Lagu pagi telah berkumandang. Hiruk-pikuk kesibukan pagi kian terasa. Murid-murid mulai berdatangan. Kebiasaan (baru) melepas alas kaki sebelum menginjak lantai selasar telah dipahami dan diingat murid-murid. Guru tak perlu lagi piket menjaga area masuk. Sejak 27 Mei 2024, Sekolah mulai memberlakukan batas suci baru. Dimulai dari selasar hingga ke seluruh area lantai Sekolah. Dua hari semenjak diberlakukan, empat orang guru ditugaskan untuk piket mengawal kebiasaan baru tersebut.

Bu Wiwik bergegas menuju musala. Di sana, Bu Nika sudah menunggu. Seperti biasa, Bu Nika telah menyiapkan meja mengaji (dampar). Di musala, terdapat 20-an dampar yang biasa dipakai murid-murid dan ibu-ibu QLC untuk mengaji. Meja-meja itu ditata di sudut kanan musala.

“Al-Fatihah,” aba-aba Bu Wiwik.

Bu Wiwik dan Bu Nika melantunkan doa sebelum mengaji sembari menunduk dan mengangkat kedua telapak tangan masing-masing.

Bacaan doa Bu Wiwik sempat terjeda. Ia kaget menyaksikan ada yang tidak beres dengan dampar yang ia gunakan. Di sisi kiri bawah, terdapat tulisan dengan tinta. Cukup panjang. 

“Tebak siapa aku. Aku apsen 6. Aku kelas 1. Aku bestie-nya Inara. Aku punya adek. Namanya Kama. Siapa aku?”

Antara geli dan menyayangkan. Begitulah kira-kira gambaran perasaan Bu Wiwik saat itu. Bu Wiwik mengalihkan perhatiannya kembali kepada Bu Nika hingga mengaji usai. Setelah mengakhiri mengaji dengan doa penutup majelis, Bu Wiwik mengambil gawai dari saku kanan gamisnya. Ia lantas membuka aplikasi kamera. Bu Wiwik memotret tulisan yang membuatnya geli sekaligus tidak nyaman itu.

Tak berhenti hanya di situ, Bu Wiwik beralih ke sudut musala. Di sana terdapat puluhan dampar yang ditata berjajar. Satu dampar diamati. Ternyata ada coretannya juga. Dibantu Bu Nika, Bu Wiwik lantas menyortir semua dampar.

Diperoleh tujuh dampar yang terdapat coretan murid-murid. Ketujuhnya, difoto di bagian yang terdapat coretan. Foto-foto tersebut lalu dikirim ke grup Sekolah disertai takarir: “Bapak/Ibu, mohon ditindaklanjuti. Ini meja ngaji di musala.”

Tujuh meja tersebut dipisahkan dari meja-meja yang masih bersih. Bu Wiwik dan Bu Nika menatanya di dekat portable speaker. Sebelum keluar musala, Bu Wiwik mengirim pesan ke Ustaz Aruf untuk tidak menggunakan ketujuh meja tersebut. Ustaz Aruf mengiakan. Ustaz Aruf mengajar BAQ di musala. Selepas Bu Wiwik dan Bu Nika mengaji, musala digunakan oleh Ustaz Aruf dan murid-muridnya (kelas 2). 

“Teman-Teman, sebelum memulai tes, Bu Wiwik ingin menyampaikan sesuatu dulu,” ungkap Bu Wiwik.

Muri-murid penasaran. Hari ini adalah hari ketiga PAT (Penilaian Akhir Tahun). Meski sedang berlangsung PAT, rutinitas harian—tahfiz, mengaji, salat Duha, Zuhur berjemaah, dan makan siang—tetap dilaksanakan. Biasanya, setelah tahfiz, murid-murid segera duduk dan mengerjakan soal PAT. Bu Wiwik sengaja mengambil waktu sebelum tes untuk merefleksi temuannya. Bu Wiwik meyakini, murid-murid dapat menyelesaikan soal yang diujikan sebelum alokasi waktunya habis. 

“Teman-Teman, barusan Bu Wiwik dari musala. Di sana, Bu Wiwik menemukan sesuatu yang kurang, bahkan, tidak baik. Ada anak yang sengaja menulis di meja ngaji,” terang Bu Wiwik.

Sambil menghela napas, Bu Wiwik mengamati murid-muridnya.

“Bu Wiwik dan Bu Eva sangat berharap Anak-Anak jujur dan bertanggung jawab. Apakah ada yang hendak disampaikan?”

Elora mengangkat tangan. Disusul Gibran, Vira, dan Rama.

“Maaf, Bu. Saya yang menulis,” aku Elora.

“Saya juga, Bu,” imbuh Gibran, Vira, dan Rama.

“Alhamdulillah. Bu Wiwik bangga, Anak-Anak dapat bersikap jujur dan mengakui kesalahan. Terima kasih, Mbak Elora, Mas Gibran, Mbak Vira, dan Mas Rama. Bu Wiwik dan Bu Eva minta tolong, nanti sepulang sekolah atau jika ada waktu luang, meja-meja itu dibersihkan, ya. Boleh menggunakan tisu basah, kanebo, atau lap basah. Nanti kanebo dan lapnya bisa pinjam Bu Eva.”

“Anak-Anak, semua fasilitas yang ada di Sekolah kita harus kita jaga. Karena yang memakai bukan hanya kita, tetapi juga kakak kelas 2, ibu-ibu QLC, bahkan besok sampai adik kelas kalian. Sebelum Bu Wiwik akhiri, ada yang ingin disampaikan?”

Gibran mengangkat tangan.

“Saya bawa tisu basah, Bu. Nanti pakai punya saya saja,” tawar Gibran.

Alhamdulillah. Terima kasih, Mas Gibran.

Dugaan Bu Wiwik benar adanya. Murid-murid dapat menyelesaikan soal PAT pagi itu hanya dalam waktu kurang lebih 30 menit. Masih tersisa 15 menit lagi menuju kegiatan berikutnya. Sisa waktu itu dimanfaatkan Bu Wiwik untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi.

“Teman-Teman, masih ada sisa waktu 15 menit. Silakan bisa dimanfaatkan untuk membaca buku atau jilid. Untuk Mbak Elora dkk., silakan mengambil meja yang ada tulisannya, lalu dibawa ke kelas dan dibersihkan.”

Bu Wiwik memandu Elora dan teman-temannya ke musala. Ketujuh meja itu dibawa ke kelas. Elora, Vira, dan Gibran membawa masing-masing dua meja. Rama datang belakangan, ia hanya kebagian satu meja. Di kelas, keempat anak itu membersihkan meja sambil bergurau ringan. Bu Wiwik turut membersamai mereka sambil sesekali mengarahkan. 

Bu Wiwik patut bersyukur dan berbangga hati. Murid-muridnya masih memegang teguh kejujuran. Ketika ia menyampaikan temuannya, sempat tebersit keraguan apakah anak-anak akan mengakui perbuatannya. Menurut Bu Wiwik, temuan itu adalah sebuah kesalahan yang cukup berat. Bisa saja, anak-anak merasa takut hingga akhirnya tidak mengakui. 

Keraguan itu segera ditepisnya. Nyatanya, tanpa canggung, Elora dkk. berbesar hati mengakui kealpaan mereka. Dari kejadian itu, Bu Wiwik punya misi tersembunyi: setiap manusia itu pasti pernah melakukan kesalahan. Pertanyaannya: apakah kita mau mengakui, bertanggung jawab dan tidak mengulanginya lagi?

Semoga, anak-anak dapat mengambil pelajaran dari cerita Rabu (05/06/2024) pagi itu. (A2)

Bagikan:
4 thoughts on “Cerita Rabu Pagi”
  1. MasyaAllah, anak-anak mau mengakui kesalahannya dengan jujur.. dari sini mereka bisa belajar dari kesalahan dan bertanggungjawab atas kesalahan yg diperbuat

  2. Masyaallah, anak-anak hebat. Semoga selalu senantiasa dan istikamah dalam berbuat baik maupun menjaga sikap kejujuran.

  3. Orang yang suka berkata jujur mendapat tiga perkara, yaitu: kepercayaan, cinta, dan rasa hormat. semoga anak-anak senantiasa selalu bersikap jujur

  4. MasyaAllah, ikut bangga karena anak-anak jujur atas perbuatan yang tidak baik dan bersedia bertanggung jawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *