Alhamdulillah, akhirnya terpasang juga. Walaupun belum semua. Baru yang di lantai 1. Yang di lantai 2 belum. Namun, setidaknya murid kelas 1 dan 2—yang menempati ruang kelas di lantai 1—sudah dapat memanfaatkannya.
Itu laporan yang saya terima Selasa (07/01/2025) siang. Menjelang asar. Saya sempat berharap, begitu asar tiba, yang di lantai 2 pun sudah terpasang. Dengan demikian, esoknya semua kelas tanpa kecuali sudah dapat memanfaatkannya. Namun, itu memang terhenti di harapan. Faktanya, Selasa itu tetap saja pemasangan tidak bisa diselesaikan hingga lantai 2. Saya bisa memahami situasinya.
Saya tetap mensyukurinya. Itu sudah sangat membantu. Bukankah kelas 1 dan 2 jauh lebih membutuhkan dibanding kelas 3—yang menempati ruang kelas di lantai 2? Dan ternyata murid kelas 3 jauh lebih dewasa dalam menyikapi keadaan yang mereka hadapi. Mereka sangat kreatif dan membanggakan. Kisah itu terabadikan di tulisan “Selalu Ada Cara”.
Ups, ternyata ada masalah baru. Itu temuan Bu Wiwik. Cantolan kapstok terlalu datar. Kurang bengkok ke atas. Terlalu berisiko jatuh bila menaruh celana di cantolan tersebut.
Apa yang mesti dilakukan?
Ganti kapstok baru yang lebih bengkok? Duh, itu sudah telanjur terpasang. Pun, baru saja pemasangannya. Murid-murid belum sempat memakainya. Jika hendak ganti baru, berarti kapstok yang sebelumnya harus dilepas dulu. Terus, kapan memasang kasptok baru? Yang sebelumnya saja menunggu antrean hingga beberapa hari. Bila begitu, berarti jadwal simulasi BAK/BAB harus mundur lagi. Hingga kapan?
Apa mencoba yang sudah terpasang itu dulu? Jadi, simulasi BAK/BAB bisa segera dijalankan. Ups, tetapi kalau ternyata cantolan kapstok tak berfungsi, bukannya itu malah makin ngribeti proses simulasi?
Lha, terus, gimana?
Rabu (08/01/2025) pagi saya harus segera ke kantor LPI Hidayatullah. Pukul 08.15—09.15 terjadwal kegiatan mengaji. Ya, semua unsur pimpinan LPI juga harus mengaji. Sekaligus memberi contoh kepada seluruh pengabdi. Terbagi dua kelompok: putra dan putri. Kelompok putra dibimbing oleh Pak Aris. Pesertanya tiga orang. Pak Eko, Direktur LPI. Pak Adi, Kepala Divisi Pembinaan Sumber Daya Insani. Saya, Kepala SD Islam Hidayatullah 02.
Kelompok putri dibimbing Bu Noffa. Pesertanya lima orang. Bu Suci, Kepala Divisi Kesiswaan dan Pembangunan Karakter. Bu Iin, Kepala PAUD. Bu Peni, Kepala SD 01—SD Islam Hidayatullah. Bu Nana, Kepala SMP. Bu Etik, Kepala SMA.
Menggunakan jilid dewasa—terdiri atas 3 jilid. Dilaksanakan secara klasikal. Capaian peserta dalam satu kelompok sama. Saat ini saya masih jilid 1 halaman 10.
Selesai mengaji, dilanjutkan rapat rutin. Terjadwal pukul 09.30—11.30. Di sela-sela rapat, saya membuka HP. Pukul 11.13 terkirim pesan di grup Sekolah. Pengirimnya: Bu Wiwik.
“Alhamdulillah, Bapak/Ibu, insyaallah kapstok yang sudah terpasang di kamar mandi sudah dibengkokkan cantolannya oleh Ustaz Adhit. Semoga kian mempermudah anak-anak dan kita semua dalam menjaga dari najis. Matur nuwun sanget, Ustaz Adhit, atas bantuannya.”
Sejak pagi saya disibukkan dengan rapat dan kegiatan di kantor LPI. Saya lupa akan masalah cantolan kapstok. Saya teringat begitu mendapati teman-teman telah memperoleh solusinya. Masyaallah! Sungguh ini menakjubkan saya.
Sekaligus saya sangat bersyukur. Masalah yang ditemukan Bu Wiwik akhirnya terselesaikan. Yang mengesankan saya, sedikit pun saya tidak terpikir solusi yang akhirnya dipilih teman-teman.
Ups, tak hanya itu. Tang yang dipakai untuk membengkokkan cantolan kapstok dibawa oleh Bu Wiwik dari rumah. Tak berhenti pada ide, Bu Wiwik sekaligus menyiapkan alatnya. Dan eksekutornya, Pak Adhit. Saya pun menduga, andai tidak ada pengabdi putra, tentulah Bu Wiwik sendiri yang mengeksekusi.
Masalah ditemukan, solusi dipikirkan, peralatan disediakan, eksekusi dijalankan (berkolaborasi dengan pihak lain). Tuntas. Dari penemuan masalah hingga penyelesaian masalah. Betul-betul menakjubkan. Terima kasih, Bu Wiwik. Terima kasih, Pak Adhit. Saya sangat mengapresiasi apa yang dilakukan Bu Wiwik dan Pak Adhit.
Astagfirullah. Ternyata saya tidak bisa apa-apa. Maafkan saya, Bu Wiwik, Pak Adhit! Saya hanya bisa mendoakan, semoga kebaikan Bu Wiwik dan Pak Adhit dibalas dengan kebaikan yang berlipat ganda oleh Allah Swt. Amin. (A1)
Baca Juga: Tuntas 100%
