Riuh rendah suara senda gurau anak-anak terdengar jelas dari ruangan saya. Usai mengemas mukena, saya sempatkan keluar ruangan. Sejenak, saya mengamati aktivitas anak-anak. Bersyukur, mereka bermain dengan wajar. Beberapa anak menghampiri saya. Mereka mengajak saya salim.
Saya kembali masuk ruangan. Sejak beberapa hari lalu, ruangan tersebut digunakan untuk menyimpan barang. Mulai dari ATK hingga media pembelajaran. Barang-barang tersebut dikemas dalam beberapa kardus.
Saya membawa beberapa barang. Untuk dipindahkan ke ruang arsip. Saya lantas menatanya di salah satu lemari. Saat memasuki ruang arsip, saya sengaja tidak menutup pintu. “Hanya sebentar,” pikir saya.
Murid-murid kelas 2 tampak sedang bermain di lobi. Mereka bermain kejar-kejaran. Setelah selesai menata barang-barang yang saya bawa, saya pun kembali ke ruangan saya. Masih ada tiga kardus besar dan beberapa tumpukan barang di sana. Sebuah ide tebersit.
Saya memanggil tiga anak yang sedang bermain di lobi. Adys, Gabi, dan Celline merespons panggilan saya. Ketiganya mendekat lalu salim. Asha yang tidak saya panggil pun turut mendekat.
“Ada apa, Bu?” tanya Asha, sembari salim.
Napas mereka masih terengah-engah. Keempat anak tersebut sedang bermain lari-larian di lobi saat saya panggil.
“Teman-Teman, Bu Wiwik butuh bantuan. Apakah Teman-Teman bisa membantu?”
“Bisa!” jawab keempatnya serempak.
Saya mengambilkan Adys empat box file yang terikat tali rafia. Dua tumpuk map plastik saya serahkan ke Celline. Asha kebagian dua kotak amplop. Sementara Gabi mendapat jatah dua pak kertas kover.
“Gabi, kok, (bawa) sedikit, sih, Bu?” protes Celline.
“Yang dibawa Gabi itu berat, Nak,” jawab saya.
“Iya. Ini berat, lo,” ujar Gabi.
“Teman-Teman ikuti Bu Wiwik, ya.”
Saya menarik kardus berisi ATK yang belum terbawa. Saya arahkan menuju ruang arsip. Keempat anak tersebut mengekor di belakang saya.
“Terima kasih, ya. Gabi, Adys, Celline, dan Asha. Sekarang (kalian) boleh main lagi.”
“Oke, Bu. Sama-sama.”
Saya kembali menuju ruang waka. Masih ada dua kardus besar yang belum terangkut. Kali ini, saya memanggil Nadhif. Ia anak yang suka bergerak. “Biar energinya tersalurkan,” batin saya. Sebenarnya, Adys dan teman-temannya bisa saja saya minta lagi untuk membantu mengangkut barang-barang tersebut. Namun, saya ingin berbagi kebahagiaan kepada anak lain. Ya, anak-anak seusia mereka akan sangat senang jika diminta membantu gurunya. Tak terkecuali Nadhif.
“Mas Nadhif, tolong (kardus) ini ditarik, ya,” pinta saya.
Nadhif tampak sigap dan bersemangat.
“Mas Nadhif ikuti Bu Wiwik, ya.”
Baca Juga: Kebaikan Berantai
Saya mendorong kardus itu menuju ruang arsip. Kondisi kardusnya sudah sobek di bagian atas. Jika saya tarik, akan berisiko makin sobek. Nadhif menarik jatah kardusnya. Ia mengikuti saya dari belakang.
Tak terduga, Ano datang dari arah kelasnya. Ia membantu menarik kardus yang saya dorong. Ia memosisikan diri di sisi depan kardus. Di hadapan saya. Tak ada yang memintanya membantu saya. Murni kemauan Ano sendiri.
“Alhamdulillah. Terima kasih, ya, Mas Ano. Kardusnya jadi terasa lebih ringan,” ucap saya sesampainya di ruang arsip.
“Terima kasih juga, ya, Mas Nadhif, anak saleh.”
“Sama-sama, Bu,” jawab Nadhif sembari berlalu.
Ano tersipu.
Tak hanya membantu menarik kardus, Ano pun bermaksud membantu menatakan barang-barang yang ada di kardus. Namun, niat baiknya saya cegah. Beberapa menit lagi bel masuk akan berbunyi. Saya persilakan Ano menuju kelasnya. Ano keluar ruang arsip. Masih tersipu.
Baca juga: Para Penolong
Ah, betapa beruntungnya saya. Banyak penolong di sekitar saya. Tangan-tangan kecil yang membawa pesan besar. Para penolong itu rela mengorbankan waktu bermain mereka yang hanya tersisa sedikit. Mereka juga tak keberatan menyumbangkan sebagian tenaganya untuk meringankan beban saya. Terlebih, mereka membantu tanpa rasa enggan. Bahkan dengan senang hati. Apalagi Ano. Menolong atas inisiatifnya sendiri.
