Jumat (14/02/2025) pukul 09.30, saya menghadap Pak Kambali di ruang Kepala Sekolah. Setiap Jumat beliau mengusahakan untuk menyisihkan waktu supaya saya bisa mengaji. Tak hanya kepada saya. Pun kepada teman-teman lainnya. Jadwalnya menyesuaikan kelonggaran waktu masing-masing.
Pak Kambali dan saya memulai dengan melafalkan Al-Fatihah. Lalu, beliau meminta saya murajaah surah Al-Fajr. Deg! Saya menyadari kelemahan saya. Sudah lama saya tidak menguatkan hafalan surah itu. Dan benar saja, pada akhir ayat ke 15, saya ragu. Ragu antara akraman atau ahānan. Pak Kambali membetulkan bacaan saya dan memberi penjelasan singkat.
“Kalau faammāl, pasangannya akraman. Kalau waammā itu pasangannya ahānan.”
Saya melanjutkan hafalan saya. Kali ini saya gagal di awal ayat ke 16. Mad wajib pada kata pertama, saya baca mad asli. Pak Kambali kembali membetulkan hafalan saya. Kali ini dengan mencontohkan bacaan yang benar. Saya segera paham dan melanjutkan surah Al-Fajr hingga akhir.
Setelah saya menyelesaikan hafalan saya, Pak Kambali kembali menguatkan pemahaman saya. Kali ini, penjelasan Pak Kambali lebih panjang dan mendalam. Tak lupa, beliau juga mengonfirmasi cara yang paling efektif yang biasanya saya lakukan saat menghafal.
Saya merasa nyaman dengan cara Pak Kambali dalam membimbing. Beliau tahu saya sudah pernah hafal Al-Fajr. Maka, beliau hanya membantu seperlunya. Beliau memberi saya kesempatan dan kepercayaan untuk melanjutkan hafalan saya sendiri. Dan, benar adanya, cukup dengan sedikit pancingan, saya dapat melanjutkan hafalan saya pada tiap-tiap ayat. Setelah saya menyelesaikan semua ayat, barulah Pak Kambali menjelaskan dengan lebih detail.
Baca juga: Diferensiasi
Apa yang Pak Kambali lakukan, juga saya terapkan di kelompok tahfiz saya. Setiap hari setelah apel dan doa pagi, saya membersamai Rara, Inara, Aya, Rafa, Rama, Bintang, dan Vano dalam tahfiz pagi. Dari data yang saya terima, capaian akhir hafalan mereka adalah Al-Gāsyiyah. Meski demikian, demi menjaga hafalan, tahfiz dimulai sejak An-Nās.
Pagi ini, tahfiz anak-anak sampai Al-Lail. Sebelum dicek satu per satu, anak-anak murajaah bersama terlebih dahulu. Untuk “pemanasan”. Dari pemanasan tersebut, teramati beberapa anak yang hafalannya belum kuat. Mereka masih nggandhul bacaan teman-teman lainnya. Sebagaimana yang saya alami, saya menerapkan metode yang dilakukan Pak Kambali. Minimal, saya sudah membuktikan sendiri kalau saya merasa nyaman dengan metode tersebut. Hasilnya juga efektif.
Rupanya, apa yang saya alami berbeda dengan kondisi anak-anak. Meski sudah dipancing, beberapa anak masih kesulitan melanjutkan hingga akhir ayat. Awal ayat berikutnya juga masih terlafazkan dengan ragu, bahkan lupa.
Dari kejadian tersebut, saya menyadari bahwa penerapan metode mengajar mesti memperhatikan kondisi dan karakter murid. Metode yang cocok di kelas A belum tentu cocok diterapkan di kelas B. Itulah salah satu kompetensi tersulit bagi guru: pedagogi. Menurut KBBI, pedagogi diartikan sebagai ‘ilmu pendidikan; ilmu pengajaran’. Mempelajari pedagogi tidak akan pernah selesai. Sebab, yang guru hadapi adalah manusia.
Metode Pak Kambali mungkin nyaman diterapkan. Baik untuk saya dan anak-anak. Namun, efektifitasnya perlu diuji lagi. Terutama jika diterapkan kepada anak-anak. Ini akan menjadi PR untuk saya! (A2)
