Selasa, 5 November 2024. Kelas 1 SD Islam Hidayatullah dan SD Islam Hidayatullah 02 mendapat jadwal City Tour. Adapun Seninnya, 4 November 2024, terjadwal kelas 2. Dan Rabunya untuk kelas 3.
Sekitar pukul 06.35, bus pengangkut anak-anak sudah terparkir rapi di depan Sekolah. Suara klakson bersahutan meramaikan suasana pagi itu. Anak-anak kelas 1, yang berseragam olahraga, antusias menanti saat keberangkatan ke tempat tujuan. Tujuan widyawisata kelas 1 tahun ini masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya:  Taman Kelinci, di Kabupaten Semarang.
Kegiatan diawali apel pagi dan berdoa. Setelah berdoa, anak-anak diarahkan untuk menuju tempat keberangkatan. Yups, keberangkatan dari SD Islam Hidayatullah. Di sana ternyata anak-anak SD Islam Hidayatullah belum berkumpul semua. Anak-anak SD 02 masih harus menunggu cukup lama.
Singkat cerita, bus pun berangkat. Sesampainya di Taman Kelinci, anak-anak datang dengan antusias. Walaupun demikian, alhamdulillah kedatangan mereka tetap kondusif. Mereka tetap mematuhi arahan dari Bapak Ibu Guru. Baris dan berjalan menuju tempat berkumpul pun dengan rapi.
Berbagai arena out bound telah dilalui. Hingga sebelum arena terakhir yaitu flying fox, anak-anak diajak untuk bermain meniti rintangan high rope. Semua anak berhasil melaluinya. Walaupun sebelumnya ada beberapa yang terjatuh dan menangis. Salah satunya adalah Ano. Dia sempat terjatuh saat melewati palang ganda dengan tali untuk pegangannya. Dia juga menangis dan enggan untuk mengulanginya kembali. Saya melihat langsung bagaimana ia terjatuh. Pegangannya pada tali kurang kuat sehingga badannya kurang seimbang dan akhirnya terjatuh.
Walaupun rintangan tidak terlalu tinggi, Ano saking takutnya sampai pecah tangisnya. Saya pegang tangannya lalu saya ajak ke tempat yang aman.
Ndak apa-apa, Ustaz juga dulu pernah jatuh dan sakit. Tapi Ustaz tahan,” tutur saya menguatkan Ano.
Ia masih hanyut dalam tangis dan ketakutannya.
“Yuk, coba naik lagi,” tawar saya.
Nggak mau, takut,” jawabnya sambil menggelengkan kepala.
“Coba lagi dengan berhati-hati, Ustaz nanti di bawah,” bujuk saya.
Dengan sedikit saya paksa, Ano pun mau mencobanya lagi. Dan berhasil melewati rintangan yang menjatuhkannya. Hingga selesai semua rintangan, Ano pun tersenyum.
“Alhamdulillah, bisa, kan?” tanya saya.
Dia mengangguk, tandanya sudah yakinlah Ano terhadap kemampuannya melewati high rope.
Beberapa saat kemudian, setelah semua mendapat giliran melewati titian rintangan high rope, anak-anak melanjutkan arena selanjutnya. Yaitu flying fox. Satu-satu anak-anak menaikinya dengan berbagai ekspresi. Ada yang tegang ataupun sebaliknya, dibawa happy aja.
Setelah flying fox selesai, anak-anak kembali bermain di sekitar arena high rope. Saya melihat anak-anak sepertinya masih ketagihan dengannya. Terlihat dari jauh anak-anak SD 02 yang meramaikannya. Termasuk Ano, yang semula takut karena terjatuh. Rupanya ia sudah menemukan keasyikan dari arena tersebut.
Luar biasa, Ano berhasil melawan rasa takutnya. Tangisnya tak mematahkan keberaniannya. Tak cukup sekali saja, ia masih penasaran dan mencoba untuk kali keduanya.
Sikap Ano patut diapresiasi. Seorang anak laki-laki yang seyogianya memang harus jadi pemberani, sempat terjatuh dan pecah tangisnya. Namun, tangisnya tersebut tak mematahkan mentalnya. Selamat, Ano, proses belajar memang begitu. Jatuh bangun, patah tumbuh, hilang dan kembali.
Semoga pengalaman Ano menjadi bahan belajar untuk Ano sendiri atau orang-orang yang mengetahui. Amin.
Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code