Tahun ini, momen Hari Ibu digabung dengan Hari Ayah. Anak-anak mendapat kesempatan membuat suvenir untuk ayah. Suvenir yang sudah jadi, nantinya diberikan kepada ayah masing-masing pada Hari Ayah. Saat penyerahan diharapkan didokumentasikan.

Momen Hari Ayah kali ini terbagi menjadi tiga kegiatan yang dilaksanakan selama 3 hari, yaitu Senin, Selasa, dan Rabu.

Hari pertama, anak-anak membuat lukisan dari tisu yang ditempel di kanvas. Sebenarnya pekerjaan ini cukup sulit dan membutuhkan kesabaran, ketelatenan dan konsentrasi yang baik. Karena tisu mempunyai sifat rapuh, mudah sobek. Lemnya harus cukup banyak, agar bisa nempel. Jadi harus lebih hati-hati. Namun demikian, anak-anak semangat dalam mengerjakan.

“Punya saya, tisunya sobek, Bu. Boleh minta lagi, nggak?” tanya Ken.

“Boleh. Yang ini jangan sampai sobek lagi, ya!” pinta Bu Amik.

“Tisuku juga sobek, Bu. Aku juga minta lagi,” kata Rendra.

“Ini, ya,” kata Bu Amik sambil menyerahkan tisu yang diminta.

Hari kedua, anak-anak mendapat tugas membuat kartu ucapan untuk ayah. Kartu ucapan yang dibuat, disertai gambar dan doa terbaik untuk ayah. Anak-anak yang masih mempunyai ayah, hampir semua berdoa, semoga ayah sehat dan panjang umur. Sebagian ada yang berdoa semoga tidak berantem. Ada juga yang berdoa, semoga pekerjaannya lancar dan dapat rezeki banyak. Anak yang ayahnya telah berpulang, doa terbaiknya adalah “semoga kita bertemu di surga”. Doa ini menyentuh siapa pun yang membaca. Ternyata anak-anak memiliki untaian doa yang indah buat ayahnya.

Hari ketiga, saatnya anak-anak harus membuat tempat suvenir. Tempat yang hendak dibuat adalah kantong dari kain. Kantong tersebut digambar pohon dengan cara menjiplak telapak tangan masing-masing. Kemudian dibuat daunnya menggunakan cotton bud yang dicelupkan ke dalam cat dan ditutul-tutulkan ke pohon yang telah dibuat.

Pada hari pertama peringatan Hari Ayah, diawali dengan bercerita tentang pengalaman terindah bersama ayah. Setiap anak mendapat kesempatan untuk bercerita.

Karena belum ada yang berani bercerita, Bu Amik mencontohi dulu bercerita.

“Pengalaman terindah Bu Amik bersama Ayah adalah, ketika diantar membayar kuliah pertama kali,” kata Bu Amik mengawali bercerita. “Bu Amik diantar dengan naik motor butut warna merah. Padahal, rumah Bu Amik di Demak, lumayan jauh. Tapi, ayah Bu Amik mau mengantar sampai Semarang karena sangking senangnya anaknya bisa kuliah. Sekarang, ayah Bu Amik sudah tidak ada.”

Saat itu, Bu Amik dalam membawakan cerita sangat menghayati. Mata Bu Amik pun berkaca-kaca, terbawa perasaan. Kalynn dan Nadia yang duduk tepat di depan Bu Amik juga menangis.

Kalynn dan Nadia ditanya Bu Amik, “Nadia, Kalynn, kenapa menangis?”

“Sedih,” jawab mereka sambil mengusap air matanya yang terlihat menitik.

——

Di saat yang berbeda, setiap pagi sebelum bel masuk, diputar lagu-lagu anak. Pada suatu hari, diperdengarkan lagu tentang ibu. Judulnya adalah “Kaulah Ibu”. Kalynn dan Nadia menyampaikan, “Kenapa lagunya tentang ibu, Bu? Saya jadi sedih. Saya jadi nangis.”

Kalynn dan Nadia ternyata berhati lembut. Mereka mudah sekali tersentuh perasaannya.

Bagikan:

By Suparmi

4 thoughts on “Lembutnya Hati Kalian”
  1. MasyaAllah, anak-anak seusia mereka memang masi sangat lugu dan polos. Mereka mengucapkan apa saja yang mereka rasakan. Terkadang itu hiburan tersendiri untuk guru-guru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *