Sabtu (19/07/2025) pagi, Bu Nana mengirim pesan di grup Sekolah. Beliau mengundang seluruh pengabdi untuk mengikuti kegiatan yang dijadwalkan akan dimulai pukul 07.30. Terdapat tiga agenda: murajaah juz 30, koordinasi, dan pengimbasan pelatihan.
Sebelumnya, Bu Nana telah mengikuti pelatihan Service Excellence yang diselenggarakan oleh LPI Hidayatullah. Narasumbernya Bapak M. Chanif Miftahudin. Beliau merupakan pegawai di bagian humas RSI Sultan Agung.
Pukul 07.30, kegiatan dimulai. Ustaz Adhit memimpin murajaah. Setelah murajaah dan koordinasi, Bu Dian—pembawa acara—memberikan alih kendali kegiatan kepada saya dan Bu Nana. Saya membuka acara pengimbasan: Impementasi Komunikasi Efektif dan Ekspresif. Sebelum dimulai, Bu Nana menyerahkan sebuah tas berisi hadiah untuk teman-teman.
“Anyone guess what inside this bag are?” tanya saya.
“Clue-nya apa, Bu Wiwik?”
“You will be happier when you eat it. And, some days ago Bu Puput got this.”
Beberapa jawaban meluncur.
“Money!”
“Candy!”
“Ice cream!”
“Maaf, jawabannya salah semua.”
“Bila umurku bertambah, aku bersyukur kepada allah. Kuucapkan alhamdulillah. Semoga Allah memberi berkah. Semoga allah memberi berkah.”
Saya mengawali menyanyikan lagu itu. Diikuti teman-teman. Tiga hari yang lalu, Bu Puput berulang tahun.
“Ini hadiah untuk Bu Puput,” ucap saya. “Sekalian, Bu Puput yang membagikan sisanya kepada teman-teman, ya.”
Sangat terasa, suasana begitu cair dan ceria. Teman-teman begitu lepas mengekspresikan diri. “Bu Nana sangat piawai membaca situasi,” senandika saya.
Ya, Bu Nana sendirilah yang menyiapkan kejutan manis itu. Saya pun kaget saat beliau meminta saya untuk membagikannya. Meski sederhana, perhatian ini sangat mengesankan bagi saya, dan (mungkin) bagi teman-teman.
“Saya bangga, Bapak/Ibu sudah memiliki modal komunikasi verbal yang bagus. Ekspresi, intonasi, dan gesturnya sudah sesuai,” puji Bu Nana.
Ah, lagi-lagi Bu Nana membuat kami termotivasi.
Bu Nana menggarisbawahi bahwa komunikasi verbal yang efektif tak hanya melibatkan kemampuan kebahasaan, melainkan juga intonasi, ekspresi, dan gestur yang tepat. Beliau lantas memberikan tantangan kepada teman-teman. Sejak awal kegiatan, teman-teman diminta duduk berkelompok sesuai jenjang masing-masing. Tiap kelompok diberi tantangan yang berbeda. Tiap-tiap tantangan bertujuan untuk melatih kemampuan komunikasi yang efektif ketika guru atau tendik dihadapkan pada suatu permasalahan.
Kelompok guru kelas 2 mendapat kesempatan pertama maju. Mereka bermain peran dengan situasi guru bertemu murid beserta keluarganya di sebuah objek wisata. Orang tua murid lantas berkonsultasi tentang permasalahan murid.
Bu Puput, Bu Yunita, Pak Kukuh, dan Pak Kholis memerankan tokoh yang diemban dengan sangat apik. Pun kelompok lainnya. Bu Nana menyampaikan pujian dan apresiasi atas presentasi teman-teman.
“Bapak/Ibu, saya bangga, Bapak/Ibu semua sudah dapat menerapkan cara berkomunikasi yang baik. Dan alhamdulillah, komunitas belajar SD Islam Hidayatullah 02 sudah kita mulai. Untuk selanjutnya, tidak hanya saya dan Bu Wiwik saja yang menjadi narasumber. Bapak/Ibu semua juga berkesempatan membagikan ilmunya.”
Pengimbasan ditutup dengan menyepakati jargon baru SD Islam Hidayatullah 02: menuntun dengan agama, mendidik dengan hati, mengajar dengan ilmu.
Ini merupakan kali kedua kami berkumpul dalam formasi baru guru dan tendik SD Islam Hidayatullah 02. Suasana begitu terasa berbeda. Bu Nana memberikan sentuhan dan warna tersendiri dalam pertemuan pagi itu. Bu Nana banyak menyampaikan apresiasi, pujian, dan motivasi kepada kami. Hampir 3 jam kami duduk di dalam ruangan itu. Namun, kami larut terbawa suasana ceria dan nyaman hingga waktu seakan tak terasa lama. Bu Nana telah menguaskan warna baru di Sekolah. Semoga warna-warni indah menghiasi hari-hari di Sekolah.
