“Assalamualaikum,” seru sejumlah murid.
Suaranya bebarengan. Saya menengok sumber suara. Ya, dari arah pintu ruangan saya. Sangat jelas. Dua murid perempuan. Keduanya masuk ke dalam ruangan setelah saya menjawab salam mereka.
Saya masih sangat mengenal keduanya. Sekarang mereka kelas 3. Nayla dan Najwa.
“Ini untuk Pak Kambali.”
“Dari siapa? Dari anak-anak kelas 3?”
“Dari Pak Adhit, Pak.”
“Baik, terima kasih, ya!”
Usai menerima bingkisan yang dibawa Nayla dan Najwa, saya lihat jam. Lalu saya catat: kegiatan Rabu (07/05/2025) itu dimulai pukul 07.45 dan berakhir pukul 10.15.
Ya, Nayla dan Najwa bersama murid-murid kelas 3 lainnya baru saja tiba di Sekolah—SD Islam Hidayatullah 02. Mereka diajak guru-gurunya berkunjung ke Mako Brimob.
Saya bersyukur dengan kehadiran Nayla dan Najwa di ruangan saya. Mengapa?
Tiba-tiba, saya teringat peristiwa 20-an tahun lalu. Saat itu saya masih belajar di pondok pesantren. Sebagai santri (baca: murid).
Saya termasuk santri kategori kurang PD (percaya diri). Dan saya bukanlah seperti teman-teman yang aktif mengikuti organisasi.
Hingga suatu ketika saya diutus salah satu guru. Ustaz Ali namanya. Saya diminta menyerahkan surat kepada pimpinan Pondok. Seketika saya merasa takut menjalankannya, tetapi saya tidak berani menolak. Akhirnya dengan segala daya upaya, saya beranikan diri, melaksanakan tugas Ustaz Ali.
Alhamdulillah, berhasil. Tugas dari Ustaz Ali tertunaikan dengan baik. Dan sejak saat itu saya sering berurusan dengan pimpinan Pondok. Kepercayaan diri saya berangsur-angsur meningkat.
Terlepas apa pun konteksnya, saya sangat yakin, Nayla dan Najwa akan mendapat kebaikan dan kemanfaatan. Atas apa yang mereka jalankan. Menunaikan tugas dari gurunya, Ustaz Adhit.
Itu hal yang mudah dipahami. Setidaknya ayat ke-60 surah Ar-Rahman menjelaskannya. “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).”
Bukankah yang dilakukan Nayla dan Najwa termasuk kebaikan? Apalagi keduanya melakukan dengan sukacita. Sekaligus Nayla dan Najwa belajar dan berlatih rida dan ikhlas. Ya, aktivitas keduanya memang sederhana—bahkan, bagi sebagian orang, itu dianggap sepele. Namun, kenyataannya, aktivitas tersebut sarat dengan makna. (A1)
