Semester gasal tahun ajaran 2024/2025 hampir usai. Tibalah saatnya Penilaian Akhir Semester untuk anak-anak. Kelas 1 baru pertama merasakan betapa sakralnya penilaian semesteran. Mereka harus mempersiapkan diri dengan belajar dan persiapan mental untuk menghadapinya. Ada yang merasa takut ada pula yang biasa-biasa saja.
Pada pembelajaran efektif harian, saya sudah mulai mengenalkan soal pilihan ganda kepada anak-anak. Yaitu pada pelajaran Akidah Akhlak, Fikih, dan Al-Qur’an Hadis. Yang pada semester ini saya mendapatkan amanah untuk mengampunya di kelas 1. Tetapi faktualnya tak sedikit anak-anak masih belum bisa memahami bagaimana sistem soal pilihan ganda tersebut. Yang memang pada PAS ini jenis soal tersebut diimplementasikan secara penuh. Maka suatu PR bagi saya untuk menuntaskan problematika ini.
Benarlah, ketika saya mengoreksi jawaban mereka, tak sedikit soal yang terjawab salah. Bahkan jawabannya sangat menggelitik. Salah satunya adalah jawaban Gabi. Pada soal mata pelajaran Fikih. Tertulis soal sebagai berikut.

Oleh bundanya, Gabi ditanya, “Kenapa dijawab karena Ustaz Adhit, Nak?”
“Ya, kan, emang salatnya disuruh Ustaz Adhit,” jawab Gabi, sungguh menggelitik.
Sang bunda pun tertawa terpingkal-pingkal. Melihat di story WA beliau, saya pun sempat ikut tergelitik. Setelah itu saya mulai berpikir. Berarti selama ini …? Baru satu anak, sih, yang saya temukan. Tetapi bagi saya cukup mengkhawatirkan.
Pendidikan Agama Islam di kelas 1 ini memang sebagian besar masih mengandalkan model reward. Anak-anak diberi jurnal untuk mengontrol salat 5 waktu. Pada akhir tahun ajaran akan dilihat siapa yang paling rajin salat 5 waktu. Mereka akan mendapatkan sesuatu sebagai reward tersebut.
Dalam prosesnya, kami—para guru—tidak melepas begitu saja anak-anak berlatih menunaikan kewajibannya sebagai muslim. Saya, Bu Wiwik, dan Bu Eva, setiap pagi mengingatkan mereka akan kewajiban salat. Mungkin, karena itulah anak-anak menganggap salat mereka karena gurunya. Padahal, sejatinya salat hanya karena Allah Sang Pencipta.
Pada 22 Desember 2024, guru dan tenaga kependidikan SD Islam Hidayatullah 02 diajak oleh Kepala Sekolah sowan ke salah satu ulama, yaitu Habib Sholeh Al-Jufri, di Pondok Pesantren Darul Musthafa, Karanganyar, Jawa Tengah. Di sana kami mendapatkan banyak sekali ilmu baru dan juga pengingat. Salah satu poin yang saya tangkap adalah tentang keikhlasan dalam beribadah.
“Tidak apa-apa, kita sementara ini ibadah karena sesuatu, karena biar dilihat mertua, misalnya. Dengan harapan, nanti lama-lama jika sudah terbiasa akan ikhlas sendiri karena Allah Swt.”
Dari pesan beliau, saya teringat kasus Gabi. Kalau orang dewasa saja dianjurkan berlatih untuk ikhlas, apalagi anak-anak. Orang dewasa saja bisa menempuh proses yang cukup lama untuk mencapai predikat ikhlas. Apalagi anak-anak, yang baru memulai petualangan belajar. Wallāhu a’lam.
Sementara ini, tidak mengapa Gabi menganggap salat lima waktu karena Ustaz Adhit. Semoga kelak Gabi mencapai predikat ikhlas dalam salat lima waktu. Bukan karena Ustaz Adhit, Bu Wiwik, ataupun Bu Eva. Seiring berjalannya proses pendidikan, semoga Gabi mendapatkan keberkahan dari Allah Swt. Begitu juga orang tua dan gurunya turut mendapatkan keberkahan-Nya. Amin.
