Rabu (19/02/2025), hari pertama saya membersamai anak-anak kelas 3. Sebelum bel masuk, Bu Shoffa menemui saya. Beliau meminta, saya yang menjelaskan keberadaan saya di kelas 3, dan Bu Shoffa di kelas 1. Saya mengiakan, meski sebelumnya, kami sempat bersepakat Bu Shoffa-lah yang akan menjelaskan. Bu Shoffa menyampaikan alasan yang logis.

Ada satu hal yang masih saya ragukan: pelaksanaan KBM hari itu. Bersyukur, Bu Puput dan Bu Shoffa sudah merencanakan program KBM yang hendak dilaksanakan hingga akhir pekan. Saya dan Bu Puput telah bersepakat mengenai pembagian mata pelajaran. Saya mendapat jatah Bahasa Indonesia, IPAS, dan Bahasa Inggris.

“Bu Puput, Bahasa Indonesia dan IPAS hari ini mau diisi (materi) apa?” tanya saya.

“Sudah disiapkan, Bu. Nanti saya saja yang mengisi.”

Saya lega. Bu Puput dan Bu Shoffa telah merencanakan dengan baik. Eksekusinya—oleh Bu Puput—pun terasa sekali Bu Puput telah menguasai materi. Hari itu, anak-anak diajak untuk mendeskripsikan cita-cita mereka dan apa yang sebaiknya mereka lakukan untuk mewujudkan cita-cita itu. Sebelumnya, Bu Puput menyiapkan foto anak-anak dalam versi dewasa. Dengan kostum yang menggambarkan cita-cita mereka.

“Anak-Anak, fotonya jangan dibuka dulu, ya. Nanti, bukanya bareng-bareng setelah semua foto terbagi,” pinta Bu Puput.

Anak-anak mematuhi instruksi Bu Puput. Meski penasaran, mereka tetap menahan diri.

“Satu. Dua. Tiga. Silakan dibuka!” perintah Bu Puput.

Suasana kelas menjadi riuh. Namun tetap terkondisi. Anak-anak saling melihat foto versi dewasa mereka satu sama lain. Anak-anak tampak antusias. Selang beberapa menit, anak-anak duduk di kursi masing-masing dan menyelesaikan tugas mereka. Beberapa anak mendatangi meja Bu Puput. Mereka bermaksud untuk menanyakan atau mengonfirmasi pemahaman mereka akan tugas yang diberikan.

Saya masih mengamati kondisi dan kebiasaan kelas 3. Jam pertama hingga keempat, Bu Puput yang menghandel kelas. Bahkan, berlanjut hingga Duha. Setelah Duha, saya baru mengambil kesempatan untuk berdiskusi dengan anak-anak.

“Teman-Teman, tadi Bu Wiwik mendengar ada yang bertanya-tanya, ‘Kok, Bu Wiwik di sini?’ Ada yang tahu, kenapa Bu Wiwik di sini?” selidik saya.

Hening.

“Jadi, Bu Wiwik di sini karena ditugasi oleh Pak Kambali.”

“Kalau Bu Shoffa di kelas 2, Bu?” tanya seorang anak.

“Enggak. Bu Shoffa di kelas 1. Yang di kelas 2: Bu Yunita dan Bu Indah.”

Diskusi pun mengalir. Entah dari mana asalnya, kami berlanjut membahas tentang pelaksanaan salat Jumat anak-anak.

“Saya pernah, Bu. Waktu salat Jumat, sebelah saya ada bapak-bapak. Bapak itu tanya, saya kelas berapa,” jelas Itaf dengan gaya khasnya.

“Terus, Itaf jawab gimana?”

“Saya jawab gini,” terang Itaf, sembari mengacungkan tiga jari tangan kanannya.

“Habis itu, bapak itu tanya lagi: sekolahnya di mana. Saya bingung jawabnya, Bu. akhirnya saya tidak menjawab.”

“Iya, Bu, saya juga pernah diajak ngobrol sama orang waktu salat Jumat. Terus, saya gini, lalu, gini,” sergap Langit, tak mau kalah.

Saat mengucap “gini” yang pertama, Langit menangkupkan kedua bibirnya sambil meletakkan jari telunjuk kanannya di depan bibir. Pada “gini” yang kedua, Langit menangkupkan jari jempol dan telunjuknya, lalu menggerakkannya dari sudut bibir kiri ke kanannya.

Seketika, saya tertawa terbahak melihat aksi lucu Itaf dan Langit. Anak-anak pun turut tertawa. Apa yang dilakukan Itaf dan Langit merupakan upaya mereka untuk bisa menepati salah satu syarat mengikuti salat Jumat, yakni tidak berbicara selama khotbah berlangsung. Pak Kambali, Pak Adhit, Pak Aruf, dan Pak Kukuh telah menjelaskan dan memahamkan syarat ini kepada anak-anak. Jika ada syarat yang dilanggar, pelanggar tersebut tidak diperkenankan mengikuti salat Jumat pada pekan berikutnya.

“Bu Wiwik menawarkan solusi untuk kondisi yang dialami Mas Itaf dan Mas Langit tadi. Kalau Anak-Anak bisa menjawab dengan isyarat dan isyarat tersebut masih dirasa sopan, maka lakukan. Namun, jika ada pertanyaan yang sulit dijelaskan dengan isyarat, Anak-Anak bisa begini,” terang saya, sembari menangkupkan kedua telapak tangan saya di depan dada.

Anak-anak menyimak dengan saksama.

“Nah, kalau setelah Jumatan kalian bisa menjelaskan, Anak-Anak bisa menjelaskan kepada orang yang bertanya tadi. Bilang aja, ‘Maaf, Pak. Saat khotbah, saya tidak boleh bicara.’ Habis itu, kalian bisa menjawab pertanyaan orang tersebut.”

“Kalau orangnya sudah pergi, gimana, Bu?” sergap Hafidz.

“Ya, nggak pa-pa. Yang penting Anak-Anak tidak bermaksud untuk tidak sopan. Pastikan, niat kalian diluruskan, bahwa tidak menjawab pertanyaan karena ingin memenuhi syarat salat Jumat.”

“Jadi, ada dua syarat yang mesti dipenuhi. Pertama, tidak berbicara, boleh menggunakan isyarat. Dan, pastikan tetap menjaga kesopanan,” tutup saya.

Hari pertama di kelas 3, saya merasa deja vu. Kelas 3 sekarang, masih sama dengan kelas 1, dua tahun yang lalu. Kelas yang gayeng kalau berdiskusi. Diskusi terus berlangsung seru. Bel istirahat yang mengakhiri diskusi siang itu. (A2)

Baca juga: Pengalaman Berharga 

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code