Saya dilanda dilema. Dihadapkan pada dua pilihan. Kedua opsi itu sama-sama berisiko. Dua gadis kecil mendatangi meja saya.
“Bu, bolehkah saya dan Kirana membaca buku di perpus?” pinta Aqilaa.
Saya tak segera menjawab. Permintaan dua gadis cilik itu membuat saya bimbang. Aqilaa menangkap kebimbangan saya. Namun, ia bergeming.
“Bu Nika di ruang TU, jadi di perpus enggak ada yang jaga,” respons saya.
Jawaban saya itu telah dipahami oleh Aqilaa dan Kirana. Secara tidak langsung: saya melarang keduanya. Walau sebenarnya, saya ingin sekali mengizinkan keduanya. Kami telah bersepakat bahwa anak-anak boleh ke perpus kalau ada yang jaga. Kesepakatan itu tak hanya bagi Aqilaa dan Kirana, melainkan juga untuk semua murid kelas 1–3. Aqilaa tampak lesu saat mendengar jawaban saya.
Saya ragu untuk melarang keduanya secara langsung. Beberapa alasan terlintas di benak saya. Saya tak ingin mengendurkan semangat Aqilaa dan Kirana. Apalagi semangat dalam membaca. Mungkin mereka butuh suasana baru. Tidak di kelas melulu.
Namun, jika saya izinkan, saya khawatir akan ada anggapan inkonsistensi. Padahal, untuk membudayakan kebiasaan baik, butuh konsistensi.
“Boleh, ya, Bu? Nanti kita akan jaga diri, kok,” bujuk Aqilaa.
Saya makin tak tega. Makin tak sampai hati. Saya pun menemukan cara. Lebih tepatnya alibi. Lebih tepat lagi: ngeles.
“Mbak Aqilaa dan Mbak Kirana, kan, tahu. Anak-anak boleh ke perpus kalau ada yang jaga. Sebenarnya, Mbak Aqilaa dan Mbak Kirana tidak boleh ke perpus sekarang. Kali ini, Bu Wiwik beri kepercayaan kepada Mbak Aqilaa dan Mbak Kirana. Bu Wiwik yakin kalian bisa dipercaya.”
Binar kebahagiaan terpancar di wajah keduanya. Keraguan saya pun mulai luntur.
“Selain karena Bu Wiwik percaya, Bu Wiwik juga ada tugas yang harus diselesaikan Mbak Aqilaa dan Mbak Kirana.”
“Apa, Bu?” tanya keduanya, penasaran.
“Tadi pagi, waktu tahfiz, Bu Wiwik lihat buku-buku di perpus ada yang belum tertata rapi. Bu Wiwik minta tolong Mbak Aqilaa dan Mbak Kirana merapikan buku-buku itu, ya,” pungkas saya.
Aqilaa dan Kirana makin berbinar. Keduanya lantas pamit menuju perpustakaan.
Beberapa waktu kemudian, Aqilaa dan Kirana melapor. Keduanya telah menyelesaikan membaca buku di perpustakaan sekaligus merapikan buku-buku yang belum tertata dengan baik. Saya beri mereka apresiasi dan ucapan terima kasih.
Saya tidak mengecek. Saya sangat memercayai kedua gadis itu. Keduanya sering membantu merapikan kelas tanpa diminta. Dan benar saja. Saat saya ada keperluan ke ruang TU, Bu Nika menemui saya.
“Bu, yang merapikan buku-buku di perpus, Bu Wiwik?” tanya Bu Nika.
“Oh, bukan, Bu. Anak-anak. Tadi saya minta tolong Aqilaa dan Kirana.”
“Alhamdulillah. Makasih, ya, Bu. Biasanya saya rapikan setiap hari. Hari ini saya belum sempat merapikan,” ungkap Bu Nika.
“Iya, Bu. Sama-sama. Anak-anak seneng, kok, Bu.”
Mendengar respons terakhir Bu Nika, saya sempat kaget. “Ini akan menjadi PR untuk saya dan teman-teman guru. Menguatkan kembali tentang SOP saat di perpustakaan kepada anak-anak,” batin saya.
Saya masih dihadapkan pada kebimbangan. Ruang perpustakaan yang baru menjadi daya tarik tersendiri bagi anak-anak. Larangan berkunjung ke perpustakaan bukanlah keputusan yang tepat (sebenarnya). Namun, terpaksa dilakukan. Semoga, anak-anak dapat belajar memahami kondisi yang kadang tidak sesuai harapan. Dan jika suatu saat ada yang mempertanyakan keputusan saya itu, saya bisa ngeles. Bukankah Kirana dan Aqilaa saya tugasi untuk merapikan buku?
