Asesmen Akhir Tahun (AAT) telah usai. Kegiatan anak-anak difokuskan untuk persiapan Ekshibisi Akhir Tahun. Selasa, 16 Juni 2026, terdapat libur tahun baru Hijriah. Kami tak ingin melewatkannya tanpa mengingatkan anak-anak akan peristiwa hijrah Rasulullah. Salah satu cara yang kami lakukan adalah melalui kegiatan pawai.
Jumat siang, Pak Adhit mengirim sebuah foto Pak Kholis dan Pak Yahya yang tengah menggunting kertas krep. Kiriman foto tersebut disertai takarir, “Bapak/Ibu katuran bantuan bagi yang lêga untuk membuat manggar, nggih.”
“Oh, tarhibnya jadi, to?” celetuk Bu Puput saat berpapasan dengan saya di selasar.
“Jadi, Bu. MMT-nya sudah datang sejak sepekan yang lalu,” respons saya.
Saya memahami pertanyaan Bu Puput. Sejak AAT hingga Jumat itu, kegiatan para guru sangat padat. Mulai dari koreksi, menyiapkan administrasi rapor, finalisasi buku tulisan murid, hingga persiapan ekshibisi. Kesibukan tersebut seakan menenggelamkan rencana perayaan tahun baru Hijriah yang telah dirancang oleh Pak Adhit selaku penanggung jawab kegiatan.
Tibalah waktunya pawai. Anak-anak memakai baju muslim bebas. Ratusan kembang manggar telah disiapkan. Sebagian di antaranya dibuat menjadi dua rangkaian kembang manggar besar. Fathir dan Adit yang membawanya. Kembang manggar satuan dibagikan kepada semua murid. Menambah kemeriahan pawai pagi itu. Setelah barisan siap, Bu Nana melepas rombongan.
“Dengan mengucap bismillāhirraḥmānirraḥīm, SD Islam Hidayatullah 02 akan mensyiarkan tahun baru Hijriah 1448,” pekik Bu Nana melalui pelantang suara.
Saya tidak mengikuti pawai. Ada tugas yang perlu saya kerjakan segera. Sekitar 30 menit berselang, rombongan pawai sudah tiba kembali ke Sekolah. Sebelum memasuki gedung, Pak Adhit mengarahkan anak-anak dan para guru berfoto bersama di depan gedung sekolah. Kebetulan saya juga sedang berjalan menuju tempat tersebut dari kantor Lembaga. Saya sempatkan mengabadikan momen foto bersama itu menggunakan ponsel saya.
“Sudah makin banyak saja murid-murid kami. Tantangan ke depan harus dihadapi. Semoga kami …,” batin saya.
Suara Pak Adhit menyadarkan saya dari lamunan.
“Kelas 1 silakan kembali ke kelas!” komando Pak Adhit.
Saya mengikuti barisan kelas 1. Anak-anak melepas sepatu di depan pintu lobi. Sebagian besar di antaranya sambil membawa botol mium dan kembang manggar.
Anak-anak tampak kesulitan membawa banyak barang. Selain barang-barang tersebut, mereka mesti membawa serta sepatu masing-masing. Hal ini menyebabkan beberapa kembang manggar berjatuhan.
Seorang gadis kecil menarik perhatian saya. Ia memunguti kembang manggar yang terjatuh. Tak hanya sekali. Berkali-kali. Hingga akhirnya terkumpul enam batang kembang manggar di tangan mungilnya. Saya menyaksikan kerepotan gadis itu. Ia membawa botol minum yang ia kempit di antara lengan dan pinggang kirinya. Tangan kirinya ia gunakan untuk memunguti kembang manggar. Tangan kanannya ia gunakan untuk meraih sepasang sepatunya. Saya segera merogoh kantong baju saya untuk mengambil ponsel, lalu mengabadikan peristiwa itu.
Saya tak menanya lebih jauh apa alasan gadis kecil itu memunguti kembang manggar. Yang saya tahu, tindakannya merupakan sebuah bentuk kepedulian yang layak mendapat apresiasi. Aksi gadis kecil itu membuat saya merasa dejavu. Kepedulian serupa juga pernah terekam di sini: https://sdislamhidayatullah02.sch.id/2026/04/04/kebaikan-dan-pengingat/ oleh kakak kelasnya.
Terima kasih, Clemira!

