Sabtu (17/05/2025), rombongan guru SD Islam Hidayatullah 02 bertandang ke rumah Sultan dan Khalifa. Ya, rombongan. Kami berenam. Saya, Bu Eva, Bu Shoffa, Bu Puput, Pak Adhit, dan Pak Aruf. Sekitar pukul sembilan, kami tiba di rumah Sultan dan Khalifa.

Rupanya, Bu Putri—ibunda Sultan dan Khalifa—belum pulang. Beliau adalah seorang dokter. Kami memahami betapa sibuknya beliau. Kami mengetuk pintu. Belum ada jawaban. Bu Eva memencet bel. Terdengar suara anak-anak dari dalam rumah. Selain Sultan dan Khalifa, ada juga Kaisar. Kaisar merupakan kakak tertua. Saat ini kelas 6 di SD Islam Hidayatullah.

Anak-anak riuh di dalam rumah. Mereka mengintip dari balik jendela. Mereka belum mau membukakan pintu. Mungkin malu. Khas anak-anak. Tak berselang lama, Bu Putri tiba.

“Maaf, Pak/Bu,” ucap Bu Putri, “Sudah lama menunggunya?”

“Kami baru datang, kok, Bun,” jelas Bu Eva sambil bersalaman dengan Bu Putri.

Beliau mengetuk pintu dan memanggil anak-anak. Ceklek. Salah satu dari ketiga putra beliau membukakan pintu.

“Mari, silakan masuk, Bapak/Ibu,” sila Bu Putri.

Kami dipersilakan duduk di sofa ruang keluarga. Anak-anak menyalami kami satu per satu. Kami pun berbincang. Bu Putri menyampaikan secara terbuka kondisi anak-anak di rumah. Dapat dibayangkan, memiliki tiga putra yang semuanya aktif, pasti butuh pendampingan yang luar biasa.

“Mas Kai dan Mas Sultan sudah ganteng. Sudah potong rambut. Kok, Mas Khalifa belum sendiri?” selidik saya.

“Iya, ini, Bu. Kemarin sudah diajak ke tukang cukur. Ndek—panggilan untuk Khalifa—malah ngambek tidak mau dipangkas rambutnya,” tutur Bu Putri.

“Dulu pernah Ndek dipangkas rambutnya. Habis itu dia nggak suka dengan hasilnya. Katanya nggak sesuai yang dia mau. Terus tukang cukurnya mau dilaporin ke polisi!” jelas Sultan, penuh semangat.

“Masyaallah. Betul begitu, Mas Khalifa?” tanya saya.

Khalifa meringis.

“Kalau begitu, Bapak Ibu Guru mau kasih PR buat Mas Khalifa. Nanti sore atau besok, atau sesempatnya Mommy, Mas Khalifa potong rambut, ya? Besok Senin, Mas Khalifa sudah tambah ganteng,” pinta saya.

Khalifa mengangguk. Masih sambil meringis.

“Kalau rewel atau masih tidak mau pangkas (rambut), dipangkas di Sekolah aja gak pa-pa, Bu Wiwik,” sergap Bu Putri.

“Oh, boleh, Mommy?”

“Boleh, Bu.”

“Oke, kalau begitu, besok Senin biar dipotong Ustaz Adhit aja,” goda saya.

Sepanjang obrolan bersama Bu Putri, ketiga bersaudara itu juga aktif ikut nimbrung dalam obrolan. Yang membuat saya kaget sekaligus kagum, ternyata Khalifa juga banyak bicara kalau di rumah. Berbeda sekali dengan Khalifa saat di Sekolah. Ia cenderung diam. Meski sekarang, diamnya Khalifa tidak sependiam dulu.

***

Senin pagi, dua pesan masuk ke grup WhatsApp kelas.

Pesan pertama berisi foto. Ternyata foto Khalifa.

“Assalamualaikum, Bu Guru. Ini Khalifah udah ready untuk sekolah tadinya, ternyata diare lagi, Bu. Perutnya gak enak. Izin gak masuk sekolah, nggih, Bu. ,” pinta Bu Putri.

Saya membalas pesan kedua itu dengan ekspresi simpati, izin, dan doa.

Saya kembali mengamati pesan pertama. Takjub! Ternyata Khalifa sudah tambah ganteng! Khalifa sudah memangkas rambutnya.

Segera saya ketuk opsi “reply privately”.

“Masyaallah. Padahal Mas Khalifa sudah pangkas rambut njih, Bun…,” respons saya.

Nggih, Bu Wiwik. Itu udah semangat mau pamer rambut baru makanya minta difotokan. Tapi malah sakit perut ,” jawab Bu Putri.

Selasa pagi (20/05/2025), yang dinanti-nanti akhirnya datang juga. Khalifa sudah sehat dan berangkat sekolah. Ketika salim, sesaat setelah apel pagi, saya tanya kondisi Khalifa. Ia pun menjelaskan kalau sudah sehat.

“Alhamdulillah, Mas Khalifa gantengnya sudah 100. Sudah potong rambut. Dan sudah menepati janji,” puji saya.

Khalifa meringis. Lantas berjingkat masuk ke dalam kelas.

Baca juga: Tuntas 100%

Ah, senang rasanya. Home visit yang selalu sarat makna. Kali ini, saya mendapat banyak oleh-oleh. Saya jadi tahu bagaimana aslinya Khalifa. Bagaimana interaksinya dengan kedua saudaranya. Dan mendapatkan pemandangan yang “ganteng”. (A2)

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code