Seluruh siswa tampak merasakan kegembiraannya. Tiba saatnya yang dinanti akan mereka laksanakan. Mereka akan berkunjung ke SMA Islam Hidayatullah sebagai salah satu tamu di kegiatan STF (SMAHA Traditional Festival). Kali kedua bagi siswa SDIH 02 mendatangi acara tersebut. Khususnya untuk siswa kelas 2. Meski sudah pernah berkunjung, anak-anak tentu tidaklah bosan. Karena di dalamnya disuguhkan berbagai macam stan permainan tradisional. Tidak hanya melihat, mereka dipersilakan mencobanya. Ada sreng, ular tangga, egrang bambu, egrang batok, gangsing, terompah panjang, rangku alu, lari balok, dan masih banyak lagi. Terlebih, mereka akan mendapatkan hadiah setelah memainkannya. Wow, tentu sangat menarik, bukan?

STF tidak hanya menyuguhkan permainan tradisional. Terdapat pula stan makanan tradisional. Sehingga makin menarik perhatian siswa. Apalagi, siswa diizinkan membawa uang saku dengan batas maksimal sepuluh ribu rupiah. Terlebih, alat pembayarannya menggunakan kereweng, yaitu koin yang terbuat dari tanah liat. Menjadi pengalaman baru bagi anak-anak seusia mereka. Satu kereweng didapatkan dengan cara menukar uang sebesar lima ribu rupiah. Sebagian siswa masih sibuk mencoba permainan, sebagian lain membeli makanan tradisional. Mereka harus menukar uang rupiahnya terlabih dahulu. Masing-masing sibuk menghitung.

“Uangku sepuluh ribu, aku dapat berapa kereweng, ya, Lin?” tanya Naren kepada Kalynn.

“Coba hitung, deh,” jawab Kalynn dengan memancing Naren agar menghitungnya lagi.

“Eh, aku dapet dua kereweng. Aku bisa beli cireng sama es dawet ireng,” gumam Naren.

“Uangku juga sama, sepuluh ribu. Aku mau tuker kereweng dulu, deh,” ucap Nadia di depan Naren dan Kalynn.

Perbincangan mereka sangat asyik. Berlatih menghitung dan mempertimbangkan. Dengan sejumlah uang yang ada di tangan mereka, setidaknya mereka mampu mengelolanya dengan baik.

Makanan yang dijual sangat variatif harganya. Ada yang dengan menukar satu kereweng atau dua kereweng. Tampak dari kejauhan, Fillio sedang menukar kerewengnya dengan es dawet ireng, ada Rendra sedang duduk menikmati es dawet irengnya, dan ada Sultan yang sedang mempertimbangkan akan ditukarkan dengan makanan apa kereweng yang ia bawa.

Di kejauhan, tampak Nadia dan Naren sedang menukar uang rupiahnya dengan kereweng­. Kalynn bertugas membawa uang rupiah mereka bertiga, sedangkan Naren dan Nadia bertugas menukarkan uang. Yap, kerja sama yang bagus. Mereka kompak dan muncul trust dan teamwork yang terjalin. Mereka berlatih diri untuk berorganisasi. Bu Layla menduga itu sudah terencana sejak sebelum berangkat ke STF.

Mereka membeli makanan yang sama, yaitu cireng. Makanan khas Jawa Barat ini menarik perhatian karena baru saja digoreng, jadi lebih nikmat dimakan hangat. Meski berdesakan, ketiga gadis itu mencari tempat duduk untuk menikmatinya. Tepat duduk satu baris dengan Bu Layla. Sehingga mudah bagi Bu Layla untuk berbincang dengan mereka. Selepas makanan habis dilahap, pertanyaan Bu Layla mendarat untuk mereka.

“Kenapa kalian membeli makanan yang sama? Itu cireng, ya?” tanya Bu Layla.

“Iya, ini cireng, Ustazah,” jawab Kalynn.

“Kita penasaran saja, cireng rasanya gimana,” timpal Nadia.

“Soalnya anget, jadi lebih enak,” susul Naren.

“Kalian tahu tidak, itu makanan khas dari mana?” tanya Bu Layla.

“Kayaknya Jawa, deh, Ustazah,” celetuk Nadia.

“Jawa itu pulau, sedangkan Jawa terbagi beberapa provinsi,” pancing Bu Layla.

“Kalau kita tinggal di Jawa Tengah, ya. cireng kayaknya gak dari Jawa Tengah, deh. Bandung, iya, Bandung. Jawa Barat, Ustazah. Aku tahu,” jawab Nadia dengan cepat.

“Iya, cireng dari Bandung. Provinsi Jawa Barat. Cireng itu terbuat dari bahan yang simpel. Kalian bisa, lho, membuatnya di rumah,” jelas Bu Layla.

“Apa saja bahannya, Ustazah?” tanya mereka, kompak.

“Hanya terdiri dari empat jenis bahan. Yaitu tapioka, terigu, bawang putih, dan garam. Mudah, kan?”

“Jadi penasaran pengin coba buat di rumah, Hi-hi …,” gurau Nadia.

“Ya, kapan-kapan bisa, lho, kali mencoba untuk membuat cemilan yang mudah. Tentu, tetap didampingi orang dewasa yang ada di rumah, ya. Untuk menyalakan kompor dan menguleni adonan cireng menggunakan air panas,” jelas Bu Layla.

“Terima kasih, Ustazah untuk penjelasannya. Oh, ya, Ustazah mau coba cirengku? Punyaku masih sisa satu,” tawar Kalynn kepada Bu Layla.

“Boleh, Ustazah makan, ya. Terima kasih, Kalynn, Nadia, dan Naren. Diskusi tentang cirengnya dilanjut lain hari, ya,” ucap Bu Layla.

Hari itu sangat menyenangkan. Siswa berkawan dengan banyak hal. Berkawan dengan situasi, keadaan, matematika, dan pengalaman baru. Harapannya, siswa mendapat refill untuk tangki keempat hormonnya. Dopamin, oksitosin, serotonin, dan endorfin. Dan mampu mensyukuri bahwa wasilah kebahagiaan itu mereka dapatkan atas izin Allah Swt., dan dengan kadar yang sewajarnya.

 

Bagikan:
3 thoughts on “Berkawan”
  1. alhamdulillah anak-anak belajar banyak hal di sana tentu saja dengan mendapat pengalaman baru

  2. Wah, pasti teman-teman lainnya juga mendapat ilmu dan pengalaman baru. Selain bermain,mereka juga dapat pembelajaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *