English Club kali ini (11/02/2026) spesial. Guru dan tendik turut bergabung. Dengan anak-anak. Saya bertugas mengampu di kelas 4. Terjadwal mulai pukul 14.15. Berhubung saya ada rapat hingga pukul 14.30, saya meminta bantuan Bu Eva dan Bu Puput untuk membadali sementara.
Usai rapat, saya menuju ruang kelas 4. Bu Eva dan Bu Puput tampak sedang membimbing peserta English Club. Begitu saya masuk kelas, beliau berdua menyerahkan kendali kepada saya. Agak memaksa. Saya nurut saja. Toh, keduanya memang saya minta untuk menggantikan sementara.
“Okay. Now, please count from 1 until 4. Start from Daffa,” pinta saya.
Di kelas yang saya ampu, terdapat sebelas murid dan lima guru-tendik: Bu Dian, Bu May, Bu Puput, Bu Eva, dan Bu Aza. Hitungan 1—4 tersebut saya maksudkan untuk membentuk empat kelompok. Tiap-tiap kelompok terdiri atas dua sampai tiga murid ditambah seorang hingga dua guru-tendik.
Kali pertama mengajar murid dan guru-tendik dalam waktu bersamaan, membawa kesan tersendiri bagi saya. Keberadaan para guru-tendik sangat membantu saya. Dalam pengondisian sekaligus sebagai tutor bagi murid-murid. Saya begitu menikmati suasana itu. Anak-anak terarah, belajar, dan terbimbing.
“Cemara, please come forward and spell this word!” komando saya. “Each group must guess the word spelled by Cemara. You can write down or just guess it without writing. Don’t forget to raise your hand before answering.”
“C-h-i-c-k-e-n,” eja Cemara dalam bahasa Inggris.
Bu Puput yang pertama mengangkat tangan. Beliau lantas menjawab dengan tepat.
Giliran Rendra maju ke depan. Ia mengeja huruf demi huruf dengan lantang.
“Pepper!” seru Daffa.
Kata ketiga dieja oleh Kirana.
Kelompok Daffa mencoba menjawab. Namun, jawaban mereka kurang tepat. Itaf dan beberapa peserta lainnya mengangkat tangan. Saya menunjuk Itaf.
“Sunglasses!” sahut Itaf.
Kata keempat dan seterusnya, sayalah yang mengeja. Para peserta berebut untuk menjawab. Mereka terlihat sangat antusias.
“I will spell the word faster. You’ve got to be focus. Are you ready?”
“H-o-s-p-i-t-a-l,” eja saya.
“F-l-o-w-e-r!”
Total ada 12 kata yang saya lempar sebagai umpan. Dan semua umpan itu ditangkap dengan cekatan oleh para peserta. Akhirnya kelompok Bu Puputlah yang menjadi pemenangnya.
Murid-murid tampak kecewa. Bukan karena mereka kalah. Namun, mereka tak ingin menyudahi permainan tersebut.
“Thank you, all. You have done such great thing. Please remember that it is just a game. When you are playing game, you must be…?”
“Happy!” sahut murid-murid.
“Are you happy?” tanya saya.
“Yes!” seru anak-anak dan para guru.
Bel penanda waktu asar bergema. Saya menutup kegiatan.
“After this, please prepare yourselves for wudu and do Asar prayer in musala A. See you!”
Saya menuju kamar mandi putri. Tak jauh dari ruang kelas 4. Di samping saya ada Bu Dian yang juga hendak ke kamar mandi. Bu Dian sengaja memperlambat langkahnya. Saya paham maksud beliau.
“Bu Dian duluan. Saya, kan, tidak salat,” jelas saya.
“Bu Wiwik dulu. Barangkali hendak buru-buru,” tolak Bu Dian.
“Mboten, Bu. Aman. Masih bisa ditahan.”
Bu Dian masih enggan. Beliau tetap mempersilakan saya. Kali ini, saya sedikit memaksa Bu Dian. Meski tampak ragu, akhirnya Bu Dian bersedia masuk ke kamar mandi terlebih dahulu.
Ini bukan kali pertama Bu Dian sengaja “mengalah”. Beberapa kali saya dapati beliau memberi kesempatan terlebih dahulu kepada saya dan/atau teman-teman lain. Pernah suatu ketika saat mengantre mengambil prasmanan, Bu Dian juga mempersilakan saya terlebih dahulu padahal beliaulah yang tiba lebih awal.
Bu Dian merupakan pengabdi termuda kedua setelah Bu May. Usia beliau masuk dalam kategori Gen Z. Sebagai seorang Gen Z, Bu Dian tak ingin tergerus zaman. Anti-mainstream. Bu Dian mempraktikkan sikap tawaduk. Sikap yang dianggap langka dimiliki oleh Gen Z. Semoga Bu Dian istikamah. Dan semoga kami dapat meneladan kebaikan tersebut.
