Supervisi pembelajaran kembali dilaksanakan. Kamis (30/04/2026) pukul 07.15—08.15 terjadwal supervisi untuk Pak Kukuh. Beliau mengajar PJOK. Sebelum pelaksanaan KBM, saya sempatkan membaca Lesson Plan buatan Pak Kukuh. Materi hari itu tentang servis pendek dalam permainan bulu tangkis.

Murid-murid kelas 4 telah bersiap. Mereka berjalan dari lantai dua. Menuju halaman sekolah. Siluet gerakan mereka tampak dari dalam ruangan saya. Saya pun bergegas mengikuti mereka. Setiap anak yang saya jumpai membawa sepatu, botol minum, dan raket.

Valda tampak melambatkan langkah kakinya. Kedua tangannya penuh dengan barang bawaan. Dalam keterbatasan kondisi itu, Valda membuka telapak tangannya. Ia bermaksud untuk salim dengan saya. Saya meraih telapak tangannya. Namun, telapak tangan Valda cukup mungil untuk mengarahkan telapak tangan saya menjangkau hidungnya.

“Salimnya begini saja, gak pa-pa, Mbak Valda,” ujar saya sembari melepaskan telapak tangan Valda dan menempatkan punggung telapak tangan saya di hidung Valda.

Valda membalas dengan senyuman.

Saya membawa berkas penilaian dan kursi dari dalam ruangan. Saya mengarahkan pandangan ke lapangan. Rupanya Pak Kukuh sudah menyiapkan dua kursi. Untuk Bu Nana dan saya. Menyadari hal itu, saya pun mengembalikan kursi yang tadi saya bawa.

Saya kembali ke lobi. Di ujung lobi, saya mengambil sepatu yang saya simpan di sofa yang sekaligus difungsikan sebagai tempat alas kaki. Saya menaruh sepatu tersebut di depan pintu lobi.

“Haqqi, kamu gak bawa raket?” tanya Kalynn sambil mengenakan sepatu pink-nya.

Haqqi tidak menjawab. Ia sedang fokus membantu Pak Hendro. Pak Hendro merupakan salah satu petugas kebersihan Sekolah. Beliau sedang membersihkan bekas double tape yang melekat di lantai teras. Sembari tengkurap, Haqqi berusaha mengelupas pita dua sisi itu dari lantai.

“Haqqi, kamu gak bawa raket?” ulang Kalynn. Kali ini ia menaikkan volume suaranya.

“Iya,” jawab Haqqi singkat. Ia masih fokus dengan kegiatannya.

“Kamu pakai punyaku aja. Aku bawa dua,” tawar Kalynn.

“Makasih, Kalynn,” respons Haqqi.

“Sama-sama. Itu raketnya di bawah kursi,” jelas Kalynn sambil menunjuk posisi raketnya.

Haqqi bergegas bangun dari posisinya. Mengambil raket yang ditawarkan oleh Kalynn. Menyadari ada saya, Haqqi pun salim.

Hari masih pagi. Bahkan pelajaran jam pertama baru akan dimulai. Sepagi itu saya telah menyaksikan banyak kebaikan. Langkah kaki saya menuju lapangan terasa ringan. Sungguh sebuah pembuka hari yang manis. Terima kasih, Pak Kukuh, Valda, Kalynn, dan Haqqi.

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code