Bu Puput ditantang muridnya: sambung ayat tahfiz juz 30.

Semula Bu Puput bersyukur dengan kenyataan itu. Muridnya—Itaf, kelas 3—berarti sangat yakin dengan hafalannya. Indikatornya, Itaf berani mengajak gurunya berkompetisi. Beruntung Bu Puput sudah hafal juz 30. Ups, itu dulu. Dan sudah cukup lama Bu Puput tidak murajaah hafalan tersebut. Lalu apa yang mesti Bu Puput lakukan?

Menolaknya, memberi kesempatan Bu Puput untuk mempersiapkan diri. Berbekal sudah pernah hafal, tentu tidak butuh waktu lama bagi Bu Puput untuk mengingat kembali hafalannya. Namun, itu berisiko mengendurkan semangat dan motivasi muridnya.

Menerima tantangan Itaf berpeluang menguatkan semangat dan motivasi murid Bu Puput tersebut. Namun, ada risiko yang patut diwaspadai: Bu Puput gagal melanjutkan ayat yang disebutkan Itaf.

Dilema, tetapi tetap saja Bu Puput harus berkeputusan. Dan Bu Puput memilih menerima tantangan muridnya.

Baca juga: Wasilah Anak

Sambung ayat dimulai. Itaf mengawalinya. Bu Puput sempat deg-degan. Alhamdulillah, Bu Puput berhasil meladeni tantangan Itaf dengan baik. Semua ayat yang disebutkan Itaf berhasil Bu Puput lanjutkan dengan baik.

Ternyata tidak hanya kali itu saja. Di kesempatan berikutnya, berkali-kali Itaf mengajak Bu Puput sambung ayat. Namun, Bu Puput sudah jauh lebih siap. Sejak tantangan pertama, Bu Puput terpantik untuk murajaah juz 30 yang pernah Bu Puput hafal.

Suatu Ketika Itaf sambung ayat dengan Bu Puput. Surah An-Naba’. Di bagian akhir, Itaf keliru melanjutkan ayat. Bu Puput memberi tahunya. Itaf keukeuh dengan bacaan yang telah dilantunkannya. Sebaliknya, Bu Puput sangat yakin, Itaf keliru. Tapi Itaf telanjur keukeuh. Tak mudah memberi tahunya. Ups, Bu Puput menemukan ide. Bu Puput mengambil dan membuka mushaf. Bu Puput tunjukkan tulisan yang dibaca Itaf. Alhamdulillah, Itaf akhirnya menyadari dan mengakui kekeliruannya. Kemudian Itaf memperbaiki kekeliruannya. Bu Puput sangat lega.

Bu Puput menyaksikan sendiri perubahan muridnya. Dari keukeuh tidak menyadari kekeliruan menjadi menyadari kekeliruan. Dari keliru menjadi benar. Itulah proses belajar. Tak hanya pengetahuan yang perlu guru miliki, tetapi juga butuh cara untuk menyadarkan murid.

Baca juga: Empat Tugas Guru

Peristiwa itu Bu Puput ceritakan pada Senin (17/03/2025). Bu Puput merasa mendapatkan sesuatu yang sangat mengesankan dengan pengalaman tersebut. Belajar dari murid sekaligus mengajari murid. Seketika saya ingat ini: semua murid semua guru.

Baca juga: Guru-Guru Besar

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code