Suasana pagi menjelang siang, dengan langit yang cerah dan matahari yang bersinar. Sangat cocok digunakan untuk beraktivitas di luar ruangan. Bel menandakan istirahat kedua berbunyi, anak-anak segera berhambur ke lapangan untuk bermain bola. Ya, permainan favorit anak putra di jam istirahat kedua. Kebanyakan anak putra memanfaatkan waktu istirahat mereka dengan baik, yaitu makan di istirahat pertama dan bermain di istirahat kedua.

“Teman-Teman, 3 menit lagi!” teriak beberapa anak yang ada di lantai 2.

Ya, di gedung baru ini, anak-anak perlu diingatkan tentang jam istirahat karena bel tanda masuk tidak terdengar dari lapangan. Sehingga, anak-anak yang bermain di lapangan berisiko terlambat masuk kelas.

Jam berganti, anak-anak memasuki kelas untuk melanjutkan belajar. Tak berselang lama, azan Zuhur berkumandang. Anak-anak segera melaksanakan persiapan wudu dan dilanjutkan salat Zuhur berjemaah di musala.

Setelah salat Zuhur, anak-anak menyiapkan makan siang mereka. Di kelas 3 ini, tidak semua anak ikut katering Sekolah. Sebagian ikut katering mama Fillio.

Setelah makan siang, sisa buah pisang dari katering Sekolah masih tersedia. Siswa yang ikut katering Sekolah dan ingin mengambil pisang lagi, diperbolehkan. Jika sisa buah banyak, Bapak/Ibu Guru membagikannya kepada semua siswa yang bersedia. Dengan syarat, mereka harus sudah menghabiskan makan siangnya.

“Bu, saya boleh minta pisangnya?” tanya Itaf.

“Makan siang kamu habis, gak?”

Itaf diam. Tampak berpikir. Setelah itu, ia berjalan ke luar kelas. Karena penasaran, saya pun mengikuti. Saya intip dari pintu kelas. Ternyata, Itaf keluar kelas untuk mengambil tempat makannya dan menghabiskan makan siang yang sebelumnya tersisa setengah. Saya pun masuk kembali ke kelas. Tak berselang lama, Itaf ikut masuk kelas dengan membawa tempat makannya yang habis tak bersisa.

“Sudah habis, Bu, makannya,” ujar Itaf sembari menunjukkan tempat makannya.

“Masyaallah, Itaf mau pisang?”

“Iya. Boleh, ya, Bu?” ucapnya memohon.

“Iya, boleh, silakan.”

“Terima kasih, Bu.”

Saya merasa kagum dengan Itaf. Ia tahu kalau syarat mendapat pisang adalah menghabiskan makan siangnya. Tanpa diminta, ia segera menghabiskan makan siangnya demi mendapatkan sebuah pisang.

 

Baca juga: Menambal-2

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code