Senin, 19 Mei 2025
Suasana kelas masih ramai saat jam istirahat tiba. Tiba-tiba, Pak Kambali datang menghampiri saya dengan wajah tampak cemas.
“Nafiza menangis saat mengaji tadi, Bu. Tadi saya meminta Nafiza membaca jilid 3, lalu jilid 4. Awalnya dia menolak. Setelah diberi sedikit dorongan, akhirnya dia mau. Tapi saat saya minta lanjut ke Jilid 5, dia membaca sambil menangis,” terang Pak Kambali pelan.
***
Hari ini terjadwal kegiatan Fun Class dari TK ABA 44. Pak Kukuh, yang biasanya mengampu kelas mengaji Nafiza, sedang ditugaskan memandu perlombaan, Karena itu, Pak Kambali menggantikannya.
Saya memahami sepenuhnya apa yang diceritakan Pak Kambali. Saya pernah berada di posisi yang sama ketika kali pertama menjadi pengampu mangaji Nafiza. Anak itu memang memiliki hati yang lembut. Kadang saya bertanya-tanya, apa yang sebenarnya ia rasakan? Apakah ia minder? Atau merasa bahwa ketika diminta mengulang itu berarti ia belum cukup baik?
Usai berbincang dengan Pak Kambali, saya menoleh ke arah Nafiza. Ia duduk di sudut kelas. Saya tahu, jika saya mendekat saat itu juga dan bertanya, tangisnya hanya akan makin pecah. Maka saya memberi ia kesempatan untuk menyelesaikan tangisnya.
Beberapa menit kemudian, saya berjalan ke arah Nafiza. Saya berdiri di sampingnya, berusaha menangkap suasana hatinya.
“Naf, waktu istirahatnya tinggal 5 menit. Yuk, dimakan dulu bekalnya,” ajak saya.
Nafiza mengangguk tanpa kata. Ia mengeluarkan sebungkus makanan seperti wafer, lalu memakannya. Saya kembali ke meja saya. Dari kejauhan saya memberhatikannya. Sambil makan, ia sesekali melirik ke arah saya. Saya tersenyum.
“Kalau sudah tidak sedih, nanti cerita ke Bu Yunita, ya,” ujar saya.
Nafiza membalas dengan anggukan dan senyuman kecil yang mulai merekah di wajahnya.
Bel berbunyi pukul 10.45. Saatnya pelajaran Bahasa Indonesia dimulai. Saya membuka kelas dengan mengulas kembali materi sebelumnya: antonim.
“Antonim dari panjang?”
“Pendek,” jawab murid-murid serempak.
“Kalau berat?”
“Ringan.”
“Kalau panas?”
“Dingin.”
Saya tersenyum. “Wah, hebat sekali, Teman-Teman!”
Setelah mengulas beberapa materi, saya membagikan soal latihan.
“Teman-Teman, waktu mengerjakannya 30 menit, ya.”
Belum separuh waktu berjalan, beberapa murid sudah mengantre untuk dikoreksi.
Saat gilirannya tiba, Nafiza maju ke meja saya dengan raut wajah malu-malu.
“Nafiza menyelesaikan tugas lebih awal? Hebat, Naf!” puji saya.
Ia tersenyum, pipinya memerah. Saya periksa lembar jawabannya satu per satu. Semua jawaban benar. Tulisannya pun rapi.
“Jawabannya benar semua, Naf. Keren, loh. Nafiza mengerjakan sendiri?” tanya saya.
“Iya, sendiri,” jawabnya.
“Wah, hebat. Padahal tadi pagi sempat menangis, ya.”
Ia tertawa kecil. Ada binar di matanya.
Masyaallah, hati saya bangga melihatnya. Nafiza—yang dulu sensitif, yang mudah merasa kecil dan kerap menangis lama saat diminta mengulang bacaan—hari ini menunjukkan cahaya di balik mendungnya.
Ia masih bisa menangis. Tapi kini, tangisnya tidak membuatnya larut dalam kesedihan. Ia belajar menenangkan diri. Belajar bangkit. Dan dari situlah saya tahu, Nafiza sedang tumbuh. Perlahan, tapi pasti.
Semangat terus, Nafiza! Hari ini kamu sudah sangat hebat!
