Sempat pesimistis. Akhir pekan dengan libur yang panjang. Sabtu hingga Selasa anak-anak libur. Kondisi semacam ini biasanya akan sulit menyepakati waktu home visit. Sebagian besar keluarga biasanya telah merencanakan agenda liburan mereka.

Mei sudah beranjak ke pertengahan bulan. Masih tersisa tujuh anak yang belum dikunjungi. Bersyukur, Sabtu ini tersepakati dua kunjungan. Ke rumah Arka dan Nadhif. Bu Eva sigap menyiapkan SPPD dan suvenir yang hendak dibawa. Pukul 08.40, kami keluar Sekolah. Berempat—saya, Bu Eva, Pak Kukuh, dan Pak Adhit—melaju dengan dua sepeda motor. Saya membonceng Bu Eva. Pak Adhit membonceng Pak Kukuh.

Sekitar 15 menit kemudian, kami tiba di rumah Arka. Kedua orang tua Arka menyambut kami di teras. Arka, yang tadinya penasaran, serta-merta lari masuk ke dalam rumah. Kami duduk di sofa ruang tamu.

“Mas Arka, sini salim dulu!” seru Bu Eva.

Arka berlari keluar dari ruang keluarga. Ia pun menyalami kami satu per satu. Setelah salim, Arka kembali masuk ke area ruang keluarga.

“Mohon maaf, Ayah/Bunda, kami mengganggu waktu liburnya,” ucap saya mengawali perbincangan.

“Enggak, Bu. Kalau liburan, kami malah sering di rumah saja. Apalagi pekan depan Ahad—kakak Arka—mau ujian. Jadi, praktis kita di rumah,” jelas bunda Arka.

“Alhamdulillah, akhirnya bisa silaturahmi ke sini setelah beberapa kali gagal (menyepakati waktu),” lanjut Bu Eva.

Arka terlihat hilir mudik antara ruang keluarga dan ruang tamu. Sangat tampak ia ingin diperhatikan, namun ia masih sungkan. Malu-malu mau. Khas anak-anak.

Saya melirik ke bawah meja. Terdapat lembaran-lembaran kertas soal.

“Mas Arka, (soal-soal) ini yang mengerjakan Arka?” tanya saya.

Arka mendekat dan menjelaskan dengan semangat.

“Iya. Ini di-print sama Bunda.”

“Wah, keren. Mas Arka sudah belajar berhitung sampai ratusan. Belajarnya sama siapa?”

“Sendiri. Tapi kadang dibantu Bunda.”

Arka kembali ke ruang keluarga. Ia memanjat sofa, berlarian, memainkan kursi beroda, main bola, berguling-gulingan di sofa, lompat-lompat, naik turun tangga, dan banyak aksi Arka lainnya. Selama perbincangan—yang hampir sejam—itu, Arka tak berhenti bergerak.

“Arka ini yang paling cerewet dibanding kedua kakaknya, Bu,” jelas bunda Arka. “Dia juga yang paling disiplin menegakkan aturan. Kalau kakaknya main HP melebihi waktu yang disepakati, Arka pasti melapor ke saya,” lanjut Bunda Arka.

“Masyaallah. Iya, Bun. Alhamdulillah, sekarang Mas Arka juga sudah sering melapor kalau ada yang menurutnya tidak sesuai. Padahal, dulu, Mas Arka sangat pendiam,” timpal Bu Eva.

Selama kurang lebih satu jam kami berbincang, selama itu pula Arka tak bisa duduk diam. Benar-benar selalu bergerak. Ada saja yang ia lakukan. Tanpa perlu dijelaskan oleh sang bunda, kami dapat menyimpulkan bagaimana Arka di rumah: tidak bisa diam.

Baca juga: Tuntas 100%

Saya merenung. Betapa selama ini Arka sangat tangguh dalam menjaga diri. Ia bisa duduk tenang di kelas. Tak pernah sekali pun saya menegurnya sebab tidak tertib. Ia baru mulai melampiaskan energinya saat istirahat. Lari-lari atau main bola kecil di lobi merupakan aktivitas yang ia gemari saat jam istirahat. Selain bermain, energi Arka juga disalurkan dengan membantu merapikan dan membersihkan kelas. Hampir setiap hari Arka menjumputi kotoran di karpet. Ia juga salah satu anak yang tidak pernah absen mengangkat meja katering. Tak hanya itu, Arka selalu siap membantu membereskan wadah hidangan katering makan siang.

Saya baru sadar, Arka memang tidak bisa diam. (A2)

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code