“Berangkat lebih awal, ah. Hari Senin, pasti jalanan sangat padat,” batin saya.

Sebelum berangkat, saya sempat melirik arloji di lengan kiri saya. Menunjukkan pukul 06.04 WIB. Seperti biasa, saya berangkat ke sekolah dengan mengendarai sepeda motor. Saya menikmati perjalanan. Sesekali saya menengok ke kanan dan ke kiri, melihat-lihat kafe, toko, dan rumah-rumah yang saya lewati. Belum terlihat banyak pengendara yang melintas. Hanya embusan angin pagi menemani perjalanan saya.

Sebelum sampai sekolah, saya menyempatkan diri untuk membeli sarapan pagi. Jaraknya tidak jauh dari sekolah, tepatnya di samping gedung lama SDIH 2. Pukul 06.20 saya sampai di sekolah. Kondisinya masih sepi. Saya hanya melihat Pak Hendro, petugas kebersihan SDIH 2, yang sedang menyapu. Saya berjalan dari lobi menuju kelas.

Saya disambut oleh anak perempuan yang tersenyum sembari mengulurkan tangannya. Ia adalah Dea, si gadis pendiam. Dea anak yang sedikit bicara. Tetapi, sering kali aksi kebaikannya terkangkap oleh saya.

Saya memasuki kelas dan langsung menyantap sarapan yang saya beli tadi. Fathir memasuki kelas dengan mengucap salam dan menghampiri saya.

As-salāmu ˋalaikum,” ucapnya sambil mengulurkan tangannya.

Wa ˋalaikumus-salām.”

“Bu, saya puasa Syawal,” celetuknya.

“Masyaallah, keren. Fathir disuruh siapa puasa Syawal?” tanya saya penasaran.

“Enggak disuruh siapa-siapa. Kemauan saya sendiri,” jawabnya sembari merapikan buku dan alat tulis.

“Eh, tadinya ikut kakak saya, deh. Tapi, kakak saya enggak jadi puasa,” sambungnya.

“Terus, Fathir kenapa tetap mau puasa?”

“Kan, masih ada Mama dan Papa saya yang puasa juga.”

“Oh, begitu?”

“Tapi hari ini olahraga, loh. Kalau haus gimana?”

“Enggak pa-pa, Bu. Saya sudah biasa, kok. Kan, pas puasa kemarin juga bisa.”

“Alhamdulillah, kalau begitu.”

Usai merapikan buku dan alat tulisanya, ia mendekati saya.

“Fathir, Bu Yunita mau sarapan dulu. Fathir main di luar dulu saja, ya,” tawar saya.

“Enggak pa-pa. Bu Yunita makan saja.”

Saya tersenyum bangga. Bagaimana tidak? Fathir termotivasi oleh kakaknya untuk berpuasa Syawal. Padahal faktanya, sang kakak tidak jadi berpuasa. Namun, hal itu tak menyurutkan niat Fathir. Ia tetap ingin melaksanakannya. Masyaallah, Fathir keren!

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code