Libur Lebaran akhirnya sampai di ujungnya. Rasanya baru kemarin suara takbir menggema. Kini gema lainnya yang memanggil: suara bel masuk sekolah. Hari Jumat (11/04), murid-murid mulai kembali ke sekolah meski hanya sebentar untuk kegiatan halalbihalal. Satu per satu wajah mungil itu muncul, masih lekat dengan semangat silaturahmi. Hari itu belum semua murid berangkat. Beberapa masih izin.
Kegiatan dimulai dengan berdoa seperti biasa.
“Kepala menunduk!” aba-aba kapten.
Suasana hening, khusyuk. Hingga terdengar ketukan pintu dari luar, “Tok-tok-tok!” Salah seorang guru membukakan pintu. Semua mata refleks menoleh.
“Masyaallah, Javier!” seru saya dalam hati.
Ia lantas masuk ke kelas, ditemani pengasuhnya. Tetapi yang membuat kami terdiam sejenak adalah tangan kanannya yang terbalut gips.
Rasa khawatir langsung merambat ke hati saya. Beribu pertanyaan muncul di kepala. Tapi saat kami saling menatap, Javier tersenyum. Senyum itu cukup untuk menguatkan saya. Seolah ia berkata, “Saya baik-baik saja, Bu.”
Teman-temannya pun penasaran apa yang terjadi pada Javier. Akhirnya kami lanjutkan dahulu acara halalbihalal bersama semua murid dan guru SD Islam Hidayatullah 02. Setelahnya, kami kembali ke kelas. Di kelas, murid-murid diberi kesempatan untuk bercerita setelah libur panjang. Hampir semua angkat tangan. Mereka tak sabar ingin berbagi cerita serunya.
“Sekarang, giliran Mas Javier,” sila saya.
Javier maju ke depan, membuka dengan salam, dan mulai bercerita.
“Waktu itu saya naik skuter. Terus jatuh di jalan,” katanya.
Rasa penasaran kami pun terjawab.
“Mas Javier nangis, nggak, waktu jatuh?” celetuk saya.
“Enggak,” jawabnya sambil menyeringai.
“Wah, serius, Jav? Javier kuat banget. Memangnya nggak sakit?” tanya saya penasaran.
“Sakit sedikit, sih, Bu. Tapi saya nggak nangis,” terangnya.
Beberapa pertanyaan lainnya juga muncul dari teman-temannya.
“Teman-Teman, kita doakan, ya. Semoga tangannya Mas Javier segera sembuh. Supaya Mas Javier bisa berkegiatan dengan nyaman lagi,” sambung saya.
“Amin,” sahut anak-anak.
“Nanti Javier makan sama nulisnya gimana, Bu?” tanya Ano.
“Sementara, Mas Javier boleh makan/minum dan yang lainnya pakai tangan kiri dulu gak apa-apa. Teman-Teman kalau mau membantu juga boleh.”
Namun, baru beberapa jam, saya sudah mendapat laporan kalau tangan Javier sempat tersenggol temannya. Sejak itu, saya lebih ekstra mengingatkan anak-anak, termasuk Javier, agar berhati-hati saat bermain.
Yang membuat hati saya terenyuh, Javier tak pernah sekalipun mengeluh. Tangannya boleh saja patah, tetapi semangatnya tetap utuh. Ia tetap bermain, tetap mengerjakan tugas, tetap tertawa. Jika merasa sangat kesulitan, ia baru menghampiri guru dan berkata pelan, “Bu, tolong.”
Hari pertama masuk sekolah setelah Lebaran ini mungkin singkat, tapi penuh pelajaran. Saya merasa disentil oleh Allah untuk memperbanyak syukur, menikmati alur kehidupan, juga memiliki semangat yang tak mudah patah—persis seperti Javier.
