Sejak awal tahun ajaran 2025/2026, English Club mulai diadakan. Dilaksanakan setiap Rabu dan Kamis. Sepulang sekolah. Hari Rabu untuk kelas 3 dan 4. Hari Kamis bagi kelas 1 dan 2. Bu Iin, Bu Nana, dan saya yang menjadi pengampunya. Bu Nana mengampu kelas 3 dan 1. Sementara saya mengampu kelas 4 dan 2. Bu Iin mengampu “tim inti” dari kelas 1—4. Dari empat kelas tersebut, kami mengidentifikasi murid-murid yang kemampuan bahasa Inggrisnya di atas rata-rata dibanding teman-teman sekelasnya. Merekalah yang kami sebut “tim inti”. Tim inti kelas 3 dan 4 digabung. Begitu pula dengan kelas 1 dan 2.
English Club hari Rabu dimulai pukul 14.15. Dan kali ini ada yang spesial. English Club tak hanya diikuti oleh murid-murid kelas 3 dan 4. Bapak/Ibu Guru dan tendik juga turut bergabung. Sebelumnya, setiap hari, semua guru dan tendik mengikuti English Club khusus guru dan tendik. Khusus hari Rabu dan Kamis, guru, tendik, dan murid-murid mengikuti kegiatan tersebut secara bersamaan. Di waktu dan tempat yang sama. Semua guru dan tendik dibagi pula menjadi 3 kelompok.
Jumat (06/02/2026), saya menerima informasi undangan rapat untuk hari Rabu (11/02/2026). Rapat online via Zoom. Pukul 13.00—14.30. Itu artinya, saya bakal terlambat mengampu English Club. Saya mengabaikannya. Saya sudah punya beberapa opsi solusi.
“Bu Puput, nanti pukul 14.15—14.30 saya masih ada rapat. Minta tolong Bu Puput yang mengisi English Club dulu, ya. Dengan Bu Eva,” pinta saya.
Sebelum saya menyebut nama Bu Eva, tersirat keraguan di wajah Bu Puput.
“Oke, Bu. Nanti materinya apa?”
Saya menjelaskan kepada Bu Puput sesuai apa yang sebelumnya sudah saya sepakati bersama Bu Iin. Saya pun berpamitan. Menuju ruang kelas 1. Saya sampaikan maksud saya. Respons Bu Eva hampir mirip dengan Bu Puput. Kesungguhan Bu Eva tampak saat beliau menanyakan materi yang hendak diajarkan.
“Saya sudah menjelaskannya ke Bu Puput. Nanti Bu Eva tanyakan ke Bu Puput tentang detailnya, ya.”
Saya meminta Bu Eva dan Bu Puput karena keduanya sudah mengikuti English Camp di Pare. Dan materi English Club hari ini sudah keduanya kuasai.
Jelang kepulangan kelas 4, saya meneruskan pesan undangan rapat online tersebut kepada Bu Iin. Bu Iin merupakan penanggung jawab English Club.
“I have to join this meeting, Bu Wiwik? So, how about our PIL, Bu Wiwik? 🙏” respons Bu Iin.
“No, Bu. I just inform you that I have to join this meeting. So, I think Bu Eva and Bu Puput can replace me first (on English Club),” jawab saya.
“Okay Bu Wiwik, I have to tell them and let them decide, who will replace Bu Wiwik?”
“I have already told them, Bu.”
“Are they okay, Bu Wiwik? Or should we divide only 2 group?
“Alhamdulillah, they said okay, Bu. And it’s just for 15 minutes, insyaallah.
“Alhamdulillah, thank you, Bu Wiwik 🙏.”
Saya sangat bersyukur, dalam kondisi yang mendesak, Bu Iin masih berpikir jernih. Beliau teringat akan PIL (Program Induksi Lanjut). PIL yang dimaksud adalah bimbingan untuk memenuhi kompetensi pengabdi yang disyaratkan dalam aturan kepegawaian. Biasanya terjadwal hari Senin. Namun, Senin lalu, saya ada uzur sehingga kami sepakati dijadwalkan ulang hari Rabu pukul 13.00. Saat menyepakatinya, saya bermaksud nyambi antara rapat online dan PIL. Namun ternyata, belum memungkinkan jika saya harus nyambi. Akhirnya, saya batalkan PIL tersebut.
Baca juga: Ngopeni Ngaji
Perilaku Bu Iin juga patut menjadi teladan. Menawarkan bantuan tanpa diminta. Tak hanya Bu Iin. Bu Eva dan Bu Puput juga menunjukkan sikap keteladanannya. Beliau berdua dengan tangan terbuka menerima permintaan bantuan saya.
Itu pula yang sering saya baca di anekdot murid-murid. Murid-murid membantu tanpa diminta. Murid-murid peduli terhadap kesulitan teman atau orang lain di sekitarnya. Rupanya, apa yang guru teladankan akan beresonansi kepada murid-muridnya. Semoga resonansi kebaikan ini senantiasa bergema di Sekolah.

