“Mohon maaf, Bapak/Ibu, saya terlambat,” ucap saya.
Pak Kholis, Bu Aza, Bu Nisa, Bu Dian, dan Bu Milla sudah berkumpul di musala B. Saya, Bu Yeni, dan Bu Iin tiba belakangan. Sebelumnya, kami bertiga dan para guru kelas lainnya mengikuti rapat tentang prosedur pengisian rapor pada aplikasi Sekolahku. Cukup banyak yang perlu dibahas. Hingga saat azan Zuhur, rapat baru dicukupkan.
Peserta rapat Sekolahu juga terlambat mengikuti jemaah Zuhur. Saat kami tiba di musala A, jemaah Zuhur “kloter” pertama telah usai. Beruntung, para guru kelas masih bisa melaksanakan salat Zuhur berjemaah pada kloter berikutnya.
Seluruh peserta PIL (Program Induksi Lanjutan) telah berkumpul. Pak Kholis memimpin doa. Kami memurajaah surah Al-Ikhlas dan Al-Lahab. Sembari murajaah, saya mengecek capaian jurnal amaliah ibadah harian teman-teman. Murajaah dilanjutkan dengan melafalkan niat salat Zuhur.
Kami lantas menambah hafalan sebagian hadis niat dan doa masuk rumah. Usai murajaah, saatnya refleksi.
Baca juga: Berubah
“Bapak/Ibu, apakah ada yang hendak berbagi pengalaman yang berkesan?” tanya saya.
Semua peserta terdiam.
“Baik, jika belum ada, saya yang bercerita dulu. Ini kejadian tadi pagi. Listriknya, kan, mati. Jadi, ruangan terasa lebih panas daripada biasanya. Pintu dan jendela dibuka. Termasuk ruang TU.”
Bu Milla, Bu Nisa, dan Bu Aza tersenyum. Ketiganya paham arah pembicaraan saya.
“Di (ruang) TU ada banyak orang. Sedang asyik mengobrol. Saya mendengar dari ruangan saya. Cukup keras. Saya bermaksud untuk mengingatkan. Namun, saya galau, Bapak/Ibu. Takut dianggap menyalahkan. Saya mendengar lagi obrolan yang cukup keras, diselingi dengan tawa. Saya sempat hendak beranjak. Saya urungkan. Beberapa saat kemudian, tidak terdengar suara yang riuh,” jelas saya.
“Tapi ternyata, kehebohan itu berlanjut lagi. Akhirnya, saya beranikan diri menuju ruang TU. Saya bilang kepada teman-teman yang ada di sana kalau suaranya terdengar sampai ruangan saya. Kelas 1 juga sedang mengaji,” lanjut saya.
“Alhamdulillah, teman-teman yang ada di ruang TU sama sekali tidak tersinggung. Bahkan teman-teman meminta maaf. Dan setelahnya, tidak lagi terdengar suara yang berlebihan,” pungkas saya.
“Iya, kok, Bu. Keasyikan ngobrol jadi kelepasan,” timpal Bu Milla sambil tersenyum.
“Iya, Bu. Makanya saya ingatkan. Dan ini yang mesti kita bangun, njih, Bapak/Ibu. Saling mengingatkan. Tujuannya untuk kebaikan bersama. Bukan untuk saling menyalahkan,” tutup saya.
Bu Yeni mengangkat tangan. Saya mempersilakan beliau.
“Ini juga cerita yang terjadi hari ini, Bu. Tadi Emmer bercerita kalau dia puasa. Dan alhamdulilah-nya ….”
Bu Yeni tidak melanjutkan kalimatnya.
“Karena, kita sering mengalami: tertampar oleh anak-anak. Anak-anak berbuat kebaikan yang kita sendiri juga belum melaksanakannya,” lanjut Bu Yeni.
Akhirnya saya paham maksud kalimat rumpang Bu Yeni pada awal cerita tadi.
Usai Bu Yeni bercerita, Bu Iin mengajukan diri juga untuk berefleksi.
“Fahmi membawa mainan boneka ke sekolah. Saat tes, ia tidak menyimpan mainan itu. Saya hanya melihatnya. Belum sempat menyampaikan apa pun. Namun, Fahmi langsung menyerahkan mainannya. Dia menyadari kalau perbuatannya kurang baik. Saya sangat terkesan dengan sikap Fahmi. Anak sekecil itu sudah sangat peka terhadap kesalahan yang dilakukan. Ia bahkan dengan sukarela menepati konsekuensinya. Kita, sebagai orang dewasa, kadang sangat sulit melakukannya.”
Saya dan teman-teman menyimak kisah Bu Iin. Betapa anak-anak laik menjadi guru bagi kami, yang disebut guru.
Gestur Bu Nisa menyiratkan keinginan untuk bercerita. Namun, Bu Nisa ragu. Bu Aza menangkap gelagat Bu Nisa.
“Bu Nisa sepertinya punya cerita juga, Bu Wiwik,” lapor Bu Aza.
“Enggak, Bu. Lain kali saja,” sanggah Bu Nisa.
“Kalau lain kali, berarti ada cerita, nih. Sekarang saja, Bu,” pinta saya.
Bu Nisa mengiakan.
“Jadi, kemarin Vino ke ruang TU. Dia mau mengisi botol minumnya. Waktu masuk, Vino tidak mengetuk pintu. Saya minta mengulang. Dia mau.”
Saya dan teman-teman menyimak cerita Bu Nisa dengan saksama.
“Tapi waktu keluar ruangan, Vino tidak salam. Saya kejar, dong,” lanjut Bu Nisa.
“Masyaallah,” respons teman-teman.
“Vino juga tidak mengetuk pintu saat masuk kelas. Ya sudah, saya laporkan saja ke Bu Yeni,” pungkas Bu Nisa.
“Bu Nisa keren! Sudah cocok jadi guru merangkap TU,” kelakar saya.
Baca juga: Guru: Apa Profesinya?
***
Asyik sekali menyimak refleksi dari kejadian nyata yang kami alami. Tak hanya sekadar cerita, kami bisa mengambil makna dari kisah-kisah ringan itu. Tak hanya bagi pelaku, yang mendengar cerita pun bisa belajar memaknainya.
