“Bu Wiwik sudah hafal doa kunut?” tanya Pak Kambali via chat WhatsApp.
Pesan itu saya terima pukul 05.33. Selang satu menit kemudian saya jawab, “Insyaallah, sudah, Pak.”
Hari itu (10/04/2025), merupakan hari pertama bagi seluruh pengabdi LPI Hidayatullah kembali bekerja setelah libur Lebaran. Pengabdi diminta hadir pukul delapan pagi.
“Saya meminta Bu Puput, Bu Indah, Bu Yunita, dan Bu Nika untuk bertemu di ruang KS. Hari ini pukul 07.00. Saya jadwalkan pembimbingan PIL (Program Induksi Lanjutan). Ternyata saya diminta datang ke LPI pukul 07.00. Rapat.”
“Saya mohon bantuan Bu Wiwik untuk membadali saya. Mendampingi teman-teman, PIL. Mulai pukul 07. 00.”
Pak Kambali lantas menjelaskan gambaran umum teknis kegiatan. Saya mengiakan permintaan (baca: instruksi) beliau. Meski instruksi, saya masih bisa menawar jika memang ada uzur. Bersyukur, saat saya membaca pesan tersebut, saya sudah menyelesaikan kewajiban rutin pagi saya di rumah. Tidak mudah membiasakan kembali—setelah libur panjang—rutinitas pagi agar sesuai dengan alokasi waktu yang tersedia. Beberapa hari ini, saya mulai mengusahakannya.
Pukul 06.58 saya menuju ruang Kepala Sekolah. Bu Puput, Bu Indah, Bu Yunita, dan Bu Nika mengekor di belakang saya. Pak Kambali masih berada di dalam ruangan. Duduk di kursi kerja beliau. Saya duduk di sofa single sebelah timur. Bu Puput dkk. menempati sofa panjang yang mestinya untuk 3 orang. Di sebelah kiri sofa panjang itu terdapat satu lagi sofa single. Saya menduga, Bu Puput dkk. menyisakan sofa kosong itu untuk Pak Kambali. Wajah keempatnya menyiratkan keheranan. Saya paham apa yang mereka pertanyakan dalam benak masing-masing. Hingga akhirnya….
“Hari ini, PIL-nya dengan Bu Wiwik, njih. Saya ada rapat di LPI,” ujar Pak Kambali.
Mendengar penjelasan Pak Kambali tersebut, wajah-wajah yang tadinya penuh tanya itu kembali netral. Bu Yunita pun segera berpindah ke sofa kosong tadi. Pak Kambali pamit. Kami memulai kegiatan. Al-Fatihah dilantunkan.
“Biasanya kegiatannya apa dulu, Bu?” tanya saya.
Teman-teman menjelaskan dengan detail. Kegiatan dilanjutkan dengan tahfiz surah Al-‘Âdiyât dan doa masuk rumah. Tak ketinggalan hadis niat kembali diulang. Alhamdulillah, teman-teman sudah hafal. Saatnya melanjutkan materi doa kunut.
Saya mencontohkan lanjutan bacaannya. Hanya satu kalimat. Saya ulang sebanyak tiga kali. Teman-teman mendengarkan sambil sesekali melirik teks yang mereka buka dari gawai. Alhamdulillah, kali ini pun hafalan teman-teman sudah baik. Masing-masing sudah memiliki bekal hafalan. Saya hanya mendampingi saja. Rangkaian kegiatan yang berlangsung selama kurang lebih 15 menit. Masih ada banyak waktu untuk melanjutkan ke kegiatan berikutnya.
“Bu, ini sambil disambi,” tawar saya.
Saya membuka beberapa stoples yang tersedia di meja. Kami menikmati kudapan yang ada.
“Sekarang kita lanjutkan dengan refleksi, ya, Bu. Boleh sambil menikmati (makanan) yang ada. Hari ini dilanjutkan pada poin G. Siapa dulu yang hendak menyampaikan?”
Bu Puput, Bu Nika, Bu Yunita, dan Bu Indah bergantian menyampaikan apa yang mereka alami. Poin G yang dimaksud adalah tentang sikap terhadap tata laku organisasi. Di dalamnya memuat beberapa indikator. Teman-teman memilih indikator kedua: menunjukkan kebersyukuran/kegembiraan menjadi bagian dari Sekolah/Lembaga/Yayasan.
“Waktu Lebaran kemarin, bapak saya menceritakan tentang pekerjaan saya kepada saudara-saudara, Bu. Beliau bersyukur, saya bekerja di tempat yang ngopeni ngaji. Meski sudah jadi guru, tetap harus belajar mengaji. Memang, saya sering bercerita kepada orang tua saya tentang kegiatan saya di Sekolah,” ungkap Bu Puput.
Tak jauh berbeda, Bu Yunita pun menceritakan seputar ngaji guru.
“Dulu, saat liburan, saya dan Bu Puput ngaji online dengan Bu Layla. Suatu ketika, ngaji-nya libur karena Bu Layla ada keperluan lain. Ibu saya yang waswas. Dikira saya lupa. Sebegitu berkesannya itu (mengaji) bagi Ibu,” terang Bu Yunita.
Baca juga: Ngopeni Ngaji
Tiada hari tanpa mengaji. Itu pula yang saya rasakan. Salah satu hal yang paling mengesankan bagi saya: di setiap ruangan dibacakan Al-Qur’an hingga khatam. Di gedung lama maupun gedung baru. Meski belum terlaksana di semua ruangan (gedung baru), harapan itu akan terus diikhtiarkan. (A2)
