Kamis, 05/09/24

Kali pertama anak kelas 3 melaksanakan latihan upacara. Sebelum menuju halaman, Bu Shoffa membagi tugas kepada anak-anak. Ada yang menjadi pengibar bendera, pemimpin upacara, pemimpin barisan, pembaca doa, dan lain sebagainya. Jumlah semua yang bertugas ada sepuluh anak.

Semua anak yang mendapat kesempatan menjadi petugas upacara sangat antusias. Namun, ada salah seorang anak yang merasa keberatan.

Loh bu, kok saya jadi pemimpin upacara, saya nggak bisa, Bu,” keluh Qaleed.

Saya pikir Qaleed masih belum percaya diri untuk menjadi pemimpin upacara. Ini tugas baru yang belum pernah Qaleed rasakan sebelumnya.

Saya menjawab, “Coba Bu Puput tanya. Qaleed tahu, gak, pemimpin upacara itu apa, sih?”

“Yang memimpin upacara, yang ada di tengah lapangan itu to, Bu?” tanya balik Qaleed, minta konfirmasi.

“Nah, tepat sekali. Jadi, gini. Karena seorang pemimpin itu memimpin jalannya upacara, maka pemimpin harus memiliki suara yang lantang dan sikap yang tegas,” jelas saya.

“Tapi, kan, suara saya gak lantang, Bu,” jawab Qaleed.

“Qaleed punya, kok, suara yang lantang. Sembari nanti berlatih dengan Pak Kukuh, pasti Qaleed bisa. Dicoba dulu, ya?” bujuk saya.

Sembari tersenyum malu-malu, Qaleed mengangguk mengiyakan. Seketika rasa lega menyelimuti hati saya. Alhamdulillah, setelah itu, saya lihat Qaleed dengan semangat berlari menuju halaman untuk latihan upacara. Semoga dengan kemauan dan kesungguhan, Allah memudahkan Qaleed dalam belajar menjadi sosok pemimpin.  Terima kasih, Qaleed sudah mau mencoba tantangan baru.

 

Baca juga: Tersenyum Kembali

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code