Angin berembus kencang, diiringi kicauan burung di depan rumah serta udara sejuk di pagi hari. Saya bersiap berangkat ke sekolah. Pagi itu, jalanan masih lengang. Belum dipenuhi kendaraan. Dalam waktu kurang lebih 10 menit, saya tiba di sekolah.

Hari itu (Selasa, 11 Maret 2025) terasa berbeda dari Selasa biasanya. Susunan KBM sedikit berubah. Ya, murid-murid SDIH 02 akan belajar bersama kakak-kakak dari SMPIH dalam acara Kafilah Dakwah. Acara ini diselenggarakan oleh SMPIH, sementara SDIH 02 menjadi pihak yang dikunjungi.

Untuk kelas 2 dan kelas 3, jadwal kegiatan pagi itu berubah menjadi tahfiz, Kafilah Dakwah, istirahat, salat Duha, Akidah/Akhlak, BAQ, salat Zuhur, dan pulang. Informasi susunan kegiatan tersebut dibagikan Bu Wiwik di grup WhatsApp pengabdi SDIH 02 pada pukul 08.07 WIB.

Pukul 08.25 WIB saya menutup majelis tahfiz. Sambil menunggu murid-murid lain, saya memberi sedikit spoiler tentang acara Kafilah Dakwah, membuat mereka makin antusias. Setelah itu, saya mempersilakan murid-murid untuk menuju musala.

Di depan musala saya dan Bu Indah menunggu. Kami mendapat amanah menjadi pembawa acara. Sambil menunggu kesiapan panitia, kami membaca ulang teks susunan acara.

Acara demi acara berlangsung dengan lancar. Namun, tidak sesuai prediksi. Seharusnya acara selesai pukul 10.00 WIB, tetapi baru selesai sekitar pukul 10.30 WIB.

Pukul 10.37, pesan dari Bu Wiwik masuk di grup WhatsApp pengabdi SDIH 02:

  • Kelas 1: 10.35—30 WIB BAQ.
  • Kelas 2 dan 3: 10.35—30 WIB salat Duha dan KBM.

Usai salat Duha, saya sampaikan pemberitahuan tersebut kepada murid-murid.

“Teman-Teman, setelah ini anak laki-laki silakan mengembalikan peci di loker, lalu mengambil buku Akidah/Akhlak. Anak perempuan bisa langsung mengambil buku pelajaran,” instruksi saya.

Loh, tidak mengaji, Bu?” tanya beberapa murid.

“Tidak. Mengajinya diundur besok, ya,” jawab saya.

Yah …,” sahut mereka, terdengar kecewa.

Saya dan Bu Indah saling tatap, lalu tersenyum kecil melihat respons mereka.

“Padahal saya ingin mengaji, Bu,” celetuk Fathir.

“Saya juga, Bu,” tambah murid lain.

“Iya. Mengajinya kita lanjutkan besok. Kan, masih ada besok. Yuk, kita siap-siap untuk pelajaran Akidah/Akhlak,” ajak saya.

Meskipun beberapa murid tampak kecewa, mereka tetap mengikuti arahan saya.

Kejadian singkat hari itu membuat saya senang. Dari ekspresi kecewa mereka, saya menyadari satu hal: murid-murid sudah memiliki kecintaan terhadap mengaji. Sekali saja tidak ada, mereka merasa sedih.

Inilah pesan yang pernah disampaikan oleh Pak Kambali. Dalam pembelajaran mengaji (BAQ), buatlah murid-murid senang terlebih dahulu. Jika mereka sudah senang, proses belajar akan menjadi lebih mudah dan menyenangkan.

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code