Hari ini, hari terakhir Penilaian Akhir Semester (PAT). Semua anak dan Bapak/Ibu Guru sibuk mempersiapkan Ekshibisi Akhir Tahun. Sebelum memulai persiapan ekshibisi, saya lebih dahulu mengoreksi semua pekerjaan anak-anak.
Setelah saya periksa, masih ada beberapa anak belum menyelesaikan tugas secara keseluruhan. Kebanyakan belum mengerjakan bagian soal uraian. Ada juga yang belum mengerjakan sama sekali. Saat ujian, anak ini tidak hadir karena sakit.
Saya pun meminta mereka untuk mengerjakan soal setelah jam kepulangan. Ada Sultan, Rayya, dan Haqqi. Saya percaya, setiap anak memiliki kemampuan masing-masing.
Rayya memiliki kemampuan yang hebat dalam pelajaran Matematika. Ia lebih piawai dalam hal hitung-menghitung. Meskipun begitu, setiap anak memiliki keunikan masing-masing. Dalam hal membaca dan menulis, Rayya masih mengalami sedikit kesulitan dan membutuhkan pendampingan.
Rayya tahu maksud soal yang disajikan. Namun, ia kesulitan dalam menuliskan jawaban. Untuk itu, saya membantu Rayya membacakan soal, dan Rayya menjawab secara lisan. Dari situlah saya dapat mengetahui tingkat pemahaman Rayya akan materi yang disampaikan.
Selanjutnya, saya mendampingi Sultan. Sultan meminta izin untuk mengerjakan di meja saya. Baiklah, tidak mengapa. Ia mulai meletakkan kursi kecil ke samping kursi saya. Satu menit, dua menit, ia mulai mengerjakan. Di menit keempat, ia mulai mengeluh pelan.
“Rayya enak banget, dibantuin Bu Puput. Curang!”
“Bu Puput hanya membantu Rayya membacakan soal. Jawabannya, tetap Rayya sendiri yang memikirkan.”
“Sama saja, itu enak! Sultan baca sendiri, tulis sendiri, enggak dibantu.”
“Loh, Sultan, kan, sudah diberi kemudahan oleh Allah, kemudahan membaca, kemudahan menulis. Kalau Sultan pergunakan itu dengan baik, insyaallah Sultan termasuk orang-orang yang bersyukur. Sultan tahu? Orang yang bersyukur itu akan ditambah nikmatnya sama Allah. Tapi, kalau Sultan tidak bersyukur, bisa jadi Allah akan mencabut nikmat yang sudah diberikan kepada Sultan. Memangnya Sultan mau, terus-terusan dibantu sama Bu Puput?”
“Enggak, Bu. Tapi, ini susah sekali, Sultan gak bisa.”
“Mana yang Sultan gak bisa?” tanya saya.
“Ini, yang nomor 30.”
“Coba, dibaca dulu soalnya!” perintah saya.
“Bayangkan kamu adalah seekor burung yang bisa terbang ke mana saja. Ceritakan satu hari petualanganmu! Ke mana kamu terbang? Apa yang kamu lihat? Apa yang kamu rasakan? Ini maksudnya gimana, Bu? Sultan gak tahu, Sultan, kan, bukan burung,” cecar Sultan.
“Nah, jadi gini, Sul. Bu Puput bantu jelaskan maksud soalnya, ya. Nanti Sultan pikirkan sendiri jawabannya. Jadi, misalnya, nih, Sultan jadi seekor burung. Sultan, kan, bisa terbang. Nah, Sultan kalau bisa terbang, akan terbang ke mana? Terus, di sana Sultan mau melihat apa? Apa yang dirasain Sultan, waktu Sultan bisa terbang dan lihat sesuatu di sana?” jelas saya.
“Hm, Sultan kalau bisa terbang mau ke Jepang. Di sana, Sultan mau lihat artis kesukaannya Sultan. Bu Puput gak boleh tahu siapa artisnya. Itu rahasia. Sultan juga pengin bangun masjid di sana. Rasanya senang banget!”
“Wah, itu keren, Sul! Ayo, lanjutkan! Sultan tulis jawabannya di sini, ya!”
“Oke, Bu.”
Dengan semangat, ia menuliskan khayalannya pada lembar jawab. Begitulah Sultan, ia anak yang cerdas. Namun, untuk mengeluarkan semangat belajar dalam dirinya, harus dipancing terlebih dahulu. Dipancing dengan motivasi, apresiasi, dan pastinya, kesabaran sangat diperlukan di sini.
Selamat, Sultan! Sultan berhasil mengalahkan rasa malas dalam dirinya. Semoga, kebaikan Sultan bisa menjadi inspirasi bagi teman-teman, bahkan bagi Bapak dan Ibu Guru. Bahwa kemalasan memang perlu dilawan. Perlu diingat, mengatasinya bukanlah hal yang mudah, dan butuh usaha yang sungguh-sungguh.
