Gemercik air meramaikan suasana wudu siang itu. Ditambah sahut-sahutan suara anak-anak yang sedang antre. Saya mendapat amanah untuk membimbing wudu murid kelas 1 secara klasikal. Sehingga secara langsung menyaksikan riuhnya suasana kala itu.
Usai wudu, anak-anak secara otomatis beralih ke kegiatan berikutnya. Mereka berdoa secara berjemaah. Sempat diawali dengan keributan. Mereka biasa menanyakan kepada saya siapa yang jadi kapten untuk berdoa. Walaupun sudah saya tentukan, mereka tetap memperdebatkan hal tersebut kepada sesamanya.
Wudu dan doa telah tuntas ditunaikan. Selanjutnya anak-anak memasuki ruang musala untuk melaksanakan salat Zuhur berjemaah. Azan pun berkumandang. Saat azan usai, anak-anak dengan sigap berdiri untuk melaksanakan salat sunah rawatib.
Usai salat sunah rawatib, sambil menunggu ikamah, beberapa anak mengobrol lirih-lirih dengan sesamanya. Namun, saya terfokus pada satu anak yang duduk di saf pertama dekat imam. Ia memunguti sampah-sampah kecil yang menempel di karpet. Tangannya yang mungil lincah memungutinya. Sempat melihat saya. Ia pun tersenyum seakan tersipu karena saya lihat.
Dia adalah Kaisar. Dengan senang hati, di tengah penantian ikamah ia menyempatkan diri untuk membersihkan karpet. Walaupun di tengah riuh teman-temannya yang mengobrol, ia tak terpengaruh.
Masyaallah, siang itu ada pemandangan yang menyejukkan. Tak saya sangka, anak yang lumrahnya senang bermain dan mengobrol saat merasa jenuh, Kaisar justru mengisi waktu dengan hal yang bermanfaat.
Baca juga: Spontan dan Mahal

