Gagang pintu saya tekan lalu pintunya saya buka. Saya keluar dari ruang kelas 1 dengan perlahan karena kedua tangan saya penuh dengan barang bawaan. Di tangan kanan ada jurnal mengajar, buku jilid, buku ghorib, buku tajwid, dan tentunya mushaf Al-Qur’an. Dan tangan kiri membawa botol minum yang airnya tinggal setengah.
Hari itu, Selasa, 19 November 2024. BAQ Kelas 1 telah usai. Giliran kelas 3 yang saya ajar. Saat saya keluar dari ruang kelas 1, Fatih tiba-tiba muncul di depan saya. Saya tidak tahu kapan ia keluar. Tahu-tahu ia berjalan mendahului saya menuju ruang Musala, tempat saya akan mengajar BAQ kelas 3.
“Silakan, Ustaz,” tuturnya sambil membuka pintu musala.
“Masyaallah, terima kasih, ya, Fatih,” tanggap saya.
“Sama-sama,” jawabnya sambil berjalan kembali ke kelas.
Dugaan saya, Fatih melihat saya sarat dengan barang bawaan. Sehingga ia mengira saya akan kesulitan untuk membuka pintu sendiri. Akhirnya ia terpicu untuk membukakannya.
Fatih memang anak yang aktif. Ia sering gabut dan keluar kelas hanya untuk sekadar melepas kejenuhannya di dalam kelas. Sehingga ia kerap menjadi sorotan Bapak Ibu Guru dan staf TU.
Namun kegabutannya hari itu berfaedah. Ia berhasil membuat saya tertegun. Betapa seorang murid menunjukkan perhatiannya kepada gurunya. Bukan tanpa sebab. Ia melihat gurunya sarat dengan barang bawaan seolah kesulitan untuk membuka pintu. Maka, ia dengan senang hati membukakannya. Terima kasih, Fatih.
