Jarum jam menunjukkan pukul 18.40. Usai membaca Al-Qur’an, saya membuka gawai. Beberapa pesan masuk. Dua grup baru langsung menarik perhatian saya: “Lapor☹” dan “Grup untuk lapor kelas 3”.
Saya mulai dari “Grup untuk lapor kelas 3”. Ada beberapa guru dan murid di sana. Tidak ada pesan. Grup ini dibuat oleh Hasna. Setelah itu, saya klik grup “Lapor☹”. Anggotanya hanya tiga orang: Hasna, Lintang, dan saya. Rupanya, grup ini dibuat oleh Lintang. Di dalamnya sudah ada beberapa pesan yang menunggu untuk dibaca.
“Assalamualaikum, Bu Guru. Saya ingin bercerita tentang musuhan lagi. Semenjak tadi, saya dan Lintang meminjam slime-nya teman. Tapi teman saya tidak membolehkan. Lalu saya dan Lintang marah. Mohon pesannya, ya, Bu,” tulis Hasna, dikirim pukul 18.35.
Tiga menit kemudian, Lintang juga mengirim pesan. Isinya sama persis seperti pesan Hasna. Hanya emotikon mereka yang berbeda. Saya tersenyum geli membacanya.
“Waalaikumussalam warahmatullah,” balas saya. “Kalian pinjam slime ke teman. Temannya gak ngizinin. Terus kalian marah? Begitu, Hasna? Betul?” tanya saya memastikan.
“Iya, Bu. Padahal Adia pinjam juga. Tapi dibolehkan. Padahal Adia sudah punya slime kayak punyaku dan Lintang. Tapi Adia dipinjamin. Apa bedanya dengan kita?☹️” balas Hasna kesal.
Saat itu azan Isya berkumandang. Saya pun mengajak mereka untuk salat terlebih dahulu.
“Nanti habis salat, kalian telepon Bu Guru, ya,” pesan saya.
“Ya,” jawab Lintang dan Hasna bersamaan.
Dua puluh lima menit berlalu. Saya kembali membuka obrolan.
“Sudah salat, belum?” tanya saya.
“Sudah,” jawab mereka serempak.
Saya pun menelepon mereka berdua. Hasna langsung aktif bercerita. Suaranya terdengar semangat dan khas. Sesekali saya menanggapi. Tapi Lintang hanya diam. Ikon speaker-nya pun dinonaktifkan.
“Lintang pasti di sana senyum-senyum sendiri, kan?” goda saya melalui telepon.
“Iya, Bu. Lintang biasanya begitu,” timpal Hasna dengan suara khasnya. “Tapi dia sering nge-chat, Bu,” sambungnya.
“Karena besok, kan, kalian libur. Insyaallah Bu Guru bantu besok Senin, ya?” izin saya.
“Iya, Bu,” jawab Hasna.
“Ada yang mau disampaikan lagi?” tanya saya sebelum mengklik ikon berwarna merah di telepon WhatsApp.
“Sudah, Bu,” jawab Hasna.
Saya mengakhirinya. Tak terasa percakapan kami berlangsung delapan belas menit.
Lintang termasuk anak yang pendiam. Dari kelas 1 hingga sekarang duduk di kelas 3, ia lebih sering berkomunikasi lewat ekspresi wajah dan gestur tubuh.
Lintang paling nyaman bersama Hasna. Sering kali Hasna membantu menyampaikan keperluan Lintang kepada guru: minta izin ke toilet, izin mengisi botol minum, dan sebagainya. Namun, semenjak kelas 3, kami memberi tantangan baru: berani izin sendiri. Meskipun harus bisik-bisik di dekat telinga guru. Mereka juga sering bersama. Seperti lem dan perangko. Kalau pun tidak bersama, biasanya ada sesuatu yang sedang tidak baik-baik saja.
Beberapa waktu lalu, Hasna dan Lintang sempat berselisih paham. Hingga membuat Lintang menangis ketika sampai di rumah. Dan berniat pindah ekstrakurikuler.
“Assalamualaikum, Bu. Nyuwun sewu, mau tanya. Kalau Lintang mau pindah ekstra bisa mboten, nggih?” tanya Ibu Sulistiyani Anjani Warih—ibunda ananda Lintang.
Keesokannya, saya mengumpulkan beberapa anak yang terlibat untuk tabayun.
“Lintang itu mau maafin kalau kita kasih barang atau jajan, Bu,” lapor Hasna.
“Betul, Lintang?” tanya saya memastikan.
Lintang hanya menggeleng.
“Hmmm!” dengus Hasna kesal, sembari matanya melirik ke sana kemari.
“Hasna kok bisa berpendapat seperti itu?”
“Karena saya, kan, pernah ada masalah sama Lintang. Waktu itu saya minta maaf. Tapi gak dimaafin Lintang, Bu. Besoknya tak kasih barang. Eh, dia mau maafin saya, Bu,” terang Hasna.
“Iya, Bu. Saya juga pernah kayak gitu,” lapor seorang anak. “Saya dikasih tahu Hasna. Terus pas minta maaf saya beri jajan. Lintang baru mau maafin,” imbuhnya.
“Benar begitu, Lin?” tanya saya lagi.
Lintang tetap menggeleng.
“Kalian minta maafnya habis kejadian langsung?” tanya saya.
“Iya, Bu,” jawab Hasna dan teman-teman serempak.
“Ooo. Mungkin pas kejadian, Lintang belum nyaman. Dia masih sedih. Makanya belum mau maafin,” terang saya.
Lintang menganggukkan kepalanya.
“Lintang, sih, diam. Makanya teman-teman membuat kesimpulan sendiri. Emang Lintang mau dikira teman-teman seperti begitu?” tanya saya dengan bercanda.
Lintang kembali menggeleng.
“Setelah ini, kalau ada apa-apa cerita, ya. Biar sama-sama nyaman,” nasihat saya. “Hasna, kalau ada apa-apa jangan membuat kesimpulan sendiri, ya. Disampaikan Bu Guru. Lintang juga. Ngomong, ya. Biar gak salah paham. Nulis di buku, ya, gak pa-pa. Tapi, Bu Guru lebih senang kalau Lintang bicara, sih. Jadi, Bu Guru bisa tahu apa yang dimaksud Lintang,” saran saya.
Diskusi hari itu diakhiri dengan senyum dan saling meminta maaf. Teman-teman lainnya saya izinkan keluar ruangan, kecuali Lintang. Saya mengajaknya berbincang berdua.
“Lintang, nanti mau ikut ekstra?” tanya saya.
Lintang menggeleng.
“Mau di kelas?”
Lintang pun mengangguk.
“Lintang, kalau ngaji, kan, udah keren, nih! Bersuara. Kalau di kelas juga bersuara, ya!”
Lintang hanya diam saja. Saya tunggu beberapa saat, tetapi tidak ada respons. Lalu, saya memberi tawaran untuk menuliskan perasaannya di gawai saya melalui chat. Masih belum ada respons. Akhirnya saya pamit ke kamar mandi sebentar. Dan ternyata, begitu saya kembali, ia sudah mengetik satu kalimat: “Karena malu saja, Bu.”
Saya tak kuasa menahan tawa kecil. Lintang, Lintang ….
Sebelum jam makan siang, saya melihat Lintang mulai berbaur lagi dengan teman-temannya. Dan, ya, … akhirnya Lintang tidak jadi pindah ekstra. Siang itu, ia juga tidak jadi tinggal di kelas. Ia mengikuti kegiatan ekstra bersama teman-temannya.
Dan, saya kembali belajar bahwa mendampingi anak-anak bukan sekadar soal mengajarkan pelajaran di kelas. Tetapi juga memahami perasaan yang sering kali tak terucap. Terkadang, cukup diberi ruang dan kepercayaan, mereka akan terbuka dengan caranya sendiri. Terima kasih, Lintang dan Hasna!
