Kamis, 17 Juli 2025. Pagi itu, hari keempat MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) terasa begitu hidup. Jadwal kelas 2 hari itu padat: apel pagi, hafalan tahfiz, penguatan sikap dan karakter, salat duha, hingga simulasi tata cara BAK dan BAB. Setelahnya, mereka membuat karya, lalu pulang ke rumah masing-masing.

Saat simulasi itu, saya menemani para murid putri di kamar mandi. Satu per satu, mereka mempraktikkan SOP BAK dan BAB. Saya mengamati dengan saksama. Banyak dari mereka sudah mahir, gerakannya cekatan dan benar. Tapi, tak sedikit juga yang masih tampak canggung dan belum sempurna. “Tidak apa-apa,” batinku. Semua butuh proses. Pasti nanti mereka bisa.

Setelah simulasi selesai, saya kembali ke kelas. Udara di luar terasa sejuk. Akhirnya istirahat pun tiba. Saya menetap di kelas, sedang asyik memeriksa ulang lembar penilaian. Tiba-tiba seorang murid menghampiri saya, mendekat ke telinga saya.

“Bu, sapu,” ucapnya lirih.

“Oh, sapunya ada di sudut kelas, Nak. Di samping loker biru,” jawab saya.

Ia mengangguk, lalu beranjak mengambilnya. Postur mungilnya tampak sedikit kewalahan menenteng sapu yang tingginya hampir melebihi badannya, lengkap dengan engkrak di tangan kirinya. Perlahan tapi pasti, ia mulai menyapu remah kotoran di sekitar meja dan kursi. Gerakannya pelan, tetapi penuh ketekunan.

Tak lama kemudian, ia kembali menghampiri saya.

“Bu, minta tisu,” pintanya lagi.

“Untuk apa?” tanya saya penasaran.

“Kursinya kotor,” jawabnya singkat.

“Baiklah, ada di atas rak buku. Silakan ambil,” ujar saya sambil tersenyum.

Tanpa banyak bicara, ia mengambil tisu itu. Lalu, ia membasahi sedikit tisu tersebut. Dengan teliti, jari-jari kecilnya mulai mengusap bagian-bagian kursi yang kotor. Setiap sudut tak luput dari perhatiannya.

Masyaallah, pemandangan itu benar-benar menyejukkan hati. Terima kasih, Hamka. Di tengah hiruk pikuk kelas, tak ada seorang pun yang mungkin memperhatikan perbuatan kecilnya. Ia tidak mencari pujian, tidak mengharapkan tepuk tangan. Hamka hanya ingin bertanggung jawab atas meja dan kursinya. Diam-diam, ia mengajarkan kepada kami semua tentang makna tanggung jawab yang sesungguhnya.

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code