“Anak-Anak, silakan boleh ke tempat tahfiz masing-masing,” sila saya.

Selasa (22/04/2024) kegiatan belajar murid kelas 2 berbeda dari hari-hari sebelumnya. Pada kesempatan ini anak-anak belajar di luar sekolah. Hari sebelumnya guru kelas sudah mengumumkan bahwa hari Selasa memakai pakaian olahraga. Kegiatan belajar akan dilaksanakan tidak di sekolah. Kami hendak mengajak anak-anak ke markas Batalyon Infanteri Raider/Banteng Raiders (Yonif Raiders 400/BR) yang akrab disebut BR. Kepada anak-anak, objek kunjungan ini masih kami rahasiakan. Banyak dari mereka yang bertanya-tanya. Saya sengaja tidak memberitahu mereka. Ini saya lakukan untuk membuat anak-anak penasaran.

“Bu, sebenarnya kita mau ke mana, sih?” tanya Icha.

“Rahasia,” jawab saya iseng.

“Ihh, dari kemarin rahasia terus.”

“Iya, dong. Nanti tidak seru kalau diberitahu sekarang. Kegiatannya nanti seru dan berbeda dari biasanya.”

Saya memperhatikan ada beberapa anak yang sudah tahu lokasi yang akan dikunjungi. Namun, saya memberikan kode mata supaya tidak membocorkan informasi. Biar saya sendiri yang akan memberitahukan kepada anak-anak.

“Anak-Anak, hari ini kita akan belajar di luar sekolah. Untuk itu, Bu Guru berpesan supaya menahan diri dan tidak berlebihan. Hal-hal yang baik di sekolah tetap digunakan meskipun di luar sekolah,” tegas saya.

“Hari ini kita akan mengunjungi Yonif 400/Banteng Raiders. Anak-Anak sebelumnya sudah ada yang pernah ke sana?”

“Saya pernah, Bu. Hanya di kolam renangnya,” sahut Gibran.

“Saya juga, Bu,” timpal Rafa.

“Wah, ternyata sudah ada yang pernah ke sana, ya. Namun, kali ini kita tidak akan ke kolam renang. Melainkan kita akan mengelilingi seluruh kawasan Yonif 400/Banteng Raider.”

Setelah saya memberitahukan lokasi yang akan dikunjungi, anak-anak terlihat sangat bersemangat. Bahkan ketika Bu Yunita memberi aba-aba untuk tertib, anak-anak dengan sigap langsung tertib.

Pendamping anak-anak terdiri dari saya, Bu Yunita, Ustzah Layla, Bu Balqis, dan Ustaz Adhit. Sebelum berangkat, Ustaz Adhit memimpin doa terlebih dahulu.

“Bebek Goreng Pak Slamet, Ayam Goreng Abah Gatot, Bakso Doa Ibu,” ucap Fathir dengan lirih.

Saya tidak menanggapi ucapan Fathir, tetapi saya memperhatikan bahwa ia sedang membaca tulisan di sepanjang jalan.

Perjalanan menuju lokasi tidak memerlukan waktu yang lama, hanya butuh kurang dari 30 menit. Sampai di lokasi, anak-anak dipandu oleh salah seorang anggota TNI. Mereka dengan tertib mengikuti semua arahan yang diberikan.

Kegitan pertama anak-anak mengunjungi Museum Ahmad Yani. Pak Tentara menjelaskan setiap isi sudut yang ada di dalam meseum. Seusai menjelaskan, Pak Tentara memberikan kesempatan bagi yang ingin bertanya atau sekedar melihat-lihat.

“Bu, izin baca yang di sana, ya,” izin Rara.

“Iya, boleh.”

Anak-anak berkumpul bebas tidak sesuai kelompok. Melihat dan membaca setiap sudut museum.

Gibran, Fathir, dan Vano sedang berinteraksi dengan salah satu seorang tentara. Terlihat banyak hal mereka tanyakan. Shelo, Azza, dan Tristan pun tidak mau ketinggalan. Mereka juga sedang asyik bertanya kepada seorang tentara yang lain.

“Bu, tanyain Jendral Ahmad Yani sudah meninggal, belum?” tanya Alisha malu-malu.

“Coba tanya sendiri, dong!” perintah saya.

Alisha, Icha, dan Kinan terlihat malu-malu. Setelah melihat Aya berani bertanya kepada seorang tentara, mereka akhirnya berani untuk bertanya. Karakter anak-anak memang berbeda-beda. Ada yang berani dan ada yang malu-malu. Terkadang setelah melihat salah satu anak yang berani, tiba-tiba rasa keberanian muncul dengan sendirinya.

Setelah melihat isi museum, kegiatan anak-anak selanjutnya berkeliling markas BR naik mobil Atav dan Hilux. Anak-anak makin bersemangat. Mungkin itu juga merupakan pengalaman pertama bagi mereka.

Puas berkeliling, anak-anak menuju GOR Firdaus untuk beristirahat. Sembari beristirahat, tentara yang memandu kegiatan menunjukkan senjata-senjata yang dimiliki BR. Anak-anak lagi-lagi dibuat takjub. Ketika Pak Tentara sedang menunjukkan salah satu senjata, Tristan dengan cepat menebak nama senjata itu. Ya, tebakan Tristan benar. Sekilas saya melihatnya ya sama saja, he-he.

Fathir, Gibran, dan Rafa dengan cepat menyelesaikan makan bekal. Mereka sudah tidak sabar untuk mencoba menggunakan senjata. Anak-anak lain tidak mau ketinggalan. Setelah menyelesaikan makan, mereka ikut mencoba. Kegiatan berlangsung dengan lancar dan menyenangkan. Semoga pengalaman ini bermanfaat untuk murid-murid kelas 2.

 

Baca juga: Naik Truk TNI, Lihat Senjata Asli

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code