Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah #1
Mimpi Bersama, Kontribusi Semua
Segenap pemangku kepentingan sekolah diajak merajut mimpi yang sama: sekolahku surgaku. Masing-masing diberi kesempatan untuk mengidentifikasi karakter yang selayaknya dimiliki oleh setiap penghuni sekolah yang diimpikan sebagai replika surga. Lalu semua diberdayakan dan didayagunakan untuk membangun replika surga itu.
Kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, murid, orang tua murid, dan pengurus yayasan (untuk sekolah swasta) membuat daftar atribut surga yang mereka dambakan. Boleh jadi, daftar tersebut akan sarat dengan atribut ideal seperti bersih, sehat, rapi, indah, aman, tertib, lancar, asri, segar, dan mantra-mantra magis sejenis yang pernah populer dalam perlombaan memperebutkan anugerah Adipura.
Tiap-tiap fitur surga menuntut kontribusi amal saleh dari para penghuninya. Sekolah bersih akan terwujud hanya jika seluruh warganya cinta kebersihan. Sekolah aman akan tercipta hanya jika setiap penghuninya berperan aktif menjaga keamanan. Sekolah damai akan tercapai hanya jika segenap anggota komunitasnya gemar menebar kasih sayang.
Nilai-nilai kesalehan pembentuk fitur surgawi itu didefinisikan dalam perilaku aktual. Setiap nilai luhur didefinisikan dalam perilaku-perilaku spesifik sebagai respons atas berbagai situasi yang berbeda-beda. Definisi spesifik disusun mulai dari yang sederhana hingga yang kompleks sesuai dengan tingkat usia, perkembangan jasmani dan rohani, serta pengalaman murid. Pengenalan definisi karakter tidak perlu nggege mangsa, tetapi juga tidak boleh kasep.
Holistik-Integratif
Karakter—dalam pengertian positif (mulia)—terbentuk sebagai hasil internalisasi nilai-nilai kesalehan yang mendarah daging hingga menjadi jati diri seseorang. Proses internalisasi nilai melibatkan tiga ranah: pemahaman, penghayatan, dan pengamalan. Pemerolehan ketiganya berlangsung secara holistik-integratif, tidak mengharuskan sekuens secara baku dan kaku. Walau demikian, modus pemerolehan salah satu ranah berdampak terhadap kualitas ranah yang lain.
Pemahaman suatu nilai akan melahirkan penghayatan dan pengamalan yang berkualitas jika diperoleh melalui penalaran, berpikir kritis. Penalaran kritis itu mesti mengantarkan seseorang menerima kebenaran suatu nilai secara bulat dan tulus atas dasar kesadaran nilai. Kebenaran yang diterima sebagai hasil penalaran akan mengakar kokoh, berbeda dari hasil indoktrinasi dogmatis yang cenderung rapuh.
Penghayatan nilai akan mentransformasikan pemahaman menjadi keyakinan dan memantik hasrat untuk mengamalkannya secara konsisten jika dipandu oleh keselarasan antara pemahaman (kebenaran logis) dan pengalaman (kebenaran empiris). Sebaliknya, penghayatan nilai akan memorak-porandakan pemahaman dan melumpuhkan niat untuk mengamalkan jika dikecoh oleh bias kebenaran—antara kebenaran logis dan kebenaran empiris tidak sejajar.
Pengamalan nilai akan makin mengokohkan keyakinan dan mempertajam kepekaan penghayatannya jika dilandasi motivasi intrinsik atas dasar cinta kebenaran dan kebajikan. Pengamalan autentik atas nilai-nilai kesalehan hanya bisa dilahirkan dari motivasi intrinsik: semata-mata ingin menjadi pribadi saleh. Pengamalan nilai mengeruhkan pemahaman dan membimbangkan penghayatan selama masih berorientasi pada motivasi eksternal, yakni kepatuhan demi menghindari hukuman dan mengejar penghargaan.
Karakter juga mesti berkembang secara holistik-integratif dalam segala dimensi. Sementara pakar pendidikan karakter mengelompokkan nilai-nilai kebajikan ke dalam empat dimensi kesalehan: intelektual, moral, kewarganegaraan, dan kinerja.
Kesalehan intelektual berkenaan dengan kearifan dalam mencari pengetahuan, kebenaran, dan pemahaman. Sekadar menyebut beberapa contoh, kesalehan intelektual tercermin pada karakter otonom, berpikir kritis, melit, bernalar logis, menilai secara jeli dan adil, reflektif, dan cerdik (banyak akal).
Kesalehan moral memandu jiwa untuk setia pada keluhuran budi ketika berhadapan dengan situasi yang menuntut respons etis. Kesalehan moral tercermin—antara lain—pada karakter jujur, berintegritas, welas asih, berani, adil, rendah hati, bersyukur, dan hormat.
Kesalehan kewarganegaraan memandu peran sebagai warga negara (dan warga dunia) yang bertanggung jawab dalam merawat harmoni dengan pranata sosial yang berlaku dalam konteks pergaulannya. Karakter penjelmaan kesalehan kewarganegaraan tercermin pada sikap beradab, rela berkorban, berjiwa pengabdian, kesadaran hidup berbangsa, bernegara, bermasyarakat, dan bertetangga.
Kesalehan kinerja merupakan nilai-nilai instrumental yang dengannya seseorang dapat mengejawantahkan tiga dimensi kesalehan yang disebut terdahulu: intelektual, moral, dan kewarganegaraan. Kesalehan kinerja mewujud—di antaranya—dalam kepercayaan diri, motivasi, ketekunan, keuletan, kepemimpinan, kerja sama, dan pendirian yang kuat.

Seseorang dikatakan berkarakter bila mampu memadukan nilai-nilai kesalehan pada semua dimensi dalam merespons suatu situasi tertentu. Ketekunan dan keuletannya dalam meluaskan pengembaraan intelektual, misalnya, seorang yang berkarakter tidak akan menanggalkan kesalehan moral atau mengabaikan kesalehan kewarganegaraan. Pun kekuatan motivasinya untuk mengabdi kepada bangsa dan negara tidak akan melunturkan kesalehan intelektual atau mengorbankan kesalehan moral.
Komprehensif
Dalam rangka membangun karakter murid secara holistik-integratif, pendidikan karakter mesti diimplementasikan secara komprehensif pada seluruh aspek kehidupan sekolah. Seluruh aktivitas sekolah adalah wahana pembangunan karakter. Setiap jengkal tanah dan sudut ruang sekolah adalah lahan pesemaian karakter. Seluruh staf sekolah adalah model (teladan) karakter bagi murid. Setiap murid adalah cermin pemeriksa kepantasan karakter murid yang lain.
Pimpinan sekolah, guru, dan tenaga kependidikan (GTK) memandang setiap aktivitas sekolah dan perilaku murid dengan kacamata karakter. Proses pemerolehan kompetensi dan unjuk prestasi murid—akademik maupun nonakademik—tidak pernah lepas dari kawalan karakter. Interaksi antara GTK dan murid, sesama GTK, dan sesama murid senantiasa berbingkai pembangunan karakter.
Sekolah didesain sebagai ekosistem bagi penumbuhan dan pertumbuhan karakter murid. Seluruh kegiatan terprogram direkayasa sebagai iklim yang kondusif untuk menyuburkan karakter murid. Semua rutinitas kelas dirumuskan prosedurnya untuk membiasakan karakter murid. Setiap aktivitas insidental merepresentasikan budaya (karakter) sekolah.
Makin intens terpapar praktik—melalui pemodelan dan pembiasaan—suatu karakter, murid menjadi makin mudah tertular karakter tersebut. Dalam hal ini, konsistensi GTK memegang peranan kunci. Yang tidak kalah penting adalah penciptaan komunitas peduli: saling asah, asih, dan asuh antarwarga sekolah. Inilah modus pemerolehan karakter melalui penularan.
Makin tandas dalam menalar kebenaran suatu nilai, murid akan makin meyakini urgensi nilai tersebut bagi kehidupannya kini dan kelak. Kreativitas guru dalam menggiring penalaran murid menjadi faktor penting. Untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya sikap acuh (attentive), misalnya, guru dapat merancang sandiwara seperti berikut.
Dua orang murid—sebut saja X dan Y—diminta keluar kelas. Murid-murid lain, yang tinggal di dalam kelas, diskenario untuk merespons kedua temannya secara berbeda. Ketika X kembali masuk dan mengajak bercakap, mereka tidak acuh, melanjutkan obrolan dengan teman sebangkunya. Sementara, kepada Y—yang masuk kembali ke kelas belakangan—mereka menyambutnya dengan antusias. Kemudian X dan Y masing-masing ditanya, bagaimana perasaannya demi mendapati respons teman-temannya terhadap ajakannya untuk berbincang.
Pengalaman yang diperoleh X dari peran dadakannya dalam sandiwara diam-diam tadi menjadi bahan refleksi bagi seluruh murid. Pengalaman pahit yang menimpa X itu menumbuhkan empati. Kelak empati berkembang menjadi tenggang rasa, pangkal tolak perlakuan kepada orang lain. (Yang sempat mengalami masa kejayaan P4 pasti masih hafal, tenggang rasa—bersama pengendalian diri—dinobatkan sebagai pangkal tolak pengamalan Pancasila.)
Penalaran yang melibatkan emosi akan melekat dalam memori jangka panjang. Drama tersebut mengantarkan murid-murid ke pemahaman tentang apa (acuh atau attentive sebagai definisi nilai hormat dalam perilaku nyata), bagaimana (mengejawantahkan perilaku acuh kepada mitra komunikasi), dan mengapa (perilaku acuh dibutuhkan dalam pergaulan sehari-hari). Ini sekadar contoh modus pemerolehan karakter melalui pengajaran.
(Catatan: Sandiwara semacam itu tidak mustahil membuat X betul-betul terluka oleh perlakuan teman-temannya. Jika itu terjadi, menjadi tugas guru untuk membantu X menetralisasi emosinya dan merestorasi relasi dengan teman-temannya.)
Panggung aksi moral dibutuhkan untuk mengasah kepekaan murid-murid dalam memenuhi panggilan karakter. Aneka kegiatan sosial-budaya di luar konteks kelas menjadi ajang yang cukup efektif untuk mengasah kepekaan moral. Perlombaan berbagai cabang olahraga, pertunjukan seni, perkemahan dan jambore, bakti sosial dan pengabdian masyarakat sering memunculkan situasi baru dan tidak terstruktur.
Kehadiran situasi tak terduga itulah yang akan menguji daya spontanitas murid-murid dalam merespons panggilan moral. Perhelatan sepak bola, terutama yang berskala internasional, pun sering melahirkan bintang aksi moral. Liputan seluk-beluk bintang nonteknis bahkan tidak jarang menjadi trending topic, melampaui rating berita mengenai pertandingan sepak bolanya sendiri.
Makin sering terlibat dalam kegiatan di luar konteks kelas yang menantang aksi moral secara spontan, makin terasah pula kepekaan murid-murid dalam merespons panggilan karakter pada situasi baru dan tak terduga. Demikianlah modus pemerolehan karakter melalui pendadaran.
“Virus” karakter ditularkan melalui pemodelan dan pembiasaan secara konsisten. Kesadaran karakter diajarkan melalui penalaran kritis dan penghayatan emosi (empati aditif). Kepekaan karakter ditatar (arkais: dibidik) dan didadar (Jawa: diuji; dipanen) di kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler yang dapat memancing aksi moral spontan dalam merespons situasi baru dan tak terduga.
Kepemimpinan … (bersambung ke bagian 4b)
______________________________
Artikel Seri Pendidikan Karakter selanjutnya:
Bagian ke-4b: Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah #2
Artikel Seri Pendidikan Karakter sebelumnya:
Bagian ke-3: Modus Pendidikan Karakter
Bagian ke-2: Definisi Karakter
Bagian ke-1: Mengapa Karakter?

mexican online pharmacies prescription drugs: mexican mail order pharmacies – best online pharmacies in mexico
order ed pills: Cheapest online ED treatment – how to get ed meds online
top online pharmacy india: Best Indian pharmacy – Online medicine home delivery
https://mexicopharmacy.win/# mexican drugstore online
http://mexicopharmacy.win/# mexico pharmacies prescription drugs
world pharmacy india: Indian pharmacy international shipping – world pharmacy india
https://mexicopharmacy.win/# mexican border pharmacies shipping to usa
ed doctor online: ed doctor online – cheap ed drugs
mexico drug stores pharmacies: pharmacies in mexico that ship to usa – mexican online pharmacies prescription drugs
https://edpillpharmacy.store/# erectile dysfunction medicine online
cheap ed medicine: ED meds online with insurance – best online ed treatment
http://indiapharmacy.shop/# online shopping pharmacy india
buy ed medication: ED meds online with insurance – buying ed pills online
buy prescription drugs from india: Top mail order pharmacies – best online pharmacy india
https://indiapharmacy.shop/# india pharmacy mail order
Online medicine home delivery: Online pharmacy – online shopping pharmacy india
https://mexicopharmacy.win/# mexican border pharmacies shipping to usa
online erectile dysfunction: ED meds online with insurance – get ed meds today
https://mexicopharmacy.win/# buying prescription drugs in mexico
where can i buy erectile dysfunction pills
https://edpillpharmacy.store/# order ed meds online
top 10 online pharmacy in india: indian pharmacy – top 10 pharmacies in india
https://edpillpharmacy.store/# ed online prescription
ed medications cost
mexico drug stores pharmacies: Best pharmacy in Mexico – pharmacies in mexico that ship to usa
https://mexicopharmacy.win/# mexican pharmaceuticals online
erectile dysfunction medication online
http://edpillpharmacy.store/# online ed medicine
https://indiapharmacy.shop/# pharmacy website india
buy erectile dysfunction pills online
erection pills online: Cheapest online ED treatment – cheap boner pills
http://tadalafil.auction/# costa rica cialis sale
buy generic viagra online: Buy Viagra online cheap – generic viagra
https://tadalafil.auction/# cialis usa
viagra vs cialis: buy sildenafil online usa – viagra online
free viagra: buy sildenafil online canada – viagra vs cialis
https://sildenafil.llc/# viagra canada
buy cialis using paypal: cheapest tadalafil – where to buy cialis in singapore
https://cialisgenerico.life/# comprare farmaci online con ricetta
Farmacia online piГ№ conveniente: kamagra oral jelly consegna 24 ore – migliori farmacie online 2024
comprare farmaci online con ricetta: kamagra gel – farmacia online piГ№ conveniente
comprare farmaci online all’estero: Farmacia online migliore – п»їFarmacia online migliore
Farmacia online miglior prezzo: Farmacia online migliore – Farmacie online sicure
http://farmait.store/# migliori farmacie online 2024
alternativa al viagra senza ricetta in farmacia: viagra online siti sicuri – viagra acquisto in contrassegno in italia
farmacia online piГ№ conveniente: sildenafil oral jelly 100mg kamagra – farmacia online
migliori farmacie online 2024: Farmacie che vendono Cialis senza ricetta – comprare farmaci online all’estero
viagra naturale in farmacia senza ricetta: viagra senza prescrizione – viagra generico in farmacia costo
http://viagragenerico.site/# alternativa al viagra senza ricetta in farmacia
Farmacia online piГ№ conveniente: Cialis generico farmacia – Farmacie online sicure
viagra naturale: viagra senza prescrizione – farmacia senza ricetta recensioni
viagra originale in 24 ore contrassegno: viagra prezzo – viagra naturale in farmacia senza ricetta
farmacia online: kamagra – top farmacia online
pillole per erezioni fortissime: viagra originale in 24 ore contrassegno – viagra generico recensioni