sesuai. Hal ini terjadi akibat listrik padam sebelumnya. Saya melirik jam tangan. Pukul 06.08. Saya memasukkan sepatu saya di rak sepatu guru.

“Kotor sekali,” batin saya begitu memasuki area lobi. Bu Naim sudah tiba di sekolah sebelum saya. Beliau menginisiasi menulis presensi secara manual di buku yang telah disediakan di lobi. Bu Naim hadir dua menit sebelum saya.

Biasanya, saat saya tiba di sekolah, Pak Hendro—petugas kebersihan lantai 1—sudah membersihkan area lobi. “Mungkin beliau izin,” senandika saya.

Setelah menata barang-barang dan melaksanakan rutinitas pagi, saya keluar ruangan menuju lobi. Beberapa anak sudah datang. Mereka bermain di area lobi. Dua di antaranya adalah Djati (kelas 1B) dan Abee (kelas 2). Saya panggil keduanya.

“Mas Djati, Mas Abee, di kelas ada sapu dan cikrak?” tanya saya.

“Apa?” respons Abee.

“Apakah di kelas ada sapu dan cikrak?” ulang saya.

“Ada, Bu!” jawab Djati sembari berjalan ke arah tangga.

Melihat aksi tanggap Djati, Abee pun paham dengan apa yang saya maksudkan. Abee menuju kelasnya melalui tangga utara.

Djati sudah tiba lebih dulu. Saya meminjam sapu dan cikrak yang diambil Djati. Saya menyapu sebagian kecil dedaunan.

“Mas Djati mau coba?” pancing saya.

Djati mengangguk. Saya memberikan kedua peranti itu.

Abee menyaksikan aktivitas kami. Ia pun meniru yang dilakukan Djati. Senyum kemenangan tersungging di bibir saya.

Ups, cara mereka menyapu masih terlihat kaku. Mereka memegang sapu seperti anak Pramuka memegang tongkat saat baris. Sungguh tak nyaman dipandang. Apalagi dipraktikkan.

Abee (kiri) dan Djati (kanan) menyapu lantai lobi

“Mas Abee, memegang sapunya begini, ya,” tuntun saya sembari membetulkan posisi tangan Abee.

Djati mengamati interaksi saya dengan Abee. Ia mencoba mengubah posisi tangannya. Namun, Djati masih tampak kesulitan. Saya pun menuntun Djati membetulkan posisi tangannya.

Keduanya melanjutkan menyapu lantai. Tanpa sepengetahuan mereka, saya mengambil foto mereka. Saya lantas menjadikan foto tersebut sebagai status WhatsApp. Tak lupa, saya menandai bunda Djati.

Baca juga: (Bukan) Ngakali

“Ya Allah, pinternyaaa. Terima kasih banyak, Bu Wiwik, untuk kiriman fotonya😻🤎,” respons bunda Djati.

“Njih, Bunda. Saya manfaatkan energinya Mas Djati yang berlebih-lebih itu.☺️ Terima kasih kembali, Bunda🙏🏻😇,” jawab saya.

Usai menutup percakapan, saya membuka status WhatsApp bunda Djati. Salah satu foto pada status beliau cukup membuat saya kaget sekaligus kagum. Di sana, tampak Djati dan kakaknya–Kaisar–tengah menyiram tanaman. Mereka berdua mengenakan seragam merah putih. Lengkap dengan dasinya.

“Lah, ini (anak-anak) juga piket siram toga, Bun😅?” selidik saya.

“Hahaha. Aslinya yang piket mamanya, yang disuruh anaknya 🤣. Ternyata mereka mau-mau aja,” kelakar bunda Djati.

“Setuju, Bun. Kita berdayakan tenaga mereka😂. Anak seusia mereka masih seneng kalau ‘diakali’, Bun😇.”

“Iya, lho, Bu. Bener banget itu,” tutup bunda Djati.

Apa yang saya alami pagi itu mengingatkan saya pada kisah serupa. Sekitar empat tahun yang lalu. Cerita tersebut terekam di sini: Ngakali.

Bersyukur, “ngakali” kali ini mendapat dukungan penuh dari bunda Djati. Dan saya meyakini, bunda Abee pun akan rela saya mengakali putranya. Terima kasih, Djati dan Abee. Atas kesempatannya sehingga saya bisa ngakali (lagi). Semoga berfaedah.

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code