“Oke,” bunyi khas mesin finger print saat sidik jari yang ditempelkan berhasil terbaca.
Langkah saya segera mengarah ke kelas 1. Aqilaa dengan wajah semringah menghampiri saya.
“Kita yang kedua, lo, Bu,” lapornya bangga setelah menyalami saya.
Saya tersenyum. Kemudian berbincang santai dengan Aqilaa dan Muti. Beberapa menit berlalu. Saya memutuskan untuk pamit sejenak, “Bu Guru mau salat Duha dulu, ya.”
“Oke, Bu,” jawab mereka serempak.
“Ada yang mau ikut?” tawar saya.
“Mau, Bu!” seru Aqilaa tanpa ragu.
“Saya juga mau, Bu,” sambung Muti, tak mau ketinggalan.
“Tapi nanti saat salat Duha kalian tetap ikut, kan?” tanya saya memastikan.
“Iya, Bu,” jawab Aqilaa. “Yuk, wudu dulu!” sambungnya.
Saya tersenyum kecil menyaksikan semangat mereka. Lalu melangkah menuju musala yang berada di lantai 2.
Rasanya seperti dejavu. Ah, benar saja! Ternyata, dulu di gedung lama anak-anak sering berinisiatif salat Duha sebelum bel pagi berbunyi. Kisah ini juga turut diabadikan: Dari Mengintip.
Sejenak saya berpikir. Ada sesuatu yang terasa hilang sejak kami pindah ke gedung baru. Mungkin karena saat di gedung lama ruangannya terbatas? Atau hal lainnya? Entahlah ….
***
Saat melipat mukena, saya mendengar langkah kecil mendekat. Aqilaa dan Muti masuk ke musala. Kemudian disusul Kirana. Saya menoleh. Lalu tersenyum menyambut mereka.
“Kita mau salat, Bu,” lapor Aqilaa.
“Alhamdulillah,” ucap saya, penuh rasa syukur. Seperti mendapatkan angin segar. Maklum, semenjak di gedung baru, baru kali ini saya menyaksikan pemandangan seindah ini lagi.
“Salat Duha sendiri apa disuruh, nih?” tanya saya, ingin memastikan.
“Sendiri, Bu,” jawab Aqilaa mantap.
“Berarti, Bu Guru tidak tahu?” kejar saya.
“Enggak.”
“Wiiih, keren! Terus, tadi siapa yang ngajak?” kejar saya lagi.
“Muti, Bu,” jawab Aqilaa, sembari menyenggol temannya yang kini tersenyum malu.
“Alhamdulillah, setelah sekian lama,” batin saya lirih. “Semoga kebaikan ini menular kepada teman-teman lainnya. Dan tumbuh menjadi kebiasaan yang penuh berkah. Amin.”
